
Sejak hari kedatangan Bram ke rumah Salma waktu itu ia tidak pernah menampakkan wajahnya lagi sampai beberapa bulan, lebih tepatnya saat kandungan Salma telah memasuki sembilan bulan.
Sore itu Bram datang bersama Sarah menemui Salma. Bram tidak bisa menyembunyikan hal besar ini dari istrinya, ia menceritakan semuanya dengan jujur, sulit di percaya bagi Sarah jika suaminya telah melakukan hal tidak terpuji seperti itu.
Bram dan Sarah menunggu beberapa saat sampai pintu itu terbuka menampakkan Salma dengan perutnya yang membesar berada di ambang pintu.
Saat itu perlu Salma sudah mengalami kontraksi sejak siang tapi ia belum mempersiapkan apapun. Ia memilih di rumah sampai perutnya benar-benar sudah sangat mulas.
Bram dan Sarah mengutarakan maksudnya yang tidak lain meminta maaf, hanya itu yang mampu mereka lakukan terlebih Salma menolak untuk di berikan sejumlah uang.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, aku memasrahkan semuanya pada Tuhan, aku yakin suatu saat nanti akan ada balasan untuk semua ini saya percaya Tuhan tidak tidur". Selesai mengatakan itu kontraksi yang dirasakan Salma semakin rapat dan ini membuat Sarah dan juga Bram panik. Mereka membawa Salma ke rumah sakit terdekat dan langsung menuju ruang bersalin.
Salma yang hanya seorang diri di ruangan itu tanpa saudara merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.
"Nak kuatlah, perjuangan Mama sampai di titik ini tidaklah mudah". ucap Salma di sela-sela mengejan. Tak lama pecah suara tangis bayi terdengar.
"Mba, selamat atas kelahiran putranya ya" ujar Sarah tulus dengan senyuman.
"Terimakasih". Sahut Salma cepat. Bagaimana pun ia harus berterima kasih karena kelancaran bersalin tak lepas dari pertolongan mereka.
"Mba, maaf sekali lagi, aku turut merasa bersalah atas kepergian suami mu. Tak saya pungkiri kesalahan itu juga dari suami saya. Bagaimana pun kami akan tetap bertanggung jawab atas mba dan juga anak ini. Kedatangan kami untuk memberikan ini, terserah mba mau apakan tapi tolong terima, kami tidak tenang mba jujur terlebih suami saya. Saya juga mengucapkan terima kasih karena kebaikan hati mba yang tidak menuntut suami saya di kepolisian". Sarah menjeda kalimatnya menguatkan hatinya agar baik-baik saja. " Kami juga ingin memberi tahukan jika kami akan pindah dari kota ini Mba untuk itu kami ingin Mba menghubungi kami selalu jika ada apa-apa dengan kalian".
Bukan di sengaja lari, Bram dan Sarah memang sudah sepakat akan pindah setelah mereka menikah. Tentunya dengan adanya kejadian ini menjadikan kepindahan mereka tertunda beberapa bulan.
"Pergilah kemana saja kalian mau aku tidak akan pernah menahan atau pun mencari, hatiku terlalu tidak menerima menerima kenyataan tentang semua ini, aku yakin semesta akan melakukan tugasnya di waktu yang tepat untuk kalian rasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini" Salma menyahut memandangi putra yang berada di sampingnya dengan air mata yang menggenang.
Cukup syok Riko dengan kenyataan ini, sulit sekali menerima kebenaran yang ada. "Apa yang harus aku lakukan Ma jika orang yang selama ini membuat hidup Mama menderita di luaran sana ia malah menikmati hidup dengan santainya ?". ucap Riko mengepalkan tangannya memandang lurus membayangkan betapa pedihnya hidup yang di jalani Mamanya dulu.
"Tidak perlu repot-repot untuk mengotori tanganmu Nak, Mama percaya sebentar lagi mereka juga akan merasakannya". jawab Salma.