The Return of Love

The Return of Love
69



Carissa mengerjapkan matanya pelan-pelan, ia menatap langit-langit kamar yang asing baginya. Ia tegas mendudukkan dirinya mendapati Riko yang duduk di sofa tak jauh darinya.


Riko duduk dengan mengangkat satu kakinya sedangkan tangannya di silangkan ke dadanya. Matanya menatap lurus ke arah Carissa yang baru saja menyadari keberadaannya di tempat yang tak tau di mana.


"Ko, di mana ini ? bukannya tadi kita sudah mau sampai ke rumah Bunda ya ? kenapa aku bisa ada di sini ? apa yang terjadi ?" Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepalanya yang ia lontarkan ke Riko yang sedari tadi hanya diam menatap dirinya.


Riko tersenyum lalu bangkit dari duduknya berjalan mendekati Carissa. " Kita di apartemen ku".


"Ko, jujur sama aku, apa minuman itu ulah mu ?". Kini Carissa mengingat ingat terakhir ia ingin membeli minum tapi Riko memberinya air minum yang sudah tersedia di mobil miliknya lalu ia merasa sangat ngantuk dan ia sudah tak ingat apa-apa lagi karena ia tertidur.


"Aku pikir jika aku menyatakan perasaan ku sama kamu kamu akan memikirkannya kembali atau bahkan jika sudi kau bahkan menerima ku karena balas budi, berkali-kali aku memintamu untuk percaya dengan kesungguhan ku tapi kamu justru mematahkan hatiku, membuat ku semakin terpukul terlebih kamu memilih kembali bersama lelaki itu anak dari seorang pembunuh ". Dengan sangat tenang Riko mengatakan itu pada Carissa yang masih setia diam di tempatnya.


"Pembunuh ?". Kening Carissa mengerut tak mengerti.


"Bram, Bram Prasetyo itu pembunuh Papaku, dia memisahkan istri dan anak dari suaminya, ia membuat seorang anak terlahir dalam keadaan yatim, ya tanpa adanya sosok Ayah. Dengan tega ia menabrak Papaku di depan mata Mama sampai ia kehilangan nyawanya. Mama selalu terbayang bayang kejadian itu, bertahun-tahun Mama berjuang sendiri mengobati lukanya sampai terakhir ia tak. isa lagi menahan sesaknya saat melihat Bram waktu itu makannya Mama aku bawa ke Rumah sakit, aku tidak bisa menjaganya dua puluh empat jam sampai akhirnya Mama menceritakan semuanya. Tapi apa, apa yang Bram lakukan setelah itu ? ia pergi meninggalkan tanggung jawabnya, ia kabur dari kota B tak pernah sekalipun ia melihat Mama ku".


"Ko". Lirih Carissa


"Kau tau, aku begitu menginginkan mu tapi kau selalu menolak ku, apa kau pikir aku tidak lelah ? sangat Riss bahkan aku risih dengan sikapku sendiri, merasa menjadi bodoh mengejar sesuatu yang tak mungkin aku dapat, aku muak sama semuanya". Riko meninggikan suaranya membuat Carissa jadi sedikit takut.


"Jangan bilang kalo kecelakaan itu,,, ucap Carissa terputus.


"Yup, benar sekali, akulah yang menabraknya, aku ingin dia merasakan apa yang Papaku rasakan, aku ingin istrinya merasakan apa yang Mama rasakan, aku ingin anaknya merasakan apa yang aku rasakan, tapi sial, sial dan sial dia selamat. Tapi aku gak akan diam aja setelah ini aku akan melakukan hal sama terhadapnya sampai dia benar-benar berada di posisi kedua orang tua ku".


"Ko, kau keterlaluan, kamu bukan Riko yang aku kenal". Sahut Carissa merasa takut dengan Riko yang saat ini di hadapannya.


"Riss, jika aku tidak bisa mendapatkan kamu, lelaki itu juga tidak bisa mendapatkan kamu, itu cukup adil kan.?".


"Maksud kamu apa Ko ?, berhentilah di situ jangan mendekat ". pinta Carissa yang segera pergi dari situ, ia berlari menuju pintu tapi sayang pintu itu sudah terkunci.


"Riss, biarkan aku memiliki mu sebentar saja hanya sebentar aku janji setelah itu aku akan membiarkan kamu pergi ". ucap Riko


"Ko, stop di situ jangan gila kamu ". teriak Carissa ketakutan melihat Riko yang mengikis jarak.


Carissa berlari ke sisi lain tapi Riko dengan cepat menangkapnya dan membawanya ke atas ranjang, dengan tega Riko menarik baju Carissa dengan satu tangannya sementara tangan yang satu menahan ke dua tangan Carissa.


Carissa memohon, Carissa menangis tapi Riko tak bergeming, ia mencoba menyentuh wajah Carissa yang aktif menggerakkan badannya agar bisa lolos dari kungkungan Riko.