
Duta baru saja sampai di ruang rawat Bram, bertepatan dengan seorang Dokter yang baru saja keluar dari tempat itu. Dokter muda yang gagah dengan senyum yang selalu mengembang yang selalu membuat pasien jadi cepat merasa baik-baik saja hanya karena keramahan dan juga keahliannya. Duhh calon suami siapa tu ?
"Maaf silahkan". Duta bergeser memberi jalan untuk Dokter tersebut agar keluar lebih dulu.
"Duta ? Anda Duta kan ?". Tanya Dokter tersebut pada Duta yang tampak mengingat-ingat siapa gerangan Dokter di hadapannya ini.
"Ya jangan gitu juga kali liatnya, lupa ? Sini kita kenalan lagi". Dokter itu menjulurkan tangannya ke hadapan Duta, "Dimas, Dimas Anggara". Ucapnya memperkenalkan diri.
"Astaga Dimas, udah jadi Dokter aja lo, pangling gue, maaf ya Mas". Ucap Duta akhirnya mengingat teman satu kelas di sekolahnya dulu.
"Iya sehat lo kan, gak ada kabarnya lo ngilang aja, ohh ya itu bokap lo ?" Tanya Dimas.
"Iya bokap gue, gimana kondisinya Mas, panik gue waktu tau Papa di tabrak". Jawab Duta yang akhirnya menceritakan kronologi yang ia tau dari Mamanya. Saat ini mereka sedang berada di kantin rumah sakit.
"Jadi kalo emang udah tau kenapa lo diem aja, Pak Pol mah gitu, kurang selangkah dari elo".
"Masih kurang bukti untuk memberatkan, lagian dia juga kerja di perusahaan Papa di luar kota, gak tau apa motifnya padahal perusahaan di bawah kendali dia aman-aman aja, makannya masih di selidiki dulu sebelum kasusnya naik". Jelas Duta.
"lo jangan salah, orang kepercayaan juga bisa nusuk, ya wanti-wanti aja kan, lagian kalo di biarkan nanti makin menjadi malah dia belum merasa puas sama yang udah dia buat". Ujar Dimas.
"Masalah lainnya juga karena dia orang yang selama beberapa tahun ini selalu ada buat Carissa". Ucap Duta, bagaimana pun orang itu yang telah menolong Carissa, tidak tau bagaimana jadinya kalau orang tersebut tidak menolongnya.
"Maksudnya Carissa mantan lo waktu sekolah dulu ?". Tanya Dimas dan Duta mengangguk sebagai jawaban.
"Hubungannya apa, sumpah gak ngerti gue". Dimas pusing sendiri menebak-nebak cerita Duta dan Carissa di masa lalu.
"Astaga lo,, emang bener-bener dah ahh, Carissa tau dia yang nabrak ?".
"Belum, nanti tunggu semuanya lebih jelas lagi".
Benar dugaan kalian, orang yang telah menabrak Bram waktu itu adalah Riko, seperti ucapannya kala itu, ia ingin membalaskan sakit hatinya pada Bram.
Hari di mana ia menabrak Bram saat itu juga ia kembali ke kota B dan langsung mengundurkan diri dari perusahaan. Ia juga mengajak ibunya untuk segera pindah ke kota A untuk memudahkannya membalaskan sakit hatinya.
"Untuk apa kita buru-buru pindah Ko ?" Tanya Salma merasa heran padahal karirnya lagi bagus-bagusnya di sini.
"Pengen suasana baru Ma, masalah kerjaan gampang la, entar Riko cari yang penting sekarang kita mulai lembaran baru lagi". Kilah Riko.
Hari itu juga mereka meninggalkan kota B tak lupa Riko membersihkan jejaknya agar tidak bisa di lacak oleh siapa pun mengingat kejadian yang pernah menimpa Carissa dulu saat akan pindah ke kota A.
Ngomong-ngomong soal Carissa, Riko sudah mengetahui jika saat ini wanita pujaan hatinya itu tengah dekat kembali pada mantan kekasihnya dulu, anak dari seorang pembunuh dari seorang Bram. Ia semakin merasa tersiksa saat tau orang yang dekat dengannya adalah anaknya Bram.
_________
Sudah tiga hari lamanya Bram di rawat di rumah sakit, Bram bersyukur masih bisa selamat.
Pintu kamar berdecit terbuka, masuk sepasang suami istri yang sebentar lagi akan menjadi besannya itu bersama cucu kesayangan mereka, sedangkan Carissa masih berada di kantor sore baru ia akan kembali membesuk eyangnya itu.
"Bagaimana kondisinya Pak Bram ?". Tanya Hamdan.
"Sudah mendingan Pak Hamdan cuma kalau untuk ngomong masih sakit, tulang rahangnya masih terasa susah di gerakan ". Jelas Sarah menjelaskan.
Sudah dua hari semenjak hubungannya dengan Duta tersebar, Carissa begitu tenang bekerja di kantor tanpa harus merasa canggung apalagi tak enak hati, malahan dengan adanya kabar itu para karyawan yang lain malah jadi merasa canggung terhadapnya, takut salah sikap apalagi sama calon istri bos duren. Kini tak ada lagi tatapan memuja dari para lelaki seperti biasanya bahkan karyawati yang biasanya bergosip ria tentang pesona Duta dan juga berbagai kehaluan mereka pun sudah tak pernah Carissa dengar lagi. Tapi dengan keadaan ini malah dia sendiri yang merasa aneh, merasa ada yang kurang, yang biasanya mereka gosip di depannya kini tak terdengar lagi ya intinya kek kehilangan aja gitu.
Jam pulang kantor pun tiba, semua orang sibuk untuk segera kembali ke rumah masing-masing begitu juga Carissa, karena tadi pagi ia di antar Duta, maka kali ini ia pulang ke rumah sakit naik ojek online saja biar cepat sampai tidak terkena macet.
Carissa berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan membawa beberapa tentengan di tangannya untuk cemilan. Malam ini ia dan juga Duta sepakat berjaga bergantian dengan Sarah, wanita itu sudah dua malam menemani suaminya, tak tega jika Sarah harus tidur di sofa semalaman badannya pasti pegal-pegal.