
Duta sampai di rumah Carissa, ia keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Di lihatnya Carissa berdiri menunggunya dengan wajah sembab karena tangisan yang belum reda.
Wanita itu semakin kuat tangisannya saat Duta memel*uknya untuk menenangkan dirinya.
"Kamu sabar dulu ya, kamu tenang dulu bicaranya pelan-pelan".
"Gimana aku bisa tenang kalo anakku hilang padahal aku hanya keluar mobil sebentar Duta".
"Kamu ingat ciri-ciri orang yang naik motor itu ?" tanya Duta.
"Aku gak ingat Duta, kejadiannya begitu cepat aku turun ingin mengatakan maksudnya menghadang jalanku, dia cuma membuka kaca helmnya setelah itu dia pergi, saat aku kembali masuk Yuka udah gak ada di mobil". tangis Carissa pecah menceritakan kejadian itu. "Kita harus segera lapor polisi Duta ayok kota kesana aku takut Yuka kenapa-kenapa".
"Kita belum bisa lapor sayang, kamu tenang dulu, aku telfon Papa dulu". sahut Duta.
Duta mengambil handphone yang berada di saku celananya segera menelfon Bram Papanya dan menceritakan apa yang terjadi.
"Duta mohon Papa bantu cari ya Pa, suruh kaki tangan Papa selidiki Pa, Duta takut ini ulah saingan bisnis kita".
Panggilan itu terputus. Duta kembali memel*uknya.
"Kamu udah kasi tau Bunda sama Ayah ?". tanya Duta.
"Udah, mereka lagi di jalan kesini ".
Saat itu rumah Carissa begitu lengkap dengan datangnya kedua orang tua mereka, saat seperti inilah yang pasangan itu harapkan. Tapi kedatangan mereka hanya karena cucunya yang menghilang bukan karena mereka merestui hubungan keduanya.
"Inilah kenapa Ayah gak setuju kalau kalian kembali bersama, dari awal Ayah udah yakin pasti sesuatu yang buruk akan terjadi, dan lihat sekarang benarkan ". ucap Hamdan sinis.
"Yah, ini bukan saatnya ngomong seperti itu, pikirkan gimana perasaan Carissa Yah, dia sedang tidak baik-baik saja". Rahma menenangkan suaminya yang sedikit emosi.
"Bunda bisa lihat sendiri kan, karena mereka Yuka dalam bahaya, bagaimana nanti bisa-bisa anak kita juga dalam bahaya". sahutnya lagi.
"Sekarang bukan saatnya untuk mendebatkan ini, kita di sini sama-sama untuk menunggu kabar". ucap Bram
Handphone milik Duta berdering ia pun mengangkatnya dengan cepat berbicara dengan orang yang berada di sebrang sana.
Semua orang menanti apa yang di sampaikan orang tersebut.
"Gimana Duta, apa katanya ?". tanya Carissa cepat.
"Di lihat dari cctv dekat rumah yang tidak jauh dari mobil kamu berhenti, ada mobil yang memang sudah menunggu di situ, dan gak lama setelahnya Yuka memang di bawa masuk ke dalam mobil itu dalam keadaan pingsan". jelas Duta pada semuanya.
"Posisinya jauh Pa dari cctv dan lagi ini memang sudah terencana sama mereka, mereka masih cek cctv dari tempat yang lainnya ".
Ting. bunyi pesan di handphone Carissa.
"Sebaiknya anda menjauh dari hidup Duta, dia tidak pantas untuk anda, jika mau anak ini selamat tinggalkan dia kalau tidak nyawa anak ini akan jadi taruhannya ". isi pesan tersebut yang bisa di baca Duta.
Mata Carissa terbelalak saat orang tersebut mengiriminya foto Yuka.
Miris sekali, mulutnya di lakban kaki dan tangannya di ikat badannya tergeletak di lantai.
Melihat itu Carissa tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya, tangisnya pecah begitu saja, ia tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan putra semata wayangnya itu.
"Duta, lihatlah dia pasti merasakan sakit di sana lakukan sesuatu tolong Duta kasihan Yuka dia gak ngerti apa-apa ". ujar Carissa.
"Kamu ambil laptop kamu aku butuh itu". titah Duta pada Carissa.
Carissa berjalan menuju kamarnya dan kembali membawa apa yang di minta lelaki itu.
Duta membuka laptop itu dan tangannya bergerak dengan cepat, tidak tau apa yang ia ketikkan di situ yang bisa orang-orang di sekitarnya lihat hanya ada angka-angka yang mereka tidak tau itu angka apa.
"Pa, suruh mereka ke daerah M sekarang Pa, suruh mereka cek mobil yang masuk sekitar jam tiga dan empat". ucap Duta pada Bram.
Bram dengan cepat melakukan apa yang di minta Duta.
"Mereka membawa Yuka ke daerah M, Carissa coba kamu telfon nomor yang tadi". pinta Duta.
"Nomornya udah gak bisa di hubungi lagi". jawab Rissa.
Rahma dan juga Sarah yang duduk di samping Carissa menenangkan wanita yang hatinya sedang kalut memikirkan dimana anaknya berada. Tangisnya tak henti saat hari sudah menjelang malam.
Semua yang berada di situ tidak bisa berbuat banyak selain menunggu informasi dari suruhan mereka.
"Sayang, kamu makanlah dulu, biar ada tenaganya". ucap Rahma.
"Enggak Bund, Rissa gak laper, Yuka udah makan apa belum ya Bund". sahut Carissa
Duta teriris hatinya melihat Carissa seperti itu. Ia merasa bersalah karena memaksakan ingin kembali di kehidupan Carissa. Ia yakin ini adalah ulah orang yang tidak menyukainya, mereka tidak bisa melukainya tapi mereka bisa melukai orang-orang di sekelilingnya.