
Saat malam semua orang yang berada di ruangan itu pergi menyisakan Duta seorang yang setia menemani istrinya.
"By, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu". ujar Mayang membuka percakapan.
"Bicaralah yang, aku mendengar mu". balas Duta.
Mayang menarik nafas panjang. "Aku ingin kamu bertemu dengan Carissa, minta maaflah padanya, dan aku ingin kamu menikah dengannya".
"apa ??". Duta terkejut mendengar pernyataan dari istrinya itu.
"By ku mohon hanya itu yang aku inginkan saat ini". pinta Mayang.
"Aku gak bisa yang, maaf untuk kali ini aku gak bisa nurutin keinginan kamu". tolak Duta.
"kenapa ?" protes Mayang.
"Kamu istri aku yang, gak mungkin aku ngelakuin itu, apa kata mereka nanti". jawab Duta cepat.
"gak usah mikirin mereka by, ini kemauan aku, aku yang mau, apa karena Papa kamu ?" balas Mayang.
"Kamu tau betapa kerasnya Papa yang, dan aku gak mau kejadian itu terulang lagi, aku gak mau menyakiti dia lagi". terang Duta.
"berarti kalau Papa gak keras sama kamu kamu mau ? apa itu artinya kamu masih cinta sama dia". ucap Mayang
"By, sudah malam lebih baik kita tidur, kamu jangan mikir itu lagi". Ajak duta menyelimutinya.
Duta gelisah dalam tidurnya, kata-kata itu masih terngiang di kepalanya, dia tidak habis pikir bagaimana Mayang bisa berfikiran seperti itu. Mayang sendiri masih betah membuka matanya.
Ia mengambil Handphone miliknya mengirimkan pesan singkat untuk seseorang.
Keesokan paginya Duta bersiap untuk pergi ke kantor, hal mendesak yang membuatnya harus meninggalkannya sebentar.
Bram dan Sarah sudah berada di kamar itu untuk menemani menantu satu-satunya itu menggantikan Duta yang akan pergi.
"Pa, Mayang ingin ngomong sesuatu sama Papa". ujar Mayang pada Bram Mertuanya.
"Bicaralah Papa akan dengarkan". balas Bram.
"Umurku mungkin sudah gak lama lagi Pa, dan aku punya permintaan sebelum aku pergi dan itu hanya bisa terjadi kalau Papa yang mengizinkannya ".ujar Mayang.
"Apa itu, kenapa harus izin Papa". heran Bram mendengarnya.
"Aku mau Duta menikah dengan Carissa dan Papa merestui itu". ucap Mayang sukses membuat mata Bram mendelik.
Bram terdiam di tempatnya, sementara Sarah terkejut mendengar permintaan menantunya itu.
"Aku tau semuanya Pa aku tau tentang masa lalu Duta dan Carissa". jawab Mayang.
Bram memalingkan wajahnya dari Mayang, ia tak menduga jika Mayang mengetahui tentang wanita yang dulu pernah ia tolak mati matian untuk bersama anaknya.
"Sudah bertahun-tahun wanita itu menghilang tidak tau di mana keberadaannya sekarang, dan perlu kamu mengerti kalau Papa tidak akan pernah mengizinkan apalagi sampai merestui mereka, Papa gak mau punya menantu wanita seperti itu". ucap Bram.
"Aku yakin Papa tau di mana Carissa saat ini, gak mungkin Papa diam aja saat Papa uda ketemu sama dia, Pa dia wanita baik-baik, tidak mungkin Duta mendekatinya waktu itu jika dia tidak baik Pa, apa karena status keluarganya yang tidak sepadan dengan Papa ? Pa tidak ada gunanya semua yang kita miliki jika bahagia pun harus kita paksa paksaan ". jelas Mayang.
"Intinya sampai kapan pun Papa tidak akan membiarkan hal itu terjadi ". kekeh Bram pada pendiriannya.
"Bahkan sampai aku mati Pa ?". balas Mayang.
"Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu, kita semua di sini menginginkan kesembuhan kamu". ucap Sarah beranjak dari duduknya mendekati Mayang.
"Ma, nanti kalau aku udah gak ada Duta akan sendiri Ma, dan dia pasti membutuhkan seorang istri untuk mengurusnya dan Carissa adalah wanita yang tepat untuk Duta, karena mereka sudah saling cinta Ma, Mama bisa lihat sendiri kan waktu itu, dia wanita yang baik". papar Mayang
"Mama pernah bertemu dengannya ?" tanya Bram pada Sarah istrinya.
"Iya Pa, sudah waktu itu Mayang ajak Mama ke cafe temennya dan temennya itu adalah Carissa dan cafe itu juga miliknya ". balas Sarah.
"Pa, May mohon sama Papa kasih kesempatan untuk mereka dekat kembali biar Papa tau bagaimana Carissa sesungguhnya biar Papa juga bisa ngerasain baik dan tulusnya seorang Carissa Pa". bujuk Mayang.
"Apa yang udah Papa putuskan tidak bisa di ganggu gugat May, jangan pernah bicarakan hal ini lagi sama Papa. Papa harap kamu paham Mayang dan ingat, kamu tetap jaga batasan kamu". sergah Bram.
"Tapi paa,,,," ucapan mayang terhenti begitu saja saat Bram keluar dari ruangan itu. Wajahnya terlihat sedih melihat Bram yang tetap bersikeras dengan keputusan yang bisa di bilang berat sebelah alias egois.
"Sayang, Mama tidak mau dengar kamu bicara seperti itu lagi ya, kamu fokus sama kesehatan kamu jangan yang lain". pinta Sarah pada mantunya itu.
"Ma, Mama bisa ngerasain apa yang aku rasain kan Ma, aku ngerasa Mama enggak seperti Papa, aku juga tau kalau sebenarnya Mama gak setuju dengan Papa kan Ma, Ma ayolah Ma, ini demi anak Mama, demi kebahagiaan Duta Ma, Mama mau Duta merasakan perjodohan untuk yang ke dua kalinya, dengan wanita yang enggak dia suka apalagi semua demi bisnis ? Duta berhak menentukan dengan siapa dia akan menikah dan Mama tau kan siapa wanita itu ? sampai saat ini Ma, saat ini perasaan dia gak berubah untuk Carissa meskipun dia suami Mayang Ma". ungkap Mayang.
"Sayang, cukup nak, jangan di lanjutkan lagi Mama tau apa yang kamu mau, tapi bagaimana dengan kamu nak ?". ucap Sarah.
"Ma jangan mikirin gimana aku, waktuku gak panjang Ma, sedangkan Duta ? Dia punya banyak waktu untuk terus melanjutkan hidupnya, gak mungkin dia akan sendiri sampai tua kan Ma, yang bener aja, dan Papa pasti akan ikut campur dalam hal ini." balas Mayang.
"Mama gak bisa berbuat banyak untuk saat ini, Mama gak bisa mikir nak, yang Mama pikirkan cuma kesehatan kamu, sudah ya kalau memang mereka berjodoh seberat apapun rintangannya nanti kalau mereka di takdirkan bersama pasti akan bersatu juga dan kamu jangan memaksakan yang bukan kuasamu, kamu pasrahkan saja ". jelas Sarah.
Bram berdiri di luar kamar mendengarkan semua apa yang di ucapkan ke dua wanita itu. Selama ini dia berusaha menahan diri untuk tidak mengusik Carissa, tapi saat Mayang mengetahui tentang itu dia tidak bisa untuk diam saja. Hatinya masih di penuhi amarah. Dia belum bisa menerima Carissa bagian dari hidup Duta.
Bram masih merasakan sakit hati dengan Ibunda Mayang dulu saat pertama kali ia jatuh cinta pada wanita itu, ia begitu mendambakan wanita yang di sebut sahabat olehnya itu tapi menolaknya karena orang tuanya tak merestuinya karena saat itu keluarga Bram bukanlah keluarga berada.
Dan saat itu ia bertekad untuk sukses agar ia tak merasakan kembali di remehkan. Sejak saat itulah muncul rasa benci pada Carissa saat mengetahui kebenaran jika Carissa adalah anak dari wanita yang dulu di cintai tapi di tolak oleh kedua orang tuanya.
Ia ingin membalikkan dan juga memberitahu kepada mereka bagaimana rasanya tidak di terima dan di remehkan saat tidak punya apa-apa. Kini posisi itu seolah berbalik kepada anaknya sendiri yang terhalang restu olehnya.