The Return of Love

The Return of Love
Cucu yang belum disentuh



Di tempat lain, di rumah milik orang tua Deri, Vio merasa was-was dengan ancaman yang di layangkan Carissa. Dia juga belum cerita prihal Deri dan ancaman Carissa.


Ya, selama ini jika Deri mendapat masalah Vio hanya menelfon pihak sekolah saja untuk membereskannya. Hal inilah yang membuat Deri tidak mendapat sanksi atas perbuatannya dan malah semakin menjadi karena merasa aman-aman saja.


Waktu dua puluh empat jam yang di berikan Carissa terlewati dan itu membuat Vio menjadi besar kepala. Ia menganggap bahwa itu hanya gertakan Carissa agar ia merendahkan diri untuk meminta maaf.


Hari ini Duta tidak pergi ke perusahaan di mana Carissa berada. melainkan ke perusahaan milik Bram. Duta dengan santai menceritakan kondisi Yuka pasca dirundung di sekolah. Bram yang terlihat santai mendengarkan pun merasa murka di dalam dirinya.


"Aku belum pernah sekalipun menyentuh cucuku tapi dengan berani mereka mengolok-oloknya". ucap Bram geram dalam hati.


Keputusan Duta bulat menarik semua investasi yang ada di PT. Angkasa milik Hermawan Papanya Deri.


Bram tidak bereaksi apapun atas tindakan Duta ia percaya dengan ini tidak ada lagi yang berani mengganggu Yuka cucunya yang belum disentuhnya.


Siang itu juga Duta menyuruh Doni untuk mengurus semuanya.


Usai penarikan investasi di PT. Angkasa yang di lakukan oleh Duta secara mendadak itu membuat Hermawan panik setengah mati. Ia bahkan hampir terkena serangan jantung. Kondisi di Perusahaan itu sangat kacau. Lima puluh persen penarikan investasi bisa membuatnya bangkrut. Belum lagi penarikan dana dari Perusahaan lain yang ikut-ikutan juga.


Hermawan kewalahan mengatasi semua ini, ia bingung kenapa Perusahaan Duta tiba-tiba melakukan hal ini padanya, sudah tentu pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat mereka merasa terganggu. Hermawan tidak bisa berfikir jernih ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Sampai di rumah dengan wajah yang di tekuk ia duduk di sofa dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


Vio yang baru pulang dari arisan pun mulai bertanya. "Apa terjadi sesuatu Pa ?".


Hermawan tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya, ia malah memandang wajah sang istri dengan tatapan tajam.


"Apa Mama melakukan sesuatu yang tidak Papa ketahui ?". Tanya Hermawan yang sukses membuat Vio salah tingkah.


"Maksudnya apa Pa Mama gak ngerti !". sahut Vio dengan wajah mulai panik.


Deringan telepon Hermawan membuat Vio menarik nafas panjang, pasalnya ia mulai merasakan sesuatu yang tidak enak akan terjadi.


Setelah menerima telepon wajah Hermawan semakin membuat Vio merasa ketar-ketir. Sudah bisa di tebak apa yang akan terjadi.


"Siapa yang di ganggu Deri di sekolahnya Ma ?". tanya Hermawan.


"Namanya Yuka Pa, anak seorang perempuan yang belum menikah". jawabnya takut.


"Lalu ?".


"Dia meminta Mama datang ke sekolah menyelesaikan masalah ini tapi seperti biasa pihak sekolah juga sudah paham, tapi wanita itu datang ke sini dan mengancam Mama jika Deri tidak meminta maaf pada anaknya maka kita harus bersiap-siap, Mama kira itu hanya gertakan dia saja Pa ". ungkap Vio menjelaskan.


"Dan Mama tau, anak itu adalah anak pemilik Perusahaan yang investasinya mencapai lima puluh persen Ma, akibatnya perusahaan yang lain juga ikut-ikutan menarik dana mereka, Mama tidak tahu seberapa berpengaruhnya mereka di dunia bisnis Ma". jelas Hermawan pada istrinya.


"Mana Mama tau Pa kalo dia anaknya kan wanita itu punya anak tanpa suami, orang lain juga pastinya mikir dia itu wanita gak bener Pa".


"Ya ampun Ma, kamu mau kita jatuh miskin Ma haa". ujar Hermawan manahan emosinya.


"Jadi Mama harus gimana Pa ?". tanya Vio takut.


"Ajari anak itu sopan santun jangan suka semena-mena sama orang Ma, kalau sudah begini siapa yang rugi ? Makannya Mama juga jangan selalu manjakan dia, kayak gini kan akibatnya". ucap Hermawan dengan berapi-api.


"Kok Papa jadi nyalain Mama si ? Papa juga dong, selama ini ketika dia buat salah Papa cuma nyuruh Mama diam ajakan, Papa juga tinggal kasi uang tutup mulut selesai kan Pa. Papa yang ngajarin Mama begitu Pa jadi jangan nyalahin Mama dong Papa juga salah". balas Vio tak mau kalah.


Kedua orang itu bertengkar dengan alot membuat Vio tersulut emosi dan menghancurkan barang-barang yang bisa ia jangkau. Merasa tak terima karena ucapan sang suami.