
Pergerakan Carissa membuat Duta terbangun. Matanya mencari keberadaan Yuka. Ia melihat jam yang masih menunjukan pukul satu malam dan ia pergi ke kamar lain memastikan Yuka ada di sana.
Melihat Yuka yang tertidur pulas ia pun kembali ke kamarnya dimana Carissa berada. Ia menatap paras Carissa yang dulu selalu membuatnya merasa baik-baik saja bahkan sampai sekarang, wajah Carissa selalu bisa mengalihkan dunia bagi Duta.
Carissa membuka matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah Duta yang tersenyum menatapnya. "Di mana Yuka ?". tanya Carissa menyadari Yuka tidak bersama mereka.
"Dia terbangun dan pindah ke kamarnya". sahut Duta.
"Baiklah aku akan menyusulnya". ujar Carissa menyibakkan selimutnya.
"Percuma kamu ke sana, kamarnya di kunci dari dalam". jawab Duta bohong.
Carissa bingung apa yang harus ia lakukan, tidak mungkin ia membangunkan Yuka di jam segini dan gak mungkin juga ia tidur di luar sendirian.
"Kembali tidurlah Riss, ini masih jam satu ". ucap Duta mengerti apa yang di pikirkan Carissa.
"Baiklah, aku akan tidur di sini tapi tetap ada pembatas di sini" ucap Carissa lalu meletakkan guling di antara mereka.
"Karena kita sudah tidur bersama.."
"Mudah sekali kau bilang kita sudah tidur bersama, Duta, terlepas dari masa lalu kita tolong perbaiki kata-kata mu barusan". sela Carissa.
"Baik, karena kita sudah tidur di ranjang yang sama, bisakah kau memaafkan atas apa yang aku lakukan sebelumnya ?".
"Lupakanlah, tidak pernah ada yang terjadi pada kita itu hanya kecelakaan".
"Tolong jawab Carissa".
Carissa menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah, kau membuatku memaafkan mu tapi apa kau tau dimana sesungguhnya letak kesalahannya itu ?".
"Aku tau, dan beberapa hari ini aku sudah memikirkannya dari mulai sejak dulu sampai sekarang". Duta memiringkan badannya menghadap Carissa
"Lihat aku Carissa ". Pinta Duta
Carissa menatap ragu-ragu melihatnya.
"Setelah kau pergi apa kehidupan mu baik ?". tanya Duta
" Carissa apa masih ada kesempatan buat kita bersama lagi ?". tanya Duta mode serius.
" Kita hanya di takdirkan bertemu bukan untuk bersama bahkan aku tidak berani memikirkan untuk mencintaimu lagi setelah waktu itu". jawab Carissa.
"Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini Riss, beda dengan kamu yang dulu".
" Wajar saja jika aku bersikap seperti ini, kau tau sebagian orang memilih pergi menjauh hanya untuk menjaga kewarasan diri akupun demikian aku hanya ingin menjaga kewarasan ku, karena sangat sakit rasanya ketika kita tidak bisa bersama padahal ada penguat di antaranya. Ku beritahu padamu, aku bukanlah Carissa yang dulu kau kenal dan wanita itu sudah mati dengan perasaannya yang hancur, dan yang sekarang kau lihat di hadapan mu ini adalah Carissa yang berbeda".
"Maaf untuk itu Rissa, Ku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi aku akan perjuangin kamu siapapun nantinya yang akan menentangnya".
"Termasuk Papamu ?".
"Iya termasuk Papa dan juga keluarga mu nantinya jika mereka juga tidak bisa menerima ku ". jawab Duta meyakinkan.
"Duta, segalanya tidaklah gampang hanya dengan omongan. Aku kuat tapi aku juga lelah dengan semuanya, aku ingin hidup dengan tenang dan nyaman bersama anakku".
"Rissa, aku serius aku ingin kita bersama lagi membesarkan Yuka bersama-sama, melihatnya tumbuh menjadi dewasa sampai kita tua Rissa".
Carissa tersenyum getir. " Kau tidak tau apa yang sudah aku lewati dan rasain bersamanya, makannya aku tidak lagi peduli tentang sosok Ayah baginya, karena aku merasa apa yang aku beri buat Yuka semuanya sudah mewakilkan sosok figur Ayah". jelas Carissa.
"Itu menurut mu tapi tidak dengan Yuka, dia butuh sosok Ayah, apa kau tega jika dia harus meminta orang lain untuk menjadi ayahnya sementara dia sudah tau akulah Ayahnya ? Rissa aku ingin menebus semuanya untuk waktu yang kalian lewatin tanpa aku ". ungkap Duta.
Carissa terdiam, ia membalikkan badannya memunggungi Duta. Ia tak tau harus berkata apa lagi hatinya juga sama seperti keinginan Yuka tapi logikanya menolak.
Duta merapatkan tubuhnya pada Carissa, ia melingkarkan tangannya di pinggang Carissa. Carissa tak bisa berbuat apa-apa karena pelukan Duta sangat kuat.
"Ku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi Carissa, aku ingin hanya aku laki-laki yang ada untuk mu dan juga Yuka aku tidak bisa menerima ada lelaki lain di antara kalian selain aku". ucap duta.
Carissa tak menjawabnya. Ia sibuk dengan perasaannya. Sementara Duta ia menghirup aroma wangi rambut Carissa dalam-dalam yang membuatnya ingin selalu menciumnya.
Cukup lama mereka di posisi itu.
"Aku merindukan Carissa yang dulu". bisik Duta tepat di telinga Carissa.
Tak ada respon yang Carissa berikan, Duta pun menyamankan posisi mereka saat tau orang yang berada di dekapannya malah tertidur dengan nyamannya.