
Dering panjang menghentikan kegiatan yang Carissa lakukan. Malam ini ia baru saja selesai membuat makanan untuk di bawanya besok pagi ke kantornya.
Nama Tere tertulis di layar itu segera ia membersihkan tangannya dan menggeser layarnya. Terlihatlah sosok Tere yang ia yakini sedang rebahan di kasurnya.
"Duhh yang uda jadi ibu seneng banget ya sampai lupa punya temen di sini ". ujar Carissa tersenyum.
"Apa si lo Riss, ya maaf, di sini tu emang senyenengin itu memang, gak salah kalo keputusan gue ngikut netep tinggal di sini jadi kalo gue lupa sama lo ya wajar lah ya hihi". sahut Tere.
Ya, saat kandungan Tere memasuki tujuh bulan ia memutuskan untuk ikut suaminya pindah ke LN, awalnya ia berat meninggalkan tanah kelahirannya tapi ia tak mau egois, tak mungkin membuat suaminya tinggal di LN sendiri walaupun hanya empat tahun saja.
" Makannya jangan banyak mikir nyesel kan jadinya, eh betewe si baby kemana kok lo santai bener". kepo Carissa tak melihat Clay anaknya tak bersamanya.
"Di bawa keluar ama lakik gue, gue di suruh me time mumpung dia libur, lo kok belum tidur, bukannya di sana udah tengah malam ya ?"
"Iya ni gue baru siap baking, besok mau gue bawa ngantor sekalian tester gitulah hihihi". jawab Carissa cengengesan.
"Lo tu ya uda kerja kantoran juga punya cafe lakik kaya tujuh turunan masih aja gitu, uda deh nikmati aja apa yang ada, jangan kerja keras banget, nanti lo bakal pusing sendiri susah ngabisin duitnya, masih mending ada gue di sana bisa gue bantuin lah ini kita kan lagi LDR-AN ". jelas Tere.
Mereka ngobrol banyak hal sampai mata Carissa sudah tak bisa menahan kantuknya.
Pagi-pagi sekali Carissa dan Yuka sudah bersiap-siap namun belum saat Carissa hendak menutup pintu sebuah mobil yang ia tahu milik Bram memasuki pekarangan rumah miliknya.
Kok bisa ??
Carissa bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Yuka melihat ke empat nenek kakeknya senang minta ampun. Ia pun beringsut lari menemui mereka di pelukn*ya mereka satu persatu sampai detik itu juga Carissa tak bergeming.
Rahma menghampiri dirinya dengan raut wajah berbinar, memel*uknya hangat, "Berbahagialah nak, kini harapan kamu dan Duta untuk tetap bersama sudah menemui jalannya, Ayah dan Pak Bram sudah sama-sama memadamkan api dalam hati mereka, semua itu demi cinta kalian yang memang harus di persatukan kembali.
Carissa menatap sang Ayah yang tersenyum menganggukkan kepalanya, sungguh ini di luar ekspektasinya. Carissa dan Duta selalu mencari cara bagaimana mendamaikan keduanya, bahkan mereka merasa ini akan memakan waktu yang lama tapi semesta punya jalan jalur cepat yang membuat hal tersulit dan tidak mungkin menjadi mudah dan dahsyat dirasakannya.
Carissa tak mampu mengatakan apapun melihatnya. Saat ia tengah menikmati suasana terbaik pagi ini bersamaan dengan itu kedatangan Duta yang memang di tunggu oleh kedua orang tua mereka pun merasa terhenyak. Awalnya ia merasa panggilan untuk datang ke rumah Carissa yang di maksud Hamdan akan melarang hubungan antara mereka tapi malah di bikin hatinya meleyot melihat keakraban di depan matanya.
"Sayang, sini eyang mau bicara sesuatu". ucap Sarah pada Yuka yang berada di gendongan Duta.
"Pagi ini kamu di antar sama sopir Eyang ya karena Mama dan Daddy ada acara sama Kakek Nenek dan juga Eyang, pulang sekolah nanti kita bertemu lagi ". titah Sarah yang di mengerti Yuka.
Kini Carissa masuk kembali ke dalam rumahnya begitu juga dengan orang tua mereka. Hatinya berdebar tak seperti biasanya.
Duta sendiri juga bingung ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba orang tuanya juga ada di sini sepagi ini. Bahkan hari ini Duta dan juga Carissa tidak di perbolehkan untuk pergi ke kantor.
"Apa ada yang bisa jelasin semua ini ? Duta gak ngerti ". ucap Duta melihat ke semuanya hanya diam tidak ada yang memulai bicara.