The Wiz

The Wiz
Chapter 10 : Bertarung



Camoline menatap lekat Londer yang berada 2 meter di depannya. Entah kenapa harus berada di jarak sejauh ini, namun itulah yang Barcus perintahkan sebelumnya. Keduanya saling berhadapan tanpa melakukan apapun untuk memulai pertarungan yang direncanakan sebelumnya. Camoline memiringkan kepalanya dengan mata yang memperhatikan dua pria itu. Ia sendiri memang tidak berniat untuk benar-benar bertarung. Apalagi niat awal dirinya menghampiri Barcus, memang sekadar bertanya maksud dari halaman buku sejarah itu saja. Dan bertarung dengan calon pemimpin klan, adalah sesuatu yang membuatnya terkejut.


"Jadi, kapan pertarungannya akan dimulai? Aku akan kelelahan bila terus berdiri tanpa melakukan apapun," ujar Camoline. Londer menghela nafas panjang mendengarnya. Ia sebenarnya cukup ragu untuk melawan Camoline, meski gadis itu berada di tingkat yang lebih tinggi dibanding dirinya.


"Tuan Londer, kau bisa memulai pertarungannya. Serang Camoline dengan sepenuh kekuatanmu," ujar Barcus dengan nada memerintah. Dahi Londer mengerut mendengar hal tersebut.


"Anda yakin? Tapi Camoline, dia belum menguasai kekuatannya, bukan?"


Barcus terdiam. Ia mengusap-usap dagunya, terlihat tengah memikirkan ucapan Londer barusan. Lalu kepalanya mengangguk-angguk setelah melihat sebentar ke arah Camoline yang masih memperhatikan mereka. Ia berkata, "kau memang benar. Camoline masih sangat bodoh walau kekuatannya lebih tinggi dari dirimu, Tuan."


Camoline mendengus keras. Pertarungan aneh ini tidak akan segera dimulai, bila kedua pria itu terus saja berbicara. Mendiskusikan hal yang menurut dirinya sangat tidak perlu. Menghela nafas pelan, Camoline memejamkan matanya. Setelahnya, ia membuka mata dan mulai mengangkat tangan kanannya. Ia memfokuskan kekuatannya pada telapak tangannya, hingga tercipta sebuah bola air. Dengan gerakkan cepat, Camoline melempar bola air itu ke arah Londer dengan sekuat tenaga.


Bola air itu langsung mengenai bahu Londer dengan keras. Pria itu tentunya terkejut dengan apa yang baru saja menyerangnya. Berbeda dengan Camoline yang justru langsung berjongkok dengan kedua tangan yang diletakkan di kedua sisi tubuhnya. Jari-jemarinya menyentuh rerumputan, hingga fokus Londer kembali teralih pada sulur tanaman yang tiba-tiba mengikat kedua kakinya. Ini seperti, tanaman itu mengincar posisi air yang mengenai tubuhnya.


"Payah," ujar Camoline masih dengan menundukkan kepalanya.


Londer tidak diam saja. Ia mengeluarkan kekuatan api dari telapak tangannya untuk menghancurkan sulur tanaman yang mulai mengikat pinggangnya. Siapa sangka, sulur tanaman yang dikendalikan oleh Camoline ini mulai menyerap kekuatannya meski sedikit demi sedikit. Londer memang berhasil menghancurkan tanaman itu, namun tidak bisa menghentikan pergerakannya. Di sekitar tubuhnya ada rerumputan. Meski tanaman yang Camoline kendalikan, entah berasal darimana.


"Kau tidak akan bisa menghancurkan tanamanku," ujar Camoline. Saat ini, ia sudah mengangkat kepalanya. Sehingga terlihat jelas, kedua bola matanya yang berubah menjadi hijau. Ia tersenyum ketika Londer semakin kesulitan untuk menghentikan pergerakan dari tanamannya itu.


Mendengus keras, Londer mulai terlihat tidak bisa untuk bersabar. Kali ini, ia mengeluarkan lebih banyak kekuatan api. Ia menghanguskan sulur tanaman di sekitarnya hingga yang menyentuh tubuhnya. Ia memang berhasil menghentikan sulur tanaman agar tidak mengikat semakin kuat tubuhnya, namun tidak menghentikan pergerakan sulur tanaman yang mengarah padanya. Memfokuskan kekuatannya lagi, kali ini Londer mengeluarkan kekuatan larva-nya. Perlahan, larva itu membakar tanaman-tanaman yang ada di sekitarnya hingga hangus. Bahkan, sulur tanaman itu tidak lagi bergerak setelah mengenai larva tersebut.


Dahi Camoline sedikit mengerut, sebelum ia menghela nafas panjang. Ia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Tubuhnya perlahan berdiri, dengan pandangan yang menatap penuh pada Londer yang terengah-engah karena harus mengeluarkan banyak kekuatannya. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Iris mata kedua orang itu benar-benar sudah berubah. Camoline dengan warna hijau dan Londer dengan warna merah.


Namun, Londer tidak lagi diam seperti sebelumnya. Ia langsung menguapkan air itu dengan apinya. Air itu perlahan menghilang perlahan. Londer benar-benar kehabisan banyak energi hanya karena serangan dari Camoline ini.


"Apakah, ini karena perbedaan tingkatan?"


Barcus menatap balik ke arah Londer yang melirik ke arahnya. Ia mengangguk pelan. Sedikit ragu dengan pertanyaan Londer barusan. Bisa saja, memang karena tingkatan keduanya yang cukup jauh, atau ada sesuatu hal lain yang membuat perbedaan level itu begitu jelas. Karena dari pengamatannya sejak awal, Camoline seperti sudah sangat menguasai kekuatan yang ia miliki. Bukan dari cara gadis itu mengendalikan dua elemen yang dimilikinya, namun juga perubahan pada fisik yang begitu cepat. Karena sejatinya, butuh sekitar 1 menit untuk mengubah warna iris mata atau helai rambut sesuai elemen yang digunakan. Itu yang tercepat. Namun, Camoline dapat melakukannya kurang dari 20 detik.


Sekali lagi, Barcus kagum dengan Camoline. Gadis itu, seolah tidak ada satu hari saja tanpa sebuah kejutan.


"Fokus pada pertarungan ini, anak muda," ujar Camoline, mengalihkan atensi kedua pria itu kepadanya. Lagi-lagi, mereka dikejutkan oleh perubahan pada iris mata dan rambut Camoline yang menjadi emerald. Bersamaan dengan itu, hembusan angin di padang rumput itu perlahan menjadi kencang. Hingga dedaunan kering beterbangan di sekitar mereka dalam jangka waktu yang lama.


"Sebaiknya, kau meningkatkan kewaspadaanmu." Camoline kembali memunculkan genangan air dari bawah kaki Londer. Tanpa membiarkan pria itu melawan, Camoline membuat suhu di sekitar mereka menjadi lebih dingin. Menjadikan genangan air yang sudah menenggelamkan sepatu Londer membeku. Dalam hitungan detik saja, Londer tidak bisa mengangkat kedua kakinya sama sekali. Api maupun elemen larva yang dimilikinya, sekarang menjadi tidak berguna dengan kekuatan es milik Camoline.


"Aku, tidak akan mungkin kalah," gumam Londer. Ia mengeluarkan semua kekuatan dari dalam tubuhnya itu. Mencoba sekuat tenaga yang ia miliki untuk melelehkan kembali es Camoline. Es yang mirip seperti es abadi di puncak gunung Topaz, benar-benar sulit untuk dilelehkan. Begitu es-nya meleleh, Londer langsung terjatuh karena kelelahan. Peluh mengalir deras di dahinya. Kepalanya terangkat untuk memastikan keadaan gadis yang menjadi lawannya. Kedua matanya terbuka lebar, ketika mendapati Camoline yang sudah jatuh pingsan.


Barcus berlari menghampiri Camoline. Dibanding dengan Londer, justru gadis itulah yang paling banyak kehilangan energi. Barcus tidak pernah menduga, bila Camoline bisa mengeluarkan hampir semua kekuatannya.


"Tuan, sebaiknya Anda memulihkan kekuatan dahulu. Saya akan membawa gadis ini ke klinik agar bisa segera diobati," ujar Barcus. Ia yakin, Londer masih memiliki cukup energi untuk memulihkan kekuatannya.


Londer hanya mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk, menatap sisa-sisa air yang Camoline keluarkan tadi. Ia bisa merasakan dengan jelas, kekuatan besar yang Camoline keluarkan untuk menahan kekuatan api-nya. Menghela nafas panjang, Londer menatap langit yang cerah. Pertarungan pertamanya di akademi ini benar-benar membuatnya berkesan. Selain karena lawan pertamanya adalah seorang gadis, juga karena kekuatan tidak terduga yang ia dapatkan dalam pertarungan.


"Siapa sangka, pertarungan ini membuatku berada di level 35," gumam Londer lalu terkekeh pelan.