
"Tuan Barcus," seru Camoline ketika dirinya berada di belakang halaman sekolah. Seharusnya, pria itu ada di tempat ini seperti kemarin. Namun hingga saat ini, ia belum bisa menemukan pria berbadan buncit itu.
"Ah, bocah aneh. Kemarilah!"
Camoline mendengus pelan, namun kakinya tetap berjalan mengikuti arahan Barcus. Satu hal yang disadari Camoline sejak ia menginjakkan kaki di sini ialah, pepohonan di tempat ini jauh lebih banyak dibanding kemarin. Sekitar 10 pohon baru terlihat, membuat padang rumput di sini lebih sejuk.
"Kau tidak mengikuti kelasmu, bocah aneh?" tanya Barcus begitu Camoline berhenti tepat di hadapannya. Sekali lagi, Camoline mendengus. Ia mengambil duduk di batang pohon yang ada di hadapan Barcus.
"Tidak. Pelajaran itu sangat tidak sesuai dengan elemen yang aku kuasai, sehingga aku diusir keluar kelas," ungkap Camoline. Barcus tertawa mendengarnya. Satu nama yang langsung melintas di kepalanya ialah Azura. Wanita tua itu memang ahli dalam mengusir murid tanpa sebab.
"Lalu? Kenapa kau menghampiriku?" Camoline menyerahkan buku tebal yang ia bawa sejak tadi. Membuka tepat di salah satu halaman yang mengganggu pikirannya sejak ia menemukan buku ini. Barcus mengerutkan dahinya ketika melihat buku yang Camoline serahkan. Buku yang terlihat sangat familiar di matanya.
"Aku menemukan ini setelah jam pelajaran tuan Zelden. Tidak tahu siapa pemiliknya. Namun, bukan itu yang penting. Aku penasaran dengan maksud di halaman ini," ujar Camoline. Barcus mengangguk mengerti. Ia membaca halaman itu sekilas, lalu menatap Camoline kembali.
"Tidak ada yang salah. Memang benar, bila Klan putih yang memimpin dunia saat ini."
Camoline membuang muka. Mana ada Klan kembali hidup setelah semua anggota klan dibantai habis oleh lawan? Lelucon macam apa ini? Camoline benar-benar merasa marah dengan pernyataan yang palsu ini. Seseorang, salah satu kaki tangan Asdus pasti mengubah kenyataan sejarah. Ya, pasti seperti itu.
"Ada yang salah, Camoline?"
Camoline mengerjapkan kedua matanya, lalu menoleh ke arah Barcus setelah raut wajahnya berubah. Mengatakan siapa dirinya dalam waktu yang cepat ini bukanlah tindakan yang baik. Akan ada banyak hal buruk yang terjadi bila dirinya nekat melakukan hal itu. Itu yang Camoline pikirkan selama ini. Sehingga saat ini, dirinya memasang wajah polosnya.
"Bisa kau beritahu, siapa orang yang menulis ini?" tanya Camoline. Barcus tertawa mendengar pertanyaan bodoh dari Camoline. Ya, baginya pertanyaan Camoline benar-benar bodoh. Bahkan tanpa merasa bersalah sedikitpun, ia memukul pelan kepala Camoline dengan buku tebal yang ada di tangannya itu. Tentu saja Camoline langsung meringis setelahnya. Ia mengusap kepalanya beberapa kali.
"Tingkat level-mu boleh saja tinggi, namun otakmu tidak ikut serta denganmu," ujar Barcus dengan sarkas. Camoline mendengus. Ia menyesal bertanya hal seperti itu meskipun hanya itu yang ada di kepalanya agar Barcus benar-benar tidak curiga pada dirinya.
"Kalimat itu sangat menyakiti kedua telingaku." Barcus bergidik acuh. Ia tidak mempedulikan hal itu. Meletakkan buku tebal itu di sebelahnya, ia menatap Camoline dengan raut wajah yang lebih serius dibanding sebelumnya. Membuat Camoline langsung menegakkan tubuhnya.
"Kali ini, biarkan aku menyampaikan beberapa hal yang mengganggu pikiranku sejak kemarin." Camoline mengangguk, mempersilahkan Barcus untuk bicara apapun itu. Barcus menoleh ke sekeliling, seolah memastikan agar tidak ada siapapun yang mendengarnya. Tampaknya, percakapan ini benar-benar harus rahasia.
"Kau sendiri sudah mengetahui, bila kemampuanku adalah bisa melepas kekuatan siapapun dan melihat kekuatannya dari dalam. Tapi, aku melihat ada yang berbeda dari dirimu. Katakan padaku, bila di dalam tubuhmu itu bukan batu Opal yang sedang dicari banyak orang." Raut wajah Camoline menjadi datar. Dugaannya benar, bila Barcus bisa melihat batu itu. Meski ia tidak yakin sejelas apa Barcus melihatnya.
"Kau baru menyerap sebagian kecil dari batu suci itu. Baru satu warna saja, benar?" Camoline tidak menjawab apa-apa. Ia masih memperhatikan dengan Barcus dengan raut wajah datarnya.
"Kau benar-benar dalam bahaya besar bila Klan Putih mengetahui hal ini. Sebelum itu terjadi, kau harus bisa menyerap lagi kekuatan di batu itu. Anggap saja, aku orang gila. Namun, aku sangat yakin bila Klan Putih memiliki niatan buruk bila batu itu sampai di tangan mereka. Meski membiarkan batu itu terus ada di dalam tubuhmu, itu hal yang cukup baik. Namun akan sangat baik, bila kau bisa menyerapnya serta," jelas Barcus. Camoline mengedipkan matanya beberapa kali. Ucapan Barcus ini membuatnya sangat yakin bila Asdus-lah dibalik semua ini.
"Asdus. Apakah dia masih hidup?"
Butuh beberapa detik untuk Barcus mencerna ucapan Camoline ini. Sebelum akhirnya, ia mengangguk membenarkan.
"Kau bereinkarnasi? Jelaskan apa yang terjadi pada zaman dirimu dulu." Camoline menghela nafas panjang. Baru saja dirinya akan bicara, namun seseorang malah mendekat ke arah mereka. Masih begitu jauh, namun Camoline dapat merasakannya dengan jelas. Setelah meningkatkan kemampuannya dengan membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan, kini tingkat kewaspadaannya meningkat cukup tinggi.
"Akan kukatakan nanti. Seseorang datang," ujar Camoline. Barcus mengangguk mengerti karena dirinya merasakan hal yang sama. Keduanya saling bungkam hingga terjawab siapa yang datang menghampiri.
Camoline mendengus pelan ketika melihat siapa yang datang. Ia mengalihkan pandangannya pada buku yang ada di sebelah Barcus lalu mengambilnya. Bohong bila dirinya mengatakan buku ini ia temukan tanpa mengetahui siapa pemiliknya. Karena sekali menyentuh saja, ia langsung tahu siapa tuan dari buku ini. Dan secara mengejutkan, orang itu menghampirinya. Langsung saja, Camoline mengulurkan buku itu, begitu orang itu berhenti tepat di sebelahnya.
"Aku tidak mengatakan apapun," ujar Londer. Ya, orang yang datang itu adalah Londer Chromos. Camoline berdecak. Ia semakin mendekatkan buku itu pada Londer, membuat si pria mau tidak mau harus menerimanya.
"Agar kau segera pergi dan aku bisa meningkatkan kekuatanku lagi," ujar Camoline dengan nada malas. Londer menggedikan bahunya tidak peduli. Ia malah duduk tepat di sebelah Camoline. Membuat gadis itu semakin kesal.
"Tuan Barcus, hari ini aku ingin mengambil kelas-mu," ujar Londer. Camoline menatap Londer tidak percaya. Ia berdecak kesal, berdiri lalu hendak meninggalkan Londer. Namun, pria berambut kemerahan itu menahannya.
"Dan tampaknya, akan sangat bagus bila kita bisa belajar bersama," ujar Londer sembari menatap Camoline.
"Tidak. Kekuatan kita berbeda jauh. Saling berlawanan. Itu bukan—"
"Itu ide yang bagus, menurutku. Kalian bisa saling bertarung untuk mengetahui kekuatan masing-masing dengan pasti," ujar Barcus memotong ucapan Camoline. Camoline menghela nafas panjang. Meski sebelumnya, ia pernah melawan salah satu penyihir dari klan Chromos, namun ia tidak yakin masih bisa melakukannya. Terlebih, lawannya kali ini adalah penerus pemimpin klan.
"Baiklah. Aku memang harus mengetahui kemampuanku," ujar Camoline yang sebenarnya sangat terpaksa. Londer tersenyum tipis. Entah kenapa, perasaan pria itu menghangat, terutama ketika matanya melihat ke arah tangannya yang masih menggenggam tangan Camoline tanpa ada penolakan dari gadis itu.