
Beberapa bulan setelah kepergian mendiang istrinya, Duta menjadi duda incaran yang di idam-idamkan para kaum wanita. Semakin mempesona siapa yang tahu jika dia baru saja kehilangan istri.
Kembali ia pada rutinitas seperti biasa. Meskipun tak ada lagi yang menyambutnya saat pulang bekerja, tak ada lagi suara bising saat pagi, dan tak ada lagi wajah yang ia pandang saat terbangun.
Semenjak itu pula ia lebih memilih tinggal di apartemen miliknya seperti dulu sebelum menikah. Rasanya jika pulang ke rumah utama membuatnya kembali ingat akan Mayang istrinya itu.
Duda tampan itu kini berada di sebuah restoran menunggu client yang masih entah di mana.
Ia paling benci dengan orang yang tidak tepat waktu. Ia berdiri bersamaan dengan terbukanya pintu VIP tersebut.
Terlihat Lelaki paruh baya yang karismatik diikuti oleh seorang wanita yang tak lain adalah sekretarisnya.
Duta tetap memandangi wanita tersebut untuk benar-benar memastikan apakah dugaannya benar atau salah.
Yang di pandang juga sama hanya saja ia lebih santai agar terlihat biasa saja.
"Maafkan saya Pak Duta sudah membuat anda menunggu". Ujar Dion client nya membuka percakapan.
"Tidak masalah, mari kita mulai langsung".
Pertemuan itu berlangsung hampir satu jam dan kini mereka semua keluar dari tempat itu.
Duta diam-diam memperhatikan sekretaris Dion yang tak lain adalah Carissa. Dia heran kenapa wanita itu terlihat biasa saja seperti tak pernah mengenal, padahal mereka pernah sekali bertemu saat di rumah sakit, bahkan dulu mereka pernah saling mencintai.
Duta kembali geram sendiri melihat semua itu. Ada rasa yang menuntut untuk bertanya pada Carissa namun karena egonya ia urungkan tapi tetap saja dorongan untuk memanggil itu lebih kuat.
"Permisi Pak Dion, boleh saya bicara dengan sekretaris anda ?" ujar Duta.
Dion mengalihkan pandangannya pada Carissa meminta persetujuan. " Ahh silahkan Pak Duta, maaf sebelumnya apa kalian saling mengenal ?"
"Kami teman sekolah dulu pak Dion". Sela Carissa.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, Carissa setelah ini kamu langsung pulang saja tidak perlu kembali ke kantor".
"Terima kasih Pak".
Duta dan Carissa sama-sama diam belum ada yang memulai pembicaraan. Seolah lidah mereka keluh tak mampu berkata apapun. Setelah sekian lama mereka berpisah kini mereka di pertemukan lagi dan lagi.
Cukup bagi Carissa menahan sesak berada di dekatnya.
"Kalau seperti ini terus gak akan ada ujungnya Duta, langsung aja mau ngomong apa, aku harus segera pulang".
"Aku minta maaf". tiga kata itu lolos dari mulutnya Duta.
"Sudah, sekarang aku permisi". sahut Carissa.
"Kenapa kamu pergi dariku waktu itu ? kenapa gak ada kabar aku mencarimu kemanapun bahkan aku datang ke kota B untuk bertemu denganmu ". ungkap Duta.
"Kamu gak berhak melarang ku pergi, dan aku berhak untuk tak mengabarimu". terang Carissa kesal.
"Termasuk orang tuamu ?" tuduh Duta pada Carissa yang terdiam.
"Tau apa kamu, jangan melewati batas untuk mencari tau tentang ku". sentak Carissa geram.
"Kalau sudah tahu jawabannya kenapa mesti bertanya".
"Jadi bener anak itu adalah anakmu ?"
"Iya dia anakku, hanya anakku". tegas Carissa mengucapkannya.
Duta memejamkan matanya, hatinya menolak jawaban itu. Selama ini dia selalu berfikir jika anak itu adalah anaknya hasil dari perbuatannya waktu itu.
Carissa pergi dari tempat ini segera ia ke dalam mobilnya.
"Dia anakku duta hanya anakku". ucapannya sambil menangis.
Saat itu sebenarnya Carissa sudah akan sampai ke rumah Duta untuk memberi tahukan kehamilannya, tapi saat yang bersamaan Duta dan keluarganya pergi mengantarkannya ke bandara untuk pergi kuliah di luar negeri.
Carissa mengejarnya dengan berlari tapi langkahnya tak secepat itu.
Carissa bisa melihat saat itu Bram melihat ke arah belakang tapi lelaki itu tak sudi untuk berhenti walau cuma sebentar.
___________
Duta sampai di unit apartemen miliknya dan melihat Mamanya berada di depan pintu menunggunya. Keduanya masuk bersama.
"Duta, sampai kapan kamu seperti ini, ? Mama kesepian sayang".
"Sampai aku benar-benar merasa tenang Ma".
"Kau masih mengingat mendiang istri mu ?".
"Enggak Ma".
"Lalu apa Duta ?".
"Aku bertemu Carissa Ma, bahkan tadi adalah pertemuan ke dua kami setelah di rumah sakit waktu itu".
"Apa ? kau bertemu dengannya dua kali ?"
" Iya Ma, dan ini seperti sudah di atur Ma".
"Diatur bagaimana maksudnya ?". Sarah bingung.
"Sebelum Mayang meninggal ia sempat memintaku untuk menemui Carissa, ia memintaku untuk menikah dengannya, dia juga tau tentang Papa yang gak setuju tentang hubungan kami. Itu permintaan terakhirnya Ma, dan Mama tau, saat di kota B aku bertemu dengan seorang anak yang di bawa Carissa aku merenungkan semuanya Ma, aku merasa itu adalah anakku karena dulu sebelum berpisah kami pernah melakukannya Ma, tapi ternyata aku salah, itu anak bersama dengan suaminya ". ungkap Duta memberi tahu.
"Kau serius pernah melakukannya ?"
"Iya Ma, maafkan aku Ma dan aku menyesal akan itu". sesal Duta mengingat perbuatan yang tak terpuji itu.
"Sebenarnya Mama juga sudah bertemu dengan mereka, pertama kali melihat anak itu Mama juga merasa itu Dutanya Mama waktu kecil sangat mirip denganmu, Duta, atau jangan-jangan dia memang benar anak kamu, dan perlu kamu tau kalau Carissa belum pernah menikah ".
"Maksud Mama ?" tanya Duta.
"Sebenarnya tanpa kamu tau Papa juga mencari info tentang Carissa, dia belum menikah dan lelaki itu adalah Riko atasannya yang bekerja di perusahaan kita di kota B, berarti jika benar kalian pernah melakukanya tidak salah lagi itu anak kamu".