The Return of Love

The Return of Love
72



Di tempat lain, Riko dengan wajah lebamnya terduduk di sebuah kursi, saat ia sadar dari pingsannya ia ngamuk dan teriak-teriak meluapkan amarahnya yang belum tuntas, ia mengumpat Bram, Duta bahkan Carissa.


Setelah merasa lelah ia diam, ia menatap dirinya sendiri, ia kasihan melihat dirinya yang begitu menyedihkan.


Pintu terbuka menampakkan sosok lelaki yang ia kenal dan kagumi tapi berakhir ia benci. Bram, lelaki itu masuk bersama dengan Sarah yang turut ikut bersamanya, berjalan di sisi kanan Bram.


Semburat merah mulai terlihat kembali di wajah Riko yang baru saja padam. Napasnya terlihat naik turun melihat Bram yang mendekat tanpa ekspresi datar. Lain halnya dengan Sarah, wanita itu terlihat habis menangis.


Bram dan Sarah duduk di hadapan Riko. Bram sudah tau segalanya yang membuat semua ini bisa sampai terjadi. Tak menampik kejadian ini juga menyangkut dirinya.


"Kenapa kau lakukan ini ?". Tanya Bram.


"Tentu saja untuk membalaskan sakit hatiku, hidup mu terlalu senang sampai kau lupa ada seseorang yang tersiksa hidupnya bertahun-tahun karena ulah mu". sahut Riko.


"Mengertilah saat itu saya tidak benar-benar ingin menabraknya, saya terlalu terburu-buru sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi, saat itu saya tidak lari, saya ikut mengantar Papa mu ke rumah sakit, sungguh saya benar-benar ingin bertanggung jawab. Saya juga datang ke rumah Mama mu bersama istri saya". ucap Bram mencoba menjelaskan.


"Kenapa kau datang lagi ha ? apa kau tau betapa susahnya Mama ku menjalani hidupnya seorang diri dengan tekanan batin, membesarkan anak seorang diri tanpa punya pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya ? kau tau jiwanya terguncang, aku sampai membawanya ke rumah sakit jiwa karena ulah mu". Riko sungguh mengucapkannya dengan berapi-api. Badannya bergetar mengatakan apa yang selama ini ia alami bersama ibunya.


"Saya tidak pernah lari, saya memberikan kartu namaku padanya, beberapa bulan setelahnya saya langsung pindah ke kota ini, bukan saya lari dari tanggung jawab, saya juga gelisah menunggu kabar Mama mu, tapi beliau tak kunjung menghubungi ku". Jelas Bram.


"Dasar pembunuh cihh".


Sarah berdiri mendekati Riko. Ia berlutut di sampingnya. "Maafkan atas kesalahan suami saya, semua terjadi tanpa di sengaja, sungguh benar saat itu memang kesalahan dia karena hari itu adalah hari pernikahan kami, aku menelfonnya agar lebih cepat berkendara sampai tak memikirkan resikonya, jika kamu ingin marah dan membalaskan sakit hatimu aku lah orang yang harusnya menerima semua ini, akulah yang seharusnya kau tabrak saat di depan butik itu, akulah orangnya yang harus kau tusuk bukannya Duta. Salahkan saja aku". ucap Sarah lirih menahan sesaknya.


Duta terdiam, ia tak menyangka Sarah melakukan hal ini, ia begitu tak tega melihatnya, seorang istri sekaligus ibu memohon kepadanya, ia menarik ke dirinya sendiri. Ia terdiam begitu lama menatap nanar Bram dan Sarah bergantian sampai pintu ruangan itu terbuka mengalihkan atensinya.


"Mama".


Salma masuk ke ruang itu dengan gontai. Ia segera mendekat pada Sarah yang masih berlutut di hadapan anaknya itu. Ia meraih punggung wanita itu untuk berdiri.


"Tidak pantas seorang ibu berlutut seperti ini, seorang ibu tak pantas mengiba". Ucap Salma mendudukkan Sarah kembali.


Lantas Salma beralih menatap Riko yang masih terdiam. "Mama sudah bilang padamu cukup Nak, jangan melakukan apa pun, Mama sudah ikhlas dan melupakannya, perbuatan kamu sudah sangat keterlaluan Riko, sudah berapa banyak yang tersakiti karena ini Nak ? Ko, benar jika kecelakaan itu tidak di sengaja oleh Pak Bram semua murni ketidak sengajaan, wajar jika saat itu Mama marah dan membencinya karena Mama masih belum bisa menerima kenyataannya, Percayalah Nak, semua yang terjadi sudah menjadi takdir kita". Ucap Salma menenangkan Riko.


Inilah yang selama ini ia takutkan dan benar saja kejadian. Ia tahu kepindahan mereka ke sini tidak lain hanya untuk membalaskan kematian ayahnya yang tak pernah ia lihat wajahnya.


Bram berdiri membuka ikatan pada Riko ia berlutut di hadapannya dan meminta maaf dengan tulus. "Maafkan saya, jika memang dengan kematian saya bisa membuat kamu puas lakukanlah tapi tolong biarkan anak saya hidup bersama wanita pilihannya".


Duta sangat beruntung memiliki Ayah yang selalu mengedepankan kebahagiaannya, sedangkan Riko ia harus berjuang sendiri. Logika Riko menolak apa kata hatinya.


"Nak, kita sudahi ini belajar ikhlas supaya hidup kita tenang, maafkanlah yang sudah terjadi sungguh akan terasa mudah jika hal itu kamu lakukan, hatimu akan merasa tenang". Salma tak hentinya mengusap pundak anaknya itu, mencoba untuk menenangkannya.


"Semua demi Mama". Ucap Riko lalu berdiri merangkul Salma. mereka berjalan keluar dari tempat itu. Saat ini Riko masih dengan emosinya yang masih ada. Ia mencoba menerima entah bisa atau tidak yang pasti demi sang Mama ia akan melakukanya.


Bram masih saja berlutut sampai Sarah membawanya untuk duduk menenangkan dirinya. "Pa, semua sudah selesai semoga Riko benar-benar memaafkan kita, sungguh sangat besar hati sekali menjadi Salma, semoga saja semua berlalu dan baik-baik saja".