The Return of Love

The Return of Love
53



Carissa mengerjapkan matanya, menatap langit-langit kamarnya. Ia menggerakkan badannya melepas penat yang ada. Tidurnya kali ini seperti tak ada gunanya badannya semakin terasa pegal. Kemarin sepulang kantor ia mengunjungi cafenya dan pulang larut malam sementara Yuka sudah tertidur pulas di kamarnya.


Ia membalikkan badannya ke samping terkejut melihat Duta yang menopang kepalanya tersenyum melihatnya.


"Kau ? sepagi ini ? ngapain di kamarku ? sejak kapan kau berada di sini ?". cerca Carissa tanpa jeda.


"cantik !". Seru Duta menunjuk hidungnya. " Sejak semalam aku di sini Yuka yang membukakan pintu, aku merindukan kalian, apa salah kalau aku ke sini ?".


"Ya tapikan gak tiba-tiba juga Duta, aku kan bisa siap-siap dulu kalau kamu mau datang". sahut Carissa, wajahnya bersemu merah mengatakan itu. Ia dengan cepat menutup wajahnya dengan selimut.


"Kenapa harus siap-siap ? jangan bilang kau juga merindukan ku ?". tanya Duta menarik selimutnya gemas sendiri melihat tingkah Carissa seperti remaja labil.


Carissa dengan susah payah menahan senyumnya di dalam selimut, Ia membuka selimut itu lalu duduk di ikuti oleh Duta di sampingnya.


"Terserah, aku mau bersih-bersih dulu mau buat ke dapur menyiapkannya sarapan Yuka sebelum berangkat sekolah, dia akan ngambek kalo sarapannya telat" sungut Carissa beranjak dari duduknya.


Terlanjur malu dengan Duta Carissa sampai tak hati-hati bangun sampai kakinya nyangkut di selimut yang menutupi setengah badannya itu. Akibatnya ia terseok ke samping ranjang, untung Duta cekatan manarik lengannya kalau tidak sudah pasti ia terjerembab mencium lantai.


"Kenapa buru-buru Rissa, lihat sekarang, pagi-pagi gini udah bikin huru hara aja, untung aku cepat menangkap mu kalau tidah hemm". sahut Duta.


"Kaki ku tersangkut makannya mau jatuh, sudahlah lepasin dulu keburu siang".


Duta malah manarik Carissa dalam pelu*kannya, ia tak peduli seberapa kuat Carissa mencoba untuk melepaskan diri darinya.


"Apa kau lupa ini hari apa ?". Tanya Duta, yang ditanya malah diam saja, masih sibuk menormalkan degub jantungnya yang tak karuan. " ini hari Minggu Rissa, tetaplah seperti ini sebentar saja, aku sungguh merindukanmu sejak kemarin".


' Tidak mungkinkan, mana mungkin sebentar kalau uda kayak gini, enggak, gak boleh, ini gak bagus untuk kesehatan jantung ku'. ucap Carissa dalam hati.


Duta terlalu nyaman mendekapnya, ia tau saat ini bukanlah yang tepat untuk berbicara. Iya ingin hubungannya dengan Carissa lebih dari ini iya ingin menjadikannya istri seperti janjinya dulu. Iya masih menunggu waktu yang pas untuk mengatakannya, terlebih restu dari Ayahnya Carissa. 'Tunggu Rissa, aku akan menjadikan mu satu-satunya wanita dalam hidup ku, wanita yang selama ini aku nantikan kehadirannya setelah bertahun-tahun'. bisik hatinya.


"Apa kau ingin Anakku kelaparan pagi ini ?". ucap Carissa menyadarkan Duta yang sepertinya memejamkan matanya tapi ia masih bisa mendengar apa yang Carissa ucapkan.


Carissa sendiri semakin malu di buat ulah Duta yang mendadak itu, ia terlalu malu karena baru bangun tidur ia belum menyikat giginya.


Duta yang paham apa yang di pikirkan Carissa hanya tersenyum melihat ekspresinya. Ia lantas memberikan hal yang sama seperti tadi dengan waktu sedikit lebih lama. Carissa memejamkan matanya sedangkan Duta tersenyum melihatnya memejamkan mata.


Karena sudah kehabisan napas Carissa memukul dada bidang Duta. "Kau membuatku gak napas".


"Kau juga menikmatinya kan ?" ledek Duta.


Pipi Carissa yang mendadak bersemu itu membuat Duta tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa.


"Kenapa ketawa gitu". Carissa mengerucutkan bibirnya.


"Pipimu itu udah kayak kepiting rebus". sahutnya


"Sudahlah aku mau mandi badanku sudah lengket".


"Mandi bareng aja biar cepat selesainya".


"Gak ada ya kayak gitu, gak usah mimpi". jawab Carissa.


Tapi Duta dengan cepat membopongnya menuju kamar mandi. Carissa berontak tapi tenaganya tak cukup kuat untuk turun. "Duta turunin aku sekarang, Duta jangan kayak gini aku gak suka ya".


"Tapi aku suka Rissa gimana dong". sahut Duta lagi.


Sampai depan pintu Duta membuka dengan tangan sebelah sementara Carissa sudah bergetar masuk ke dalam kamar mandi. Duta mendudukkan Carissa di meja wastafel. Untuk persekian detik tatapan mereka bertemu dan keduanya sama-sama tersenyum. Hal semanis ini yang selalu Duta bayangan selama ini.


"Mandilah aku akan mengurus jagoan kita, oh ya aku suka wangi shampo mu jadi jangan pernah menggantinya dengan yang lain". ucap Duta, Ia kembali menyatukan indra pengecap mereka dan Carissa hanya diam menerima.


"Cepatlah, kalau lama aku akan datang ke sini untuk memandikan mu". ujar Duta memicingkan matanya. Ia pun keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang tentunya sama seperti Carissa rasakan.