The Wiz

The Wiz
Chapter 38. Asdus



Kerajaan Emerald. Sebuah kerajaan besar yang berhasil bertahan setelah peperangan mengerikan pada 500 tahun yang lalu. Bukan hanya berhasil bertahan, namun Kerajaan ini juga pada akhirnya berhasil menguasai seluruh dataran Elcar. Menjadi pusat kehidupan serta pusat pemerintahan. Dan Raja yang memerintah, menjadi Raja diraja. Begitu diagungkan dan dihormati oleh semua orang. Kekuatan Kerajaan ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Kisah mereka yang berhasil menaklukkan semua klan yang tersisa sudah menjadi bukti jika Kerajaan Emerald sangatlah kuat.


Dan juga menjadikan mereka yang mengendalikan sejarah di Elcar. Karena sejarah dibuat oleh sang pemenang, bukan?


Asdus. Dia adalah Raja yang begitu agung. Yang Mulia Maha Agung Raja Asdus, itu adalah kalimat lengkap yang harus diucapkan oleh orang-orang dengan kasta lebih rendah daripada dirinya. Para rakyat biasa, bahkan petinggi Istana pun harus menganggungkan Asdus setiap saat. Itu sudah menjadi peraturannya, dan tidak ada satu pun yang diperbolehkan untuk menolak atau bahkan melanggarnya.


Tujuh petinggi, termasuk sang Raja, merupakan orang yang disucikan di Istana ini. Dengan pakaian khas mereka, menjelaskan jika kasta ketujuh dari mereka sangatlah berbeda dengan orang-orang lainnya. Sekali pun orang tersebut merupakan pemimpin klan sekali pun.


Asdus, selain menjadi Raja yang sangat diagungkan, ia pun dianggap sangat luar biasa istimewa. Orang-orang terlebih keenam petinggi Istana percaya jika Asdus adalah keajaiban besar dari Dewa kepada umat manusia. Bahkan tidak sedikit yang menganggap jika Asdus telah mendapatkan berkah karena memenangkan pertempuran 500 tahun yang lalu dengan mendapatkan hidup kekal. Walau kabar tentang kekekalan Asdus hanya terkunci rapat di Istana saja. Karena mereka khawatir, akan ada orang berdosa yang mencoba menghabisi Asdus karena keberkahannya itu.


Walau yang sebenarnya terjadi ialah, Asdus mendapatkan kutukan mengerikan dari sang Dewa. Kutukan mate yang mengerikan.


"Tuanku yang Agung, Saya hanya memberikan pendapat saja. Akan lebih baik jika Yang Mulia menerima gagasan dari kami para tetinggi. Pernikahan Anda nantinya bisa memperkuat posisi Anda di Elcar ini, Yang Mulia."


Asdus tidak langsung menanggapi. Ia masih berdiri menghadap ke arah luar jendela, memunggungi salah satu petinggi Istana yang saat ini tengah berdiri dengan badan membungkuk ke arah dirinya. Asdus menghela napas panjang, membuat pria tua di belakangnya mulai merasakan panik. Tangan kanan Asdus perlahan terangkat. Ia menatap ke arah sebuah cincin perak yang melingkar jari manisnya itu.


"Aku bukan manusia tanpa mate. Kau tahu hal itu, bukan?"


Tubuh pria tua itu mulai bergetar ketakutan. Ia sudah salah berbicara. Sebenarnya bukan hal baru apabila pembahasan tentang mate akan begitu sensitif untuk Asdus. Dan pria tua itu sama saja sudah mencoba untuk bunuh diri dengan menanyakan hal tadi.


Tubuh Asdus secara perlahan bergerak. Ia memutar tubuhnya dan menatap ke arah pria tua itu. Dan saat ia sudah berbalik sepenuhnya, tubuh pria tua itu langsung jatuh bersujud di hadapannya. Dapat Asdus lihat jika pria tua itu begitu ketakutan.


"Ma-maafkan hamba yang hina dan bodoh ini, Tuanku yang Maha Agung. Ha-hamba begitu bodoh dengan mengatakan hal tadi," ujar pria tua itu. Asdus menatap pria tua itu tajam sebelum salah satu sudut bibirnya terangkat. Tentu saja, pria tua itu tidak akan bisa melihatnya. Karena kepala pria tua itu bahkan sudah menempel pada lantai marmer yang dingin.


"Aku memiliki mate, jadi kalian tidak perlu bersusah payah memikirkan hal semacam itu. Sekarang pergilah dan beritahu kawan-kawanmu, jika Dewa sudah mengirimkanku mate lagi," ujar Asdus. Dengan ragu-ragu, pria tua itu mengangkat kepalanya. Ia memandang Asdus beberapa saat sebelum tubuhnya tersentak dan menatap ke arah lain. Kepalanya mengangguk dengan cepat.


"Pergilah. Jangan ganggu aku hingga makan malam datang," ujar Asdus. Pria tua itu mengangguk dengan kuat. Ia segera bangkit dari posisi sujudnya itu. Dengan wajah yang bahagia, ia sekali lagi membungkuk penuh hormat kepada Asdus. Setelahnya, barulah pria tua itu berjalan meninggalkan Asdus sendirian di ruangannya. Seperti yang Asdus inginkan sejak tadi. Begitu pintu ruangan tertutup dengan rapat, Asdus menghela napas panjang. Sejujurnya, ia muak dengan mereka. Mereka termasuk pria tua tadi. Orang-orang yang hanya tahu caranya menjilat saja.


Asdus segera duduk di kursi kerjanya. Ia memperhatikan beberapa gulungan perkamen yang ada di bagian kiri mejanya, masih terikat rapi, dan menunggu untuk ia periksa. Namun, perhatian Asdus tidak berada pada kertas-kertas itu. Pandangannya sudah terkunci pada satu lembar kertas yang berisi data salah satu murid di Akademi Topaz. Data yang ia dapatkan dengan mudah berkat posisinya saat ini. Dan murid ini bukanlah murid yang berhasil menjadi penjaga Istana yang lalu, melainkan data murid yang berbeda.


Ini data dari seorang murid yang merupakan mate nya.


"Setelah sekian lama, akhirnya Dewa menghentikan kutukan sialan itu pada kita, sayangku," ujar Asdus pelan. Bibirnya langsung bergerak membentuk sebuah senyuman. Lalu tidak lama kemudian, kekehan terdengar dari mulutnya.


"Sudah sangat lama semenjak kau pergi dari hadapanku. Kepergian yang sangat tragis, aku akan menebusnya. Akan aku pastikan kau menjadi Ratu paling bersinar dan bahagia di Elcar. Aku akan menebus semua dosa di masa lalu. Tunggu aku, sayangku," ujarnya lagi. Ia mengecup cincin di jari manisnya. Cincin yang ia dapatkan dahulu ketika mempersiapkan pernikahannya dengan sang mate. Namun sayang, takdir malah membuat pernikahan mereka tidak juga terlaksana. Justru kematianlah yang menyambut pasangannya itu. Meninggalkan Asdus dalam kesepian dan penyesalan besar.


"Tidak akan ada yang berani melarangku membawanya. Dia adalah pasanganku, milikku. Tidak lama lagi, aku akan membawanya ke sini dan melaksanakan pernikahan yang seharusnya ada sejak lama." Asdus menghela napas panjang. Ia memejamkan kedua matanya. Mencoba mengingat kembali aroma memabukkan dari pasangannya itu. Aroma yang masih sama seperti 500 tahun yang lalu.


Sekarang, Asdus merindukan gadisnya itu lagi.


Kedua mata Asdus perlahan terbuka. Ia benar-benar tidak bisa menahan diri. Asdus berdiri dan mulai melepas jubahnya. Ia akan menemui pasangannya lagi. Seperti sebelumnya, ia akan melakukannya diam-diam, agar tidak ada yang curiga dan mencoba melukai pasangannya itu. Dengan kekuatan teleportasi yang sudah ia kuasai dengan baik, tubuh Asdus sudah menghilang dari tempat itu, dan kini berada di salah satu kamar asrama.


Dengan kekuatan sihirnya, Asdus mengunci rapat pintu kamar tersebut. Barulah ia berjalan menghampiri pasangannya yang tengah berbaring di atas ranjang. Meringkuk seperti bayi yang menggemaskan.


"A-Asdus?" Senyuman di wajah Asdus langsung terbit. Ia bahkan langsung mengusap kepala pasangannya itu.


"Hai, sayangku. Aku datang lagi karena merindukanmu," ujar Asdus. Berbeda dengan Asdus yang terlihat begitu bahagia, gadis di hadapannya terlihat cukup panik. Asdus dapat melihatnya, namun ia mencoba untuk tidak peduli. Dirinya benar-benar merindukan gadis ini. Setidaknya ia tidak nekat untuk membawa gadisnya ini ke Istana dan melangsungkan pernikahan saat ini juga. Sekali pun hal itu bukan hal yang mustahil mengingat posisinya yang sangat diagungkan.