
"Mama gak senang ya Papa ketemu Yuka ?".
"Mama senang Pa hanya kasihan saja Pa sama Carissa, nasibnya sungguh malang". sahut Sarah.
"Malang gimana maksud Mama, Papa lihat dia senang-senang aja, apalagi Papa lihat dia dan Duta sering bertemu bahkan mereka kadang menginap bersama, bukannya Mama diam-diam juga bersama mereka di belakang Papa". sahut Bram yang menyadari sesuatu yang salah pada ucapnya barusan.
Senyum mengembang kini terukir di wajah Sarah, "atau jangan-jangan Papa yang diam-diam mengawasi mereka di belakang Mama ?". Tebaknya. Sarah sudah menduga tidak mungkin Bram akan diam dan tahan melihat semuanya, ia yakin Bram juga sudah sangat ingin merasakan sama seperti yang ia rasakan.
Bram gelagapan mendengar tuduhan Sarah, bagaimana pun juga dia tidak bisa terus bersembunyi seperti ini. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Sudahlah Pa jujur aja gak usah nutupin dari Mama, kalau Papa gengsi mengakuinya Mama ngeri kok, tapi ingat Pa, bukan hanya Yuka yang harus Papa terima tapi Carissa juga". ucap Bram mengingatkan Bram.
"Udah Papa coba Ma, jangan mengingatkan terus menerus Papa bosan mendengarnya". sahut Bram.
"Andai semua berjalan seperti harapan mereka Pa, Mama yakin kebahagiaan kita pasti akan lebih lengkap". ungkap Sarah lirih.
"Bicara yang jelas Ma".
"Selain Papa, orang yang menentang hubungan mereka itu Ayah Carissa Pa, dia masih sakit hati bagaimana dulu Duta meninggalkannya saat dia lagi hamil karena itu juga Carissa pergi dari rumah, kita harus melakukan sesuatu Pa biar hubungan mereka itu jelas dan punya ikatan yang kuat". jelas Sarah.
Bram sejenak terdiam memikirkan sesuatu. "Papa tau apa yang harus kita lakukan Ma". sahut Bram.
Hari sudah mau sore tapi Carissa belum juga sampai menjemput Yuka. Duta sendiri masih sibuk dengan segudang pekerjaannya.
Yuka duduk di kursi tempat biasanya ia menunggu Carissa bersama beberapa siswa yang sama nasibnya belum di jemput.
Saat ini Carissa sampai di sekolah Yuka, mereka langsung menuju rumah mereka. Saat di perjalanan dekat simpang kompleks perumahan mereka mobil mereka di hentikan oleh sebuah motor.
Pemotor tersebut mengadang jalan Carissa, tidak berbuat apapun hanya duduk di atas roda besinya menunggu Carissa yang sudah pasti akan menghampirinya. Berkali-kali Carissa membunyikan klakson mobilnya tapi pemotor itu tidak menggubrisnya.
Benar saja, Carissa yang menunggu lama di dalam mobil tak sabar dan menjejakkan kakinya di aspal. Satu-satu langkah kakinya menuju orang tersebut.
"Sayang kamu tunggu di sini, biar Mama yang turun, apa sebenarnya mau orang itu". titah Carissa pada Yuka.
Carissa sebenarnya takut tapi karena sudah lelah mau tidak mau ia turun untuk menanyakan maksudnya menghadang jalannya.
Saat Carissa berada tak jauh dari motor tersebut orang yang mengendarainya membuka kaca helm yang ia gunakan. Tatapannya tajam menakutkan bagi Carissa yang melihat.
Belum sempat Carissa berucap, orang tersebut sudah melajukan motornya.
"Apa sih maksudnya aneh banget". ketus Carissa geram.
Carissa masuk kembali ke dalam mobilnya, betapa terkejutnya Carissa saat tak menemukan Yuka di tempatnya tadi. Carissa panik mencari di sekitar tapi nihil. Ia menangis sejadi-jadinya tidak tau harus berbuat apa.
Carissa kembali masuk ke dalam mobilnya menelfon Duta dengan terisak-isak. "Duta, Yuka Duta, Yuka hilang". ucap Carissa terbata-bata.
"Kamu tenang, kamu di mana biar aku kesana sekarang".
Duta meninggalkan semua kerjaannya saat itu juga, ia segera menuju rumah Carissa.