
Carissa meraih kunci mobilnya dengan terburu-buru. Ia membawa mobilnya keluar dari area cafe miliknya membelah jalanan yang cukup padat di jam makan siang seperti ini.
Paniknya Carissa membuat ia hampir saja menabrak pengendara yang berada di depannya. Kabar pingsannya Yuka di sekolah membuatnya menjadi kalut.
Sesampainya di sekolah ia langsung menuju UKS di mana anaknya berada. Guru yang menemaninya menjelaskan bahwa selama belajar Yuka terlihat lemas pucat dan tak bersemangat. Hal ini yang membuat gurunya mengajak Yuka untuk istirahat di UKS namun saat hendak berjalan badannya terhuyung ke lantai.
Saat itu juga ia membawanya ke Rumah sakit. Dokter mengatakan jika kondisi Yuka saat ini harus di rawat inap terlebih dahulu untuk lebih memastikan dugaan sang dokter dengan melihat ciri-ciri gejala yang di lihatnya.
"Ma" panggil Yuka saat melihat sang Mama duduk di sofa ruang rawatnya.
"Ya sayang, kamu sudah bangun sayang, apa kamu masih pusing ? atau kamu ingin sesuatu ?" ia mengusap bulir yang tak bisa ia tahan melihat putranya terbaring lemah.
Setelah bertemu dokter tadi Yuka segera melakukan medical check up atas permintaan Carissa yang khawatir dengan kondisinya.
Selama ini ia selalu melihat kondisi anaknya yang ceria dan banyak tanya tapi tidak kali ini. Kalaupun ia sakit tidak sampai seperti ini.
Ia tak lantas menjawab, melihat wajah sendu Mamanya membuatnya merasa bersalah. "Yuka oke Ma, maaf kalau Yuka buat Mama khawatir".
"No sayang, kamu ingin sesuatu ?"
Setelah melewati serangkaian cek lab. Dan baru ini ia terbangun akibat efek obat yang di minumnya.
Pintu terbuka menampakkan wajah Ayah Bunda dan Reno adiknya. Melihat itu Carissa merasa tidak sendirian untuk menghadapi kenyataan yang belum pasti ia tau.
____________
Hancur hati seorang ibu mengetahui jika anaknya yang masih kecil menderita kanker stadium lanjut. Bagaimana bisa ia tidak menyadari perubahan pada kondisi anaknya padahal ia selalu memperhatikan anaknya itu.
Sedih sudah jangan di tanya lagi, kecewa pada diri sendiri sudah pasti.
Sebenarnya selama ini yuka sudah menyadari jika tubuhnya tidak baik-baik saja sebelum mereka pindah ke kota ini tapi Yuka selalu bisa menutupi semuanya dari sang Mama. Ia sebenarnya juga tidak tau jika penyakit kronis ini sudah mengintainya sejak lama, yang ia tau dan rasakan ia selalu merasa pusing dan pandangannya yang mulai tidak jelas tapi ia menganggap jika itu hanya sakit biasa saja.
Carissa berjalan sempoyongan hendak masuk ke kamar sang putra. Ia menegarkan hatinya terlebih dahulu untuk bersikap biasa saja di hadapan semuanya terutama Yuka.
Selama dua hari berada di Rumah Sakit Ibu dan anak itu terlihat saling menyembunyikan kegelisahan masing-masing.
"Ma, Yuka bosan di kamar terus dari semalam, kapan kita bisa kembali ke rumah Ma ?"
"Besok kita sudah bisa pulang sayang, tunggu kabar dari dokter sore ini".
"Bisakah kita ke luar Ma ?"
Carissa berfikir sejenak untuk mengiyakan atau menolak permintaan anaknya ini.
"Ma, ayolah Yuka akan semakin sakit bila terus berada di sini".
"Baiklah, kita akan pergi ke luar tapi janji hanya sebentar karena ini sudah mau sore".
Keduanya menyusuri lorong Rumah Sakit hendak ke Taman.
"Yuka, Mama akan ke toilet kamu tunggu sebentar di sini ya tetap berada di kursimu dan jangan coba-coba untuk berjalan". perintah sang Mama.
Tak lama setelah kepergian Carissa.
"Halo, kita bertemu lagi ". Ucap seseorang yang sedang melewati Taman dan melihat Yuka sendiri berada di situ.
"Yah, sepertinya begitu om".
"Sepertinya kau sedang sakit ?"
"Seperti yang Om lihat, tapi sebenarnya ini bukanlah apa-apa jadi bersikap biasa saja jangan mengasihani aku". sergah Yuka yang melihat wajah mengasihani dari orang tersebut.
"Kamu ini seperti bukan anak-anak pada usiamu, kau seperti sudah dewasa".
"Aku memang harus seperti ini aku tidak ingin membuat Mamaku sedih".
"Baiklah anak baik, apa boleh kita berteman ?" Ia mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Yuka.
Ya lelaki itu adalah Duta yang tengah menjemput Mayang sehabis kemoterapi bersama Mamanya.
"Apakah kau butuh bantuan ?".
"Tidak Om, aku menunggu Mama sebentar lagi ia akan datang".
"Baiklah jika begitu Om pergi dulu, semoga di lain waktu kita bertemu kembali".
"Ya semoga saja Om".
Saat Duta beranjak dari posisinya yang berjongkok di hadapan Yuka, Carissa melihat punggung kekar itu berlalu menjauh dari anaknya.
"Siapa yang barusan bicara sama kamu Sayang ?"
"Om yang pernah jumpa sewaktu di kota B Ma".
"Yuka tetap ingat pesan Mama kan ?"
"Ingat Ma, jangan berbicara dengan orang asing apalagi mencari tahu tentang kita".
"Oke baiklah sekarang waktunya kita kembali ke kamar ya, sebentar lagi dokter akan datang untuk mengecek kondisi kamu". Sambil mendorong kursi roda.
_________
"Ma apa kata dokter tadi, Yuka sakit apa Ma ?".
Ya Tuhan sanggupkan aku untuk mengatakan ini padanya. Aku yakin dia kuat dan bahkan sampai detik ini dia selalu bisa menyembunyikan rasa sakitnya dariku.
"Sayang, dokter bilang kamu akan sembuh yang penting kamu minum obat dan beristirahat".
Yuka tak mengatakan apapun, dia hanya mengingat apa diagnosa dokter untuknya.
Diam-diam ia men searching tentang penyakitnya di internet. Ahh entahlah readers anak seusianya sudah bisa mencari informasi itu melalui handphonenya. Menakjubkan sekali bukan.