The Return of Love

The Return of Love
71



Duta mengerjapkan matanya, pelan-pelan ia membuka mata yang lama terpejam itu. Carissa merasakan tangan Duta bergerak di dalam genggamannya.


Cantik, wajah cantik Carissa itulah yang pertama kali ia lihat, senyum bercampur sedih yang dapat ia lihat dari wanita yang amat ia sayangi itu.


Carissa dengan segera menekan tombol yang langsung terhubung dengan suster agar segera datang ke ruang rawat di mana Duta berada.


"Kenapa menangis ?" Duta menghapus jejak air mata yang terlihat di pipi Carissa dan wanita itu tak menolaknya sama sekali.


Carissa cukup syok dengan adegan penusukan Duta tepat di depan matanya, ia tak menyangka Riko orang yang selama ini ia anggap sahabat bahkan keluarga baginya dengan tega melakukan hal itu.


Carissa sangat menyayangkan perasaan Riko yang lembut berubah menjadi anarkis saat perasaannya tak terbalas di tambah lagi dengan pengakuannya tentang masa lalu Papanya Duta itu.


Carissa masih belum bisa berfikir jernih tentang semuanya, ia cukup lelah, dan butuh istirahat untuk menenangkan dirinya yang belum baik-baik saja.


"Aku menangisi mu, Kau membuat ku takut Duta". Carissa menjawab ketus tapi dengan air mata yang berlinang.


"Apa kau takut aku akan mati ?". Sahut Duta yang merasa gemas melihat kekhawatiran pada raut wajah Carissa. Ini kali pertama ia melihat langsung bagaimana Carissa menangisi dirinya. Ingin rasanya ia membawa wanita itu masuk dalam dekapannya.


"Aku bukan takut kau akan mati, aku hanya kasihan melihat Yuka, aku tidak tega melihatnya sedih karena kehilangan Daddy-nya". Sahut Carissa, ahh Carissa ini bisa aja ngelesnya kan.


"Bilang aja kalau kau takut kehilangan ku, Jagan jadikan Yuka kambing hitam untuk menutupi perasaan mu itu, susah sekali untuk berkata jujur ".


Dokter dan suster masuk ke dalam ruangan itu mengecek bagaimana kondisi Duta pasca menjalani jahitan di bagian perut yang tertusuk itu.


Setelah Dokter memberi tahukan kondisinya mereka pun keluar kembali.


"Kau dengar apa kata Dokter tadi kan, tidak terlalu dalam bahkan aku tidak merasakan sakit, malahan lebih sakit saat kita terpaksa terpisah waktu itu, itu adalah hal yang paling sakit dan paling menyiksa bagiku dan ini bukanlah apa-apa". Ucap Duta menatap tajam manik matanya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang ". sungut Carissa merasa kesal dengan lelaki yang rebahan di atas ranjang itu.


Carissa membalikkan badannya dengan cepat Duta menahannya membuat ia terjatuh di sisi badan Duta.


"Kau melupakan sesuatu, kau lupa mengucapkan terima kasih ". ucap Duta yang semakin mengikis jarak.


Carissa seakan terhipnotis oleh mata Duta perlahan ia memejamkan matanya sementara Duta tersenyum jahil melihat Carissa seperti itu. Lama ia mendiamkan Carissa pada posisi seperti itu sampai akhirnya wanita itu tersadar dengan sendirinya.


Carissa membuka matanya melihat Duta yang tersenyum dari jarak dekat pun akhirnya menarik dirinya sendiri karena malu, ia berfikir jika tadi Duta akan menci*umnya tapi dugaannya ternyata salah atau laki-laki itu memang sengaja mengerjainya ahh entahlah masa bodoh pikir Carissa yang jelas saat ini ia amat kesal dengan Duta.


"Lupakanlah". sahut Carissa yang saat ini duduk di sampingnya.


"Setelah ini aku akan menagih janjimu, bersiaplah Carissa saat itu aku harap kau tidak akan menolaknya lagi, yang ku tahu Carissa adalah seseorang yang selalu menepati janji". Duta mengingatkan Carissa bisa saja kan wanita itu lupa wkwk


"Terserah kamu". jawab Carissa sewot.


Dering ponsel milik Duta menjeda interaksi mereka, Carissa mengambil ponsel milik Duta yang terletak di atas nakas sebelah ranjangnya dan memberikannya pada Duta. Carissa sempat melihat nama Dion menghiasi layar pada benda pipih itu.


"...."


"Tahan dulu". ucap Duta seraya melihat Carissa yang memperhatikannya, " jangan sampai menyakitinya tunggu perintah ku selanjutnya".


"....."


Panggilan itu terputus. "Dion, dia tidak langsung membawa Riko ke Polisi tapi ke rumah istimewa, aku masih memikirkannya karena bagaimanapun dia yang uda banyak bantu kamu saat kamu berada di titik lemah karena aku".


"Tapi dia uda nyelakai kamu, dia tusuk kamu Duta, dia culik aku bahkan dia hampir melecehkan aku". sahut Carissa tak mengerti jalan pikiran Duta.


"Kamu tau, terkadang seseorang melakukan kejahatan bukan karena memang dia penjahat tapi ada juga sebagian karena sebuah dorongan yang membuat dirinya melakukan itu karena tak menemukan sesuatu yang ia cari atau bahkan kecewa karena hal lain". balas Duta, ia tahu Riko bukanlah seseorang yang seperti itu terlebih saat mereka cekcok Riko mengutarakan uneg-unegnya selama ini, rasa kecewa karena perasaannya pada Carissa dan juga pada Bram.


"Aku gak tau harus gimana lagi, karena Riko yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Riko yang dulu aku kenal, soal perasaannya sudah ku katakan sejak dulu kalau aku tidak punya perasaan lebih apapun padanya dan jangan pernah sekalipun untuk menunggu aku akan membalas perasaannya". jawab Carissa.


Untuk ke dua kalinya ponsel milik Duta menjeda interaksi mereka, kali ini panggilan dari Papa Bram.


Mengetahui Duta yang mengalami penusukan Bram langsung saja menghubungi anak semata wayangnya itu.


"....".


"Semua sudah aman Pa, hanya saja,,,emm sebaiknya Papa sendiri yang langsung mengecek kebenarannya, ini juga menyangkut Papa, aku harap Papa ingat kondisi Papa yang masih lemah, Mama juga harus tenang, dia ada di rumah istimewa, nanti Duta share look ke Papa".


Malam ini Carissa menemukan Duta di rumah sakit, ia tidak mungkin tega membiarkan lelaki yang udah menyelamatkannya sendirian merawat dirinya sendiri.


Sebelum benar-benar istirahat mereka menyempatkan waktu sebentar untuk menelfon Yuka yang sedari tadi menunggu kabar Daddy-nya yang sakit.