The Wiz

The Wiz
Chapter 15 : Petinggi Istana



Hari yang selalu dibicarakan itu akhirnya tiba. Para murid yang sudah berbaris rapi di sisi kanan dan kiri karpet merah yang tergelar, tidak dapat menahan diri untuk mengintip pada rombongan dari Istana. Peristiwa yang sebenarnya hampir sering terjadi pada tiap tahunnya, namun tetap menarik rasa penasaran orang-orang. Meskipun, para petinggi Istana dikenal sangat angkuh dan sombong.


Di antara kerumunan orang-orang berseragam biru-putih, khas akademi Topaz, Camoline berdiri tepat di sebelah Londer. Cukup mengejutkan, karena pria itu tidak ikut menyambut secara langsung di pintu gerbang akademi bersama para pangeran klan lainnya. Mungkin, ini karena Camoline yang tidak benar-benar tahu apapun tentang klan Chromos. Klan yang selama ini selalu ia hindari di kehidupan sebelumnya.


"Aku masih tidak bisa mengerti, alasan kenapa kamu tidak mengikuti mereka? Maksudku, menyambut para petinggi Istana itu?" Londer melirik sebentar ke arah Camoline, sebelum mengeratkan genggamannya.


"Klan Chromos adalah salah satu klan netral yang tidak boleh terlalu berpihak pada orang-orang di Istana. Tapi, seperti yang sudah kau ketahui, Ayahku melakukan pelanggaran yang menurutku berat," jelas Londer. Ia mengusap kepala Camoline lembut.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Kau akan semakin menyusut nantinya." Camoline mendengus keras. Ia menepis tangan Londer yang ada di atas kepalanya.


"Sialan."


Pandangan Camoline kembali teralih ketika para prajurit yang tengah berjalan melewati barisan mereka. Sudah dapat dipastikan, seberapa tinggi para orang-orang Istana itu diagungkan di tempat ini. Meski banyak hal yang membuat Camoline tidak mengerti alasan dibaliknya, ia hanya merasa bila kesuksesan akademi ini terdapat campur tangan para petinggi Istana itu.


Hari ini, seperti yang sudah beredar luar sebelumnya, para petinggi Istana yang terdiri dari 7 orang itu memakai jubah kebesaran berwarna putih gading dengan ukiran pheonix yang dijahit dengan benang berwarna emas. Di kepala mereka, terpasang sebuah topi yang sedikit tinggi dengan ukiran sama. Terlihat aneh menurut Camoline. Terutama satu-satunya orang yang memakai topi paling tinggi. Tampaknya, orang itu adalah ketua mereka.


Mata Camoline terbuka lebar, tanda dirinya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya ia kedip beberapa kali. Hingga akhirnya ia berhenti melakukan hal aneh itu setelah yakin bila ini bukan ilusi. Pria yang berjalan paling belakang, dengan pakaian termewah dan topi paling tinggi itu. Juga tongkat kayu yang terdapat batu permata di kepalanya. Orang itu adalah orang yang sama di masa Camoline. Ia tidak akan percaya dengan penglihatannya hari ini. Seseorang bisa hidup lebih dari 500 tahun, itu adalah hal paling mustahil di hidupnya.


Kepalan tangan Camoline menguat. Tanpa sadar, tubuhnya bergetar. Londer yang berdiri di sebelahnya, menoleh dengan dahi mengerut dalam. Tidak ingin bertanya, ia mengusap tangan kiri Camoline di sebelahnya dengan lembut. Perlahan, Camoline mulai terlihat tenang. Gadis itu mengambil napas perlahan.


"Kau merasa lebih baik?" Camoline hanya mengangguk pelan. Ia kembali menatap ke arah depan. Menatap kembali rombongan di depannya. Mungkin, terlalu lama mati membuatnya tidak mengetahui apapun. Atau, karena dulu di masa hidupnya yang pertama, ia terlalu lugu dan bodoh. Sehingga, Dewa memberikannya kesempatan untuk hidup lagi agar tidak melakukan kesalahan yang sama.


Yah, anggap saja bila dirinya yang dulu adalah seseorang yang sangat bodoh. Camoline menetralkan wajahnya dengan cepat. Ia tidak ingin ada seorangpun yang curiga dengan raut terkejutnya. Dirinya bisa saja memamerkan kekuatan di dalam tubuhnya berkat bantuan batu Opal itu tanpa memikirkan konsekuensi apapun. Namun, ia akan berpikir ribuan kali untuk memberitahu kehidupannya yang dulu. Baginya, itu adalah sesuatu hal yang tidak perlu diperbincangkan dengan orang lain.


Setelah rombongan itu pergi ke dalam sebuah ruangan, mengikuti kepala sekolah Zelden, para murid langsung diarahkan ke ruang aula oleh para guru. Tampaknya, para petinggi itu akan langsung menilai kemampuan para murid dengan cepat tanpa mau menunggu waktu lama. Itu lebih baik, pikir Camoline. Dengan begitu, ia bisa memastikan apakah ingatannya masih berfungsi dengan benar atau tidak.


"Kau akan mengikuti kegiatan itu?" Kepala Camoline menoleh sebentar ke arah Londer. Hanya memastikan apakah pria itu bertanya pada dirinya atau tidak. Setelah mendapati Londer tengah menatapnya, Camoline kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang akan mereka lalui. Jangan sampai, dirinya malah menabrak tembok karena tidak memperhatikan jalan di depannya.


"Kurasa, kali ini berbeda. Beberapa pangeran dari klan lain membicarakan hal ini. Dan juga Ayahku. Kemarin, dia mengatakan bila para petinggi ingin mencari orang yang benar-benar berbakat. Bukan sekadar kuat saja," jelas Londer. Yang mana mendapatkan anggukan dari Camoline. Gadis itu terlihat berpikir keras. Apakah mungkin, ini bisa menjadi salah satu cara untuknya balas dendam?


Mungkin, Dewa tengah sangat kesal pada kehidupan dirinya yang pertama.


"Aku merasa tertarik. Terlebih, aku sudah pernah mengalahkan dirimu sebelumnya. Seharusnya, ini bukan sesuatu yang sulit. Hanya sekadar tes, bukan?" Londer mendengus pelan namun, tak ayal ia mengangguk membenarkan. Kejadian yang sudah lama terjadi itu, sebenarnya tetap saja membuatnya malu. Namun, ia masih memiliki alasan bila level Camoline benar-benar jauh di atasnya. Setidaknya, julukan pecundang itu tidak bisa langsung disematkan pada dirinya.


"Dan entah kenapa, aku sangat yakin bila mereka akan langsung membawamu ke Istana," ujar Londer. Camoline mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Justru baginya, itu akan semakin mudah untuk rencananya. Bersembunyi tepat di bawah ketiak musuh, lalu menusuknya tanpa mereka duga. Tanpa disadari, Camoline menyunggingkan senyumannya. Londer yang melihat itu mengerutkan dahinya. Ia penasaran. Namun, pria itu memilih diam ketika menyadari sudah berada di aula yang menjadi tujuan mereka.


Dengan segera, keduanya berjalan memasuki aula secara bergilir. Beberapa orang yang tertarik dengan acara penunjukkan kemampuan, mengambil secarik kertas putih yang merupakan nomor urut peserta. Tanpa merasa ragu lagi, Camoline menarik salah satu kertas itu lalu membawanya serta ke arah tempat duduk yang sudah dipersiapkan.


Begitu para murid sudah duduk, para petinggi serta beberapa guru mulai memasuki aula. Tampaknya, mereka benar-benar ingin menyelesaikan semua ini dengan sangat cepat.


Satu hal yang membuat Camoline terus menatap curiga ke arah para petinggi Istana itu. Gerak gerik mereka. Itu terlalu aneh. Dari gerakkan mata mereka, Camoline dapat memastikan bila mereka seperti tengah mencari seseorang. Entah siapa. Hingga, Camoline termenung. Ia menatap kertas nomor urutnya dengan tangan bergetar. Bodoh. Ia melakukan kebodohan lainnya lagi. Seharusnya dirinya sadar, ada yang aneh dengan kedatangan para petinggi yang tiba-tiba itu. Karena, sudah pasti mereka menyadari bila dirinya kembali dihidupkan oleh Dewa.


Terlebih satu orang itu. Satu-satunya penyihir yang mengetahui berkat yang ia miliki dari Dewa sejak lama.


"Rupanya, mereka sudah mulai sadar?" gumam Camoline. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Setelah dirasa cukup, Camoline menegakkan tubuhnya. Ia memang akan membalaskan dendam atas peristiwa 500 tahun silam. Namun, ia juga tidak akan membiarkan mereka semakin mudah mendapatkan apa yang diincar selama ini. Mungkin, Camoline harus benar-benar serius kali ini.


"Hei, ini untukmu. Aku dengar, kau sangat berbakat," ujar Camoline pada siswa yang tidak ia kenal di sebelahnya. Pria itu mengerutkan keningnya. Seharusnya, ia yang melakukan itu pada Camoline.


"Kau serius dengan ucapanmu? Kau bahkan lebih baik daripada diriku," ujarnya yang langsung dijawab dengusan keras dari Camoline.


"Aku masih bodoh. Sudahlah. Aku yakin, kau bisa mengembangkan bakat dirimu menjadi lebih baik. Daripada diriku, yang hanya memiliki kekuatan tinggi tanpa kemampuan yang baik." Kali ini, Camoline mau tidak mau harus menghina dirinya sendiri. Setidaknya, rencana dirinya kali ini berhasil.


"Baiklah. Kau memang benar. Aku lebih baik dari dirimu." Camoline menahan diri untuk tidak terlihat jengah. Walau di dalam hatinya sudah sangat ingin berteriak bila pria yang ia ajak bicara ini adalah murid terbodoh di akademi. Yah, setidaknya untuk hari ini saja ia melakukan hal ini.