
Desas desus perusahaan tempat Carissa bekerja beralih kepemilikan semakin santer terdengar. Hal ini tentu membuat Carissa bingung harus menanggapi bagaimana, pasalnya dia selaku sekretaris Dion tapi dia belum dengar sendiri dari sang pemilik.
Hari ini mereka semua di kumpulkan untuk mendengarkan benar tidaknya berita yang beredar itu secara langsung dari Pak Dion.
Di hadapan ratusan karyawannya ia mengungkapkan benar jika perusahaan ini bukanlah miliknya lagi. Perusahaan itu kini berada di bawah naungan Global Group yang tak lain adalah perusahaan milik Duta.
Saat itu juga Duta bersama asistennya masuk ke dalam ruangan tersebut.
Semua mata tertuju padanya yang berjalan masuk dengan elegannya. Parasnya yang tampan dan badan yang atletis membuat baju yang ia kenakan begitu terlihat manis sekali.
Ekor matanya melihat wanita yang selalu membuang muka. Tentu saja Carissa tidak ingin tatapan mereka itu bertemu.
Carissa berkutat dengan pikirannya, kini ia bingung akankah dia harus tetap bekerja di situ atau memilih keluar.
Semua orang kembali ke tempat kerja mereka masing-masing begitu juga dengan Carissa.
Telepon khusus di mejanya berbunyi menandakan panggilan dari ruangan Pak Dion. Ia segera berjalan ke ruangan itu. Pemandangan yang pertama kali di lihatnya adalah sosok Duta yang berdiri bersama Pak Dion di hadapannya.
"Ah Carissa, berhubung perusahaan ini sekarang adalah milik Global Group dari itu, sekarang kamu menjadi sekretaris Pak Duta". Ucap Pak Dion saat Carissa berada di hadapannya.
Carissa tersenyum kaku ahh mungkin lebih karena terpaksa.
Keduanya berjabatan tangan lalu Pak Dion pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
Udara di ruangan itu mendadak dingin. Carissa terus menundukkan pandangannya sementara Duta menatapnya intens.
"Seperti ini kalau kamu bekerja sama Pak Dion ? dengan selalu menundukkan kepalamu ?". tanya Duta.
Perlahan Carissa menegakkan kepalanya menatap lawan bicaranya. "Apa tujuanmu melakukan ini semua ?"
"Sekarang kamu lebih suka tuduh poin aja ya Carissa tanpa basa basi". jelas Duta.
"Duta, sudahlah kamu cukup jawab aja gak usah bertele-tele begini, sungguh aku gak nyaman". muak Carissa.
"Agar aku bisa dekat lagi denganmu".balas Duta cepat.
Carissa membuang wajahnya ke sembarang arah, tersenyum miring mendengar jawaban yang sudah ia wanti-wanti.
'Bisa-bisanya dia ngelakuin semua ini seperti membeli permen saja, dasar' gerutu Carissa.
Paling tidak untuk kedepannya dia bisa melihat Carissa setiap hari, ia percaya suatu saat hatinya akan luluh seiring bertemunya mereka setiap hari.
"Apapun yang terjadi aku akan mencobanya Carissa, mendapatkan hatimu kembali walaupun dengan cara seperti ini dengan buatmu tidak nyaman, percayalah aku sungguh tak mau kehilanganmu lagi, Mayang, terimakasih". ucap Duta tersenyum saat menyebut nama mendiang istrinya.
Jam pulang kantor pun tiba. Carissa yang sudah siap untuk pulang di hentikan Duta.
"Carissa tunggu". Ucap Duta memegang lengannya.
"Maaf pak Duta, tolong tangan anda ". ketusnya Carissa tidak peduli hubungan antara mereka di kantor.
Duta refleks melepaskannya. "Bagaimana kondisi Yuka ?".
"Dia baik-baik aja". jawab Carissa
"Syukurlah, aku boleh menemuinya ? aku merindukannya". tanya Duta.
"Jangan sekarang, tolong mengertilah". jawab Carissa lirih.
"Kenapa, apa ada yang salah jika aku menemuinya, dia juga anakku, aku juga Papanya Riss". balas Duta tak mau kalah.
"Dia anakku Duta hanya anakku". jawab Carissa.
Setelah mengatakan itu Carissa langsung pergi meninggalkan Duta. Beberapa karyawan yang melihat interaksi keduanya merasa heran padahal Duta baru sehari berada di sana tapi terlihat seperti sudah mengenal lama. Mereka menerka-nerka ada hubungan apa antara bos dengan sekretarisnya itu.
Di tempat yang lain Bram yang mengetahui tentang Duta pun kini bertarung dingin dengan hatinya. Setelah ucapan Sarah waktu itu ia belajar untuk mengalah mengikuti kemauan Duta kali ini. Tapi entah bagaimana hasilnya lihat saja nanti.
Bram bersama sopirnya menepikan mobil di depan sekolah Yuka. Seperti penguntit yang sedang mengawasi gerak gerik objeknya. Saat anak-anak keluar dari sekolah dan di jemput oleh orang tuanya, bisa di lihat Yuka yang sedang duduk menunggu jemputan sang Mama.
Bram melihat Yuka seketika termenung, ada rasa ingin mendekati ada juga rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Bram tidak tahan untuk tidak menemui Yuka, ia segera membuka pintu mobil dan menuju kesana dengan perasaan campur aduk. Melihat wajah yang mirip sekali dengan Duta saat kecil membuatnya percaya jika itu benar anaknya Duta, cucunya. Namun masih beberapa langkah mobil yang di kendarai Carissa berhenti di depan anak itu membuat langkahnya terhenti dan kembali masuk kedalam mobilnya.
"Benar dia cucuku tidak salah lagi". lirih Bram terus memandang interaksi Ibu dan anak itu.