The Return of Love

The Return of Love
57



Para perempuan memandangnya dengan senyum tapi tidak dengan kedua lelaki itu. Mereka menunjukkan wajah datar mereka. Hal ini tentu aneh bagi duta.


Bram tampak menarik nafas panjang. "Duta, Papa tau ini sudah sangat terlambat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di antara kita, tapi ini jauh lebih baik dari pada Papa hanya diam saja melihat anak Papa yang berbakti bahagia tapi tidak di depan Papa. Papa mungkin Papa yang egois karena telah memaksamu untuk melakukan apapun yang Papa minta bahkan sampai kebahagiaan mu pun kau rela melepaskannya. Sekarang waktunya Papa kembalikan apa yang harusnya kamu miliki dari dulu. Papa merestui hubungan kau dan juga Carissa, itu pun kalau Carissa mau menerima mu lagi ?" jelas Bram dengan santai dan tegas.


"Ya dia pasti mau Pa kembali lagi sama Duta gak usah di tanya soal itu". Jawab Duta cepat.


"Kamu ini terlalu percaya diri Duta, belum di tanya, kalau ternyata dia menolak kamu bisa apa ha ?". sahut Sarah geleng-geleng kepala.


Semuanya tertawa melihat Duta yang langsung menatap Carissa seolah meminta wanita itu untuk mengatakan iya.


"Duta, jika kamu sungguh ingin kembali dengan anak saya berjanjilah untuk selalu bersamanya dan membahagiakan dia dan juga anaknya, saya tak sanggup jika harus melihatnya sedih untuk ke dua kalinya, karena saya merestui kalian tolong jaga dia untuk saya". ucap Hamdan menatap sang Putri.


Carissa tak mampu menahan air matanya. Sebulir air mata lolos begitu saja.


"Saya pastikan Om Carissa selalu bahagia". Jawab Duta yakin.


"Jadi kalau sudah seperti ini kami sebagai orang tua Duta bermaksud untuk meminta Carissa sebagai menantu kami, memintanya sebagai istri dari anak kami Duta Prasetyo, apakah kamu bersedia menerimanya Carissa ?". Bram mengatakan ini tiba-tiba membuat Duta membulatkan matanya tak percaya.


Sarah terkejut mendengar permintaan suaminya itu tapi ia terlalu senang melihat suaminya yang paling bersemangat.


Carissa menatap wajah-wajah di sekitarnya dan terakhir menatap wajah Duta dengan senyum hangatnya. "Iya, Rissa mau". Jawab Carissa.


"Aku tau kamu pasti menerimanya". Sahut Duta.


Entah kenapa semenjak dekat kembali dengan Carissa Duta menjadi sedikit posesif dan juga bucin. Hal ini sangat kentara di rasakan oleh Sarah dan juga Bram. Duta yang seperti remaja yang sedang jatuh cinta sedangkan Carissa menjadi sosok dewasa yang mampu membuat Duta kehilangan wibawa di depannya.


Sarah berpindah duduk dekat Carissa dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia meraih cincin dan menyematkannya di jemari manis Carissa. "Mama yakin cuma kamu satu-satunya wanita penakluk hatinya Duta, terima ini sebagai tanda kamu sudah jadi menantu Mama".


"Syarat apa Pa, uda di restui kenapa masih pake syarat si ". gerutu Duta.


"Kamu selesaikan dulu masalah di perusahaan yang ada di kota K, selesai itu baru kamu boleh kembali ke sini, tapi jika kamu tidak mau jangan harap pernikahan itu terjadi ". jawab Bram.


Semuanya tampak menahan senyum hanya Duta yang terlihat seperti orang bodoh.


__________


"Kalau kamu gak sanggup pergi ke sana gak papa Duta jangan di paksakan ". ucap Carissa meletakkan secangkir kopi di hadapan Duta.


Saat ini tinggal mereka berdua yang ada di rumah itu, orang tua mereka telah kembali ke rumah masing-masing.


"Aku harus kesana Rissa, aku gak mau menunggu lebih lama lagi, selama ini sulit mendamaikan ke dua lelaki itu, tapi entah dari mana datangnya keajaiban itu sampai membuat mereka begitu cepat merestui kita".


"Aku tak akan memaksamu untuk pergi ke sana". sahut Carissa menyunggingkan senyumnya.


"Apa kamu gak mau menikah dengan ku ?" Tanya Duta.


"Emm tanpa harus menjadi istri mu aku sudah memiliki Yuka di hidupku ". jawab Carissa santai.


"Carissa ".


"Iya iya aku becanda, lekas lah pergi dan cepatlah kembali aku menunggumu begitu juga Yuka ". Jawab Carissa gemas melihat Duta yang jadi suka ngambekkan.