The Return of Love

The Return of Love
73



Tidak ada luka yang tak akan sembuh, tak ada kisah yang benar-benar berakhir, semua masih berjalan seiring waktu sampai sang cipta sendiri yang akan mengambil keputusan.


Sebaik-baik manusia pasti ada salahnya, sesalah salahnya manusia pasti ada baiknya, perlu kita tanamkan pada diri kita bahwa untuk menjadi baik itu mudah, yang sulit itu sebenarnya ya diri kita sendiri yang tak mampu untuk bisa menerima karena logika selalu bertolak belakang dengan hati.


Ada beberapa hal yang harus kita ingat, yang pertama adalah kesalahan kita terhadap orang lain dan yang kedua adalah kebaikan orang lain terhadap kita.


Kepulangan Duta dari Rumah Sakit ini sungguh ada berkahnya, bagaimana tidak, dengan bermodal alasan karena masih sakit dan sulit untuk melakukan aktivitasnya Duta meminta Carissa untuk tinggal bersamanya di apartemennya, Carissa awalnya tentu menolak dengan keras bagaimana bisa laki-laki beranak satu ini menjadikan ini sebagai ajang menjadikannya untuk menuruti kemauannya, tapi Carissa bisa apa ? toh sakitnya Duta tak lain dan bukan karena menolongnya di tambah lagi dengan Yuka yang terus-terusan merayu Mamanya karena kasihan melihat Daddy-nya walaupun dia sendiri tahu jika itu hanya alasan Daddy-nya saja dan jangan lupakan juga bagaimana tanggapan kedua orang tua mereka yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sejoli yang seperti remaja labil.


Menjelang malam semua orang meninggalkan apartemen itu yang hanya menyisakan Duta dan juga Carissa. Yuka ?? ia paham betul jika Daddy-nya ingin berduaan dengan Mamanya itu jadi ia memilih ikut dengan Eyang dan Oppanya.


Carissa memberikan obat pada Duta yang saat ini duduk di sofa depan televisi. "Jangan jadiin ajang menjadikan aku kacung kamu ya". ucap Carissa pada Duta yang terlihat menikmati wajah kesal sang tambatan hati.


"Kamu apa gak capek ngomel terus ? sini duduk". titah Duta menepuk sisi kosong di sebelahnya yang langsung di turuti oleh Carissa.


Duta memutar badannya menghadap Carissa begitu juga dengan Carissa. Mereka saling bersitatap. "Gak usah serius gitu, mau ku jitak". Ucap Carissa gugup karena di pandang Duta dalam.


Duta hanya tersenyum melihat wajah Carissa yang memerah karena malu. "Menikahlah dengan ku, jadilah istri ku Carissa ". Ucap Duta tulus memegang kedua pundak Carissa.


Rasa pedih dan kecewa yang di rasakan Carissa bertahun-tahun kini telah lenyap seketika, entah bagaimana kecewa itu pergi dari dirinya yang jelas saat ini ia begitu menantikan momen ini di delapan tahun silam.


"Awww". Keluh Duta tanpa sengaja menggerakkan badannya hendak mempererat pelukannya.


"Udah tau sakit masih juga cari kesempatan hemm dasar mesum" sahut Carissa.


"Aku lelah ayok kita tidur besok aku harus ke kantor". timpal Carissa membawa Duta berjalan menuju kamar.


"No no no, kamu gak aku izinin ke kantor, sudah cukup, selama keadaan aku kayak gini kamu gak boleh ke mana-mana kamu harus ngurus aku sampai aku benar-benar pulih dan satu lagi, setelah kita menikah kamu gak aku izinkan untuk bekerja lagi, kamu hanya perlu mengurus aku dan Yuka saja ". Jelas Duta.


"Haa yang bener aja dong Duta, oke kalau masalah kantor aku bisa terima tapi masalah cafe gimana ? itu kan salah satu mimpi aku". Carissa mengerucutkan bibirnya.


Carissa membantu Duta merebahkan diri di ranjang, setelah itu ia juga ikut merebahkan dirinya di sebelahnya dan menarik selimut untuk menutupi setengah badan mereka.


"Oke kalau masalah cafe aku bisa terima tapi kamu harus tetap ingat Aku dan Yuka lah yang harus jadi prioritas utama kamu, kamu pahamkan ?".


" Ia sayang ku calon suamiku bawel banget dah ahh". Carissa melingkarkan tangannya di pinggang Duta, entah kenapa semenjak tidur bersama Carissa selalu nyaman di dekatnya, aroma khas tubuh Duta sudah seperti sa*bu yang bikin ketagihan dan ingin terus menerus ia hirup.


"Sayang sekali aku tidak bisa banyak bergerak, kalau tidak sudah pasti aku akan memakan mu malam ini". sahut Duta merasa tersiksa. Pelu*kan Carissa sungguh menyiksa dirinya.