
Hamdan tak mengelak jika kini putrinya memang terlihat lebih baik, bagaimana pun ia tak ingin menghalangi kebahagiaan sang anak tapi di sisi lain ia masih merasakan sakit hati.
" Yah, Carissa melakukan ini bukan untuk diri Rissa sendiri tapi juga untuk cucu Ayah. Ayah tau sewaktu Rissa mengandungnya sampai mengurusnya sendiri Rissa pikir Rissa akan ngajarin dia banyak hal, tapi nyatanya malah Yuka yang ngajarin Rissa banyak hal Yah. Di umur dia yang harusnya bermanja-manja tapi dia malah mandiri sangat paham bagaimana Rissa saat itu Yah, dia tau semuanya tentang Daddy nya, termasuk pertemuan kita waktu itu juga idenya dia. cita-cita dia cuma ingin Rissa bahagia sama seperti cita-cita Rissa ke Yuka". ungkap Carissa berlinang air mata. Duta menggenggam tangannya menguatkan wanita itu .
"Apa salah jika Rissa memilih bahagia Rissa sendiri Yah sekalipun dengan orang yang hancurkan perasaan Rissa ? sampai kapanpun Ayah tetaplah cinta pertama bagi Carissa, gak ada cinta yang lebih hebat dari cinta Ayah termasuk cintanya Duta. Tapi Rissa ingin memiliki cinta yang lain Yah sampai tanah yang memisahkan, karena cinta Rissa ke Yuka nantinya juga akan pergi Yah, dia juga akan menemukan cinta yang baru saat dia dewasa". suara Carissa sedikit bergetar dan Duta bisa merasakan itu.
"Sebegitu besarnya cinta kamu sama dia ?". sahut Hamdan menatap Duta.
"Bagaimana cinta Rissa ke Ayah, begitu juga cinta Rissa ke Duta Yah". jawab Carissa mantap.
Hamdan menatap Duta yang sedari tadi menggenggam tangan Carissa hanya untuk menenangkan wanita itu.
"Bun, kita pulang sekarang". ujar Hamdan tiba-tiba dan berjalan keluar dari rumah Carissa.
Rahma yang kaget dengan ajakan yang spontan itu hanya bisa mengikuti langkah suaminya. Bagaimana pun juga dia harus menenangkan hati suaminya. Masa lalunya juga yang membuat keadaan menjadi pelik begini.
Rahma sendiri merasa bersalah karena telah meninggalkan Bram yang saat itu menjadi kekasihnya demi mengikuti keinginan Papanya. Ia tak menyangka jika anaknya jatuh cinta dengan anak mantan kekasihnya di masa lalu.
Rahma juga sudah melupakan masa itu, ia ikhlas menerima takdir yang di gariskan untuknya.
"Sayang, kamu harus sabar menghadapi Ayah ya, Bunda selalu mendukung apapun keputusan kamu, dan kamu Duta, saya percaya kamu bisa membahagiakan anak saya dan tidak lagi pergi meninggalkannya untuk ke dua kalinya setelah dia bisa memaafkan dan menerima kamu kembali". ujar Rahma sebelum pergi meninggalkan pasangan muda itu.
Duta membawa Carissa dalam peluk*annya, membiarkan wanita itu menangis di dekapannya ia tau saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Rissa merutuki nasibnya yang malang, ujiannya tiada henti, saat ini cinta mereka di uji oleh Ayahnya dan juga Papa Bram.
"Semua akan baik-baik saja Riss, kita jalani pelan-pelan ya". ujar Duta
"Aku lelah bolehkan aku istirahat dulu". ucap Carissa lemah pada Duta.
Duta membawa Carissa menuju kamarnya. Ia membantu Carissa merebahkan badannya dan menaikkan selimut sampai menutupi setengah badannya.
"Kau tau aku selalu bersyukur walaupun keadaannya seperti ini". ucap Duta memandangi wanita yang tengah memejamkan matanya itu.
"Aku gak pernah ngebayangin sebelumnya, di usiaku yang menginjak dua puluh enam tahun duda lagi, aku bisa di pertemukan kamu lagi wanita yang aku tau bernama Carissa, wanita tangguh yang melahirkan anak sehebat Yuka. Terima kasih sayang".
Carissa walaupun matanya memejam ia masih dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Duta. Matanya terbuka dan kaget saat Duta mengec*up bibirnya sekilas.
"Jangan di buka matamu, terpejamlah lagi jika kamu masih ingin istirahat dengan tenang". ucap Duta sambil tersenyum miring.