The Return of Love

The Return of Love
55



"Bagaimana kabarnya Bu Rahma ?". tanya Sarah ramah pada Rahma Bunda Carissa.


"Kami baik-baik saja seperti yang Anda lihat Bu Sarah ". jawab Rahma tak kalah ramah.


Sementara kedua wanita itu beramah tamah sedangkan kedua lelaki yang berada di samping mereka hanya mendengarkan saja tanpa berniat untuk ikut nimbrung. Keduanya masih sama-sama gengsi untuk memulai obrolan terlebih Hamdan yang sama sekali tak menunjukkan keramahan seperti sang istri.


Lama obrolan dua wanita paruh baya itu sampai mereka kehabisan topik untuk melanjutkan sesi basa basi ini.


Sarah menyenggol lengan suaminya bermaksud untuk menyatakan tujuan mereka datang ke sini tapi si suami tidak peka dengan kode yang Sarah berikan yang pada akhirnya malah salah bicara. Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat suaminya yang tak konsentrasi entah gugup bertemu kembali dengan sang mantan kekasih di masa lalunya.


Ternyata menurunkan ego di depan calon besan yang notabenenya mantan pacar lebih sulit dilakukan ketimbang menggait calon investor. Begitulah kira-kira kata yang pas untuk seorang Bram Prasetyo.


"Jadi begini kedatangan kami ke sini untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang kami perbuat dulu apapun itu yang melukai hati kalian dan kami kesini juga ingin membicarakan hubungan anak-anak kita". akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut seorang Bram.


" Saya tahu ini sudah sangat terlambat tapi saya rasa ini jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali, yang kita tahu sekarang mereka kembali menjalin hubungan seperti dulu bahkan sudah hadir di antara mereka anak yang menjadi penguat untuk keduanya yang sampai saat ini belum terjadi hubungan yang sah di mata negara untuk itu kami ingin kita sebagai orang tua melakukan tugas kita untuk merealisasikannya". Bram melanjutkan kalimatnya.


"Mudah sekali ya setelah apa yang anda lakukan pada keluarga saya apa anda lupa saya masih jelas mengingatnya". selah Hamdan saat mengingat bagaimana angkuhnya Bram datang memberi ancaman pada mereka.


"Begini Pak Hamdan saat itu saya yakin suami saya masih menaruh dendam atas apa yang terjadi di masa lalunya tapi itu dulu tidak sekarang, dan sekarang setelah kenyataan yang ada tak pantas lagi rasanya kita yang udah tua ini menyimpan perasaan itu, gak ada gunanya dan itu tidak akan membuat kita puas, apa nanti yang akan kita lakukan lagi saat tua selain menikmati hidup dan melihat anak cucu kita bahagia ". timpal Sarah menjelaskan.


"Seberapa besar ombaknya jangan pernah lompat dari kapal sebesar apapun masalahnya hadapi bukan lari ini yang harus kita luruskan agar semuanya terasa lebih mudah ". sahut Sarah.


" Jujur saja saja saya masih belum bisa menerima ini". ucap Hamdan. Ia pandang wajah Bram yang berada persis di depannya. Ia tak habis pikir putrinya mau kembali bersama orang yang pernah menghancurkan hidupnya, apa dia lupa jika ia pernah di sakiti sampai mati rasa ? apa dia lupa bagaimana bangun dari jurang duri paling dalam dan tajam ?


"Bukan hanya anda yang belum bisa menerima semua ini, saya juga demikian, tapi tidak ada salahnya kita mencobanya, saya sudah merasakan bagaimana mirisnya melihat diri saya sendiri, melihat istri saya berkumpul bersama anak menantu dan cucu sementara kita hanya memandang dari jauh sakit rasanya seperti ada yang menusuk". Bram teringat bagaimana bahagianya Sarah saat bersama Duta Carissa dan juga Yuka di apartemen maupun di rumah Carissa.


"Semua punya pilihan termasuk Pak Hamdan, bagaimana pun Anda punya pilihan sendiri tapi pilihan kita tidak mungkin sama sama pilihan anak kita yang nantinya pilihan itu punya konsekuensinya sendiri, jangan sampai kita memaksakan sesuatu yang kita sukai untuk di sukai sama orang lain juga". Lanjut Bram.


Hamdan memandang luar rumah lewat pintu yang terbuka lebar. Pandangannya ke langit nan biru. Seperti menerawang sesuatu.


"Demi putri ku apapun akan aku lakukan". ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.


Hari itu menjadi hari yang mengharukan. Bram berdamai dengan masa lalunya dan membuang jauh-jauh rasa dendam yang sempat tinggal di hatinya, sedangkan Hamdan menerima kenyataan bahwa Carissa Putri yang ia sayangi memilih lelaki yang membuatnya luka dan ia juga sebagai penawarnya.


Selepas makan siang di rumah orang tua Carissa Bram dan Sarah meninggalkan kediaman itu dengan hati yang damai, terutama Bram. Hatinya begitu lega, ternyata yang menurunkan ego dan gengsi tidak terlalu buruk malah bisa merasakan ketulusan yang benar-benar tulus.