The Wiz

The Wiz
Chapter 23 : Mate



Barcus mendesah beberapa kali. Pikirannya begitu kalut dan rumit. Masih tidak bisa dirinya percaya, apabila hal aneh semacam itu akan terjadi. Yah, walau pun Camoline mengatakannya dalam bentuk sebuah pertanyaan acak yang mungkin tidak akan disadari oleh siapa pun, tetapi bagi Barcus itu berbeda. Pertanyaan Camoline itu adalah sebuah fakta baru yang membuat lehernya terasa tercekik.


Masih dengan perasaan yang penuh kebingungan, Barcus melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadi sang Kakak. Masa bodoh dengan kesibukan sang Kepala Akademi itu. Pikirannya tengah ruwet, dan ia ingin membagikan itu kepada Kakaknya. Satu-satunya orang waras— yang menurut Barcus— yang dapat diandalkan. Guru lainnya sama gilanya, menurutnya. Gila dan sulit berpegangan pada satu prinsip.


"Bukankah sudah kuperingatkan, kau harus mengetuk dahulu sebelum memasuki ruangan ini?" Zelden berkata dengan tenang. Kepalanya tidak bergerak, pandangannya tidak beralih, dan tangannya tetap bergerak menuliskan sesuatu di atas selembar kertas kekuningan dengan bantuan tinta yang dicelup. Barcus tidak menjawab. Ia hanya mengembuskan napas panjang sebelum melangkahkan kakinya menuju kursi kayu yang ada di pojok ruangan. Tempat yang biasa ia duduki ketika ingin mengganggu konsentrasi sang Kakak.


"Beritahu aku, hal paling tidak masuk akal tentang mate," ujar Barcus. Ia sudah menyamankan posisinya di atas kursi yang menjadi terlihat kecil di tubuhnya yang besar tersebut. Permintaan Barcus barusan, justru terdengar seperti perintah kepada Zelden.


"Tidak biasanya. Kamu tertarik pada hal-hal membosankan seperti itu?" tanya Zelden. Ia sudah meletakan kembali bulu angsa ke tempatnya. Kini, dirinya tinggal menunggu tinta di atas kertas itu hingga mengering sebelum menggulungnya.


"Ayolah. Aku sudah sangat bersiap untuk mendengarkan ocehan panjangmu itu," keluh Barcus.


Zelden terkekeh. Ia menatap adiknya itu dengan geli. Dilepasnya kacamata berbentuk lingkaran yang sejak tadi menempel di hidungnya. Helaan napas keluar dari mulut Zelden. Tidak menampik apabila bagian badannya terasa kaku setelah diharuskan membaca banyak surat laporan, juga membalas setiap surat yang diterima. Dinyamankannya posisi ia duduk, sebelum kembali menatap sang adik yang setia menunggu dirinya bercerita hal membosankan— seperti yang selalu Barcus katakan.


"Baiklah. Kamu ingin mendengar dari bagian mana?"


Barcus bergerak kecil dengan gusar. Tangannya yang sejak tadi menjadi sandaran kepalanya itu bergerak, kini saling bertaut dengan gerakan mata yang acak. "Ceritakan hal paling mustahil dari ikatan semacam itu," jawab Barcus.


Pria itu terlihat jelas tidak ingin kelepasan lagi, batin Zelden.


Zelden tersenyum teduh. Dirinya tidak akan memaksakan kehendaknya agar Barcus langsung saja bertanya perihal yang mengganggu pikirannya itu. Karena itu akan lebih baik dari pada menceritakan segala hal, tetapi jawaban yang diinginkan tidak akan pernah didapat.


"Hal mustahil, ya? Pasangan mate akan merasakan sakit yang sama, yang dialami pasangannya. Mereka memiliki kekuatan istimewa untuk bisa merasakan kehadiran masing-masing pada jarak tertentu. Hubungan mate tidak akan mudah dihilangkan, terlebih hanya dengan kalimat penolakan. Putusnya hubungan se-istimewa itu hanya akan  lenyap oleh kematian." Zelden mengambil jeda. Ia menatap ke arah Barcus. Kini pandangan mata adiknya itu terpusat pada lantai batu yang keras dan dingin. Sepertinya belum mendapatkan jawaban yang diinginkan.


"Mate hanya ada satu untuk satu manusia, dalam satu kehidupannya. Seperti yang terjadi pada kita berdua— kamu sudah jelas tahu tentang itu," lanjut Zelden.


Mata Barcus bergerak. Lalu perlahan, kepala Barcus bergerak untuk menatap ke arah Zelden. Sesuai yang Zelden duga, Barcus tidak menemukan jawaban atas perkataannya tadi. Adiknya itu, pasti memiliki pertanyaan yang jauh lebih kompleks dibanding perkataannya itu.


"Itu hal yang tidak bisa aku pastikan. Karena reinkarnasi sendiri, biasanya terjadi lebih dari 100 tahun— 400 tahun lebih tepatnya, setelah kematian seseorang," ujar Zelden.


Barcus langsung diam, membeku. Lebih dari 400 tahun. Itu sangatlah gila.


"Dan kamu juga, tahu apabila mustahil seseorang bisa hidup selama itu. Bahkan di tingkat tertinggi pun, hanya di angka 100 tahun saja, seseorang bisa bertahan hidup." Kepala Barcus langsung menoleh ke arah Zelden dengan raut wajah yang semakin rumit. Mendapati hal tersebut, bukan hal aneh apabila kecurigaan Zelden makin meningkat. Barcus mengetahui sesuatu hal yang besar, dan terlihat ragu untuk memberitahukan hal tersebut kepada Kakaknya.


"Baiklah. Terima kasih untuk cerita membosankan itu. Aku pergi dulu," ujar Barcus. Ia berdiri dari kursi itu, lalu melangkah keluar dari ruangan sang Kakak. Dari punggungnya saja, Zelden sudah dapat memastikan jika kepala Barcus semakin dipenuhi pertanyaan. Mungkin, pria yang lebih muda darinya itu baru saja mendapatkan secercah jawaban atas sesuatu yang mengganggunya, namun jawaban itu, tampaknya memunculkan pertanyaan lain.


Zelden mengembuskan napas panjang. Ia menunduk, memperhatikan tinta di atas kertas yang terkahir kali ia tulis. Tinta itu sudah mengering, sesuai dengan hitungannya. Dengan penuh kehati-hatian, ia menggulung kertas itu dan mengikatanya menggunakan seutas tali berwarna hitam. Surat itu akan diantarkan bersama beberapa surat lainnya. Ia hanya perlu memastikan, tidak ada satu pun surat yang terlewat atau bahkan buruknya, terlupa untuk dikirimkan.


"Tetapi jika memang ada, siapa yang bisa hidup lebih dari 400 tahun?"


Tanpa sadar, Zelden ikut memikirkan hal itu. Tangan kanannya yang hendak mengambil selembar kertas lainnya langsung terhenti. Ia memandang kosong ke arah wadah tinta yang tinggal seperempat botol itu. Kerutan mulai terlihat di dahinya, sebelum akhirnya, Zelden memilih untuk menepis prasangka-prasangka di dalam kepalanya barusan. Sangatlah mustahil apabila ada seseorang yang berhasil hidup lebih dari 400 tahun. Terkecuali, orang itu memang mendapatkan sebuah kutukan mengerikan dari Dewa, atau..., hal termustahil lainnya ialah mendapatkan kekuatan luar biasa yang mampu memperpanjang umurnya.


Akan tetapi, perihal mate yang ditanyakan oleh Barcus barusan. Itu cukup janggal. Barcus, adiknya itu, memilih untuk tidak pernah membahas lagi segala sesuatu hal yang berkaitan dengan mate semenjak kematian istrinya. Zelden dapat memaklumi bagaimana kesedihan Barcus kala pasangan hidupnya itu meninggal lebih dahulu. Zelden pernah merasakannya, jauh sebelum Barcus.


Sudah 30 tahun berlalu, dan ini adalah kali pertama bagi Barcus untuk mendengar hal tentang mate lagi.


Pasti ada sesuatu hal yang sangat penting, yang membuatnya berani bertanya tentang hal itu lagi. Zelden yakin tentang hal itu.


Lagi, Zelden menghela napas panjang. Ia memijat pangkal hidungnya, guna menghilangkan rasa penat di kepalanya. Setelah beberapa saat terdiam, barulah ia kembali membuka mata. Tangannya bergerak mengambil kembali kacamata berbingkai bulat itu. Tugasnya sebagai Kepala Akademi cukup banyak. Dan semakin banyak semenjak petinggi Istana itu datang, karena mau tidak mau, dirinya harus menanggapi setiap perkataan tidak berguna dari para petinggi itu.


Guna menjaga citra baik Akademi, Zelden mau tidak mau harus melakukan hal menyebalkan seperti itu.