
Membayangkan bagaimana nasib wanita ini kedepannya membuat Bram merasa bersalah. Saat itu dering ponsel menyadarkannya.
"Iya, sebentar lagi aku akan sampai". sahut Bram.
Bram hampir melupakan hari ini, hari pernikahannya dengan Sarah. Ia akui ia berkendara dengan cepat agar cepat sampai di tempat acara sakral itu. Lantas Bram memandang Salma dengan ragu.
"Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan, saya turut berdukacita atas ini, semua ini tidak akan terjadi jika saya lebih hati-hati lagi. Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya tapi saya minta tolong biarkan saya pergi terlebih dahulu karena hari ini adalah hari pernikahan saya, saya sudah sangat di tunggu, setelah ini saya janji akan segera menemui anda". Bram menjelaskan dengan jujur.
Tak ada daya untuk Salma mengatakan apapun, ia sudah sangat terpukul dengan kepergian suaminya ia terlalu berat harus menerima kenyataan yang ada. Ia hanya diam mendengarkan apa kata Bram.
Sebelum Bram pergi ia meninggalkan kartu namanya pada Salma. Bram meninggalkan Rumah Sakit dengan rasa bersalah.
________
Dua hari sesudah kejadian Bram datang ke rumah Salma berkat alamat yang ia dapatkan dari Rumah Sakit.
Bram sampai di depan rumah sederhana itu dengan hati berdesir, tak menyangka ia telah membuat seorang wanita menjadi janda dan seorang anak menjadi yatim sejak dalam kandungan.
Rasa bersalah begitu besar dalam dirinya, tapi hanya dia pendam sendiri tanpa berniat untuk memberi tahukan pada siapapun termasuk Sarah istrinya yang baru di persunting beberapa hari lalu. Bram tidak ingin image buruk tentangnya terdengar di keluarga Sarah yang menerimanya yang tidak memiliki apapun. Ia sudah sangat bersyukur tentang itu.
Di lihatnya bendera merah masih terpasang di depan rumah Salma menandakan rasa berkabung masih menyelimuti wanita hamil itu.
Bram menyeret kakinya sampai ke depan pintu. Beberapa kali ia mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Ia menunggu di kursi depan pintu itu berharap yang empunya segera keluar.
Hampir satu jam ia berada di teras rumah itu sampai akhirnya Salma kembali pulang.
Salma terdiam sejenak sekilas menatap Bram dengan raut wajah kecewanya. Salma duduk di kursi kosong yang ada begitu juga dengan Bram.
"Kedatangan saya ke sini hanya untuk meminta maaf dan ini". Bram memberikan amplop coklat yang berisi sejumlah uang.
Salma menatapnya dengan tak sangka." Kamu pikir dengan ini suami saya bisa hidup lagi, kamu pikir dengan ini anak saya lahir bisa melihat dan merasakan kehangatan seorang Ayah, kamu pikir dengan ini bisa merubah status saya sebagai seorang janda, dan apa kamu pikir dengan ini bisa menyelesaikan semuanya, haa ?".
Bram tercenung mendengar penuturan Salma. Benar jika dengan memberikannya uang tidak lantas merubah apapun yang sudah terjadi. Bram tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya ini.
" Andai kata maaf bisa melegakan hati saya dan mengikhlaskan kepergian suami saya sudah sejak kemarin saya lakukan itu, tapi saya cuma manusia biasa yang tidak dengan mudah menerima semua ini apalagi dengan ini yang kamu anggap nyawa suami saya bisa di tukar". Ujar Salma dengan suara emosi.
Bram tertunduk lesu, apa yang di ucapkan memang benar, kata maaf tidak serta-merta bisa melupakan kejadian ini. Ada bekas yang tertinggal yang tidak akan hilang sampai kapanpun.
"Apa yang harus ku bilang nanti pada anakku saat dia tanya kemana Ayahnya, kenapa dia tidak memiliki ayah seperti temannya yang lain". " atau mungkin apa saya mampu membesarkannya seorang diri tanpa ada suami di samping saya". Salma mengucapkannya dengan hati.
"Saya tau kesalahan saya sangatlah fatal, tapi saya tidak berniat ingin menyelakai suami anda, itu di kuar kendali saya". Bram membela diri.
"Lalu apa kemarin ? anda menabrak suami saya, anda membunuh suami saya dengan kejam apa itu di luar kendali mu ?". sahut Salma. " kau tau saat itu aku menginginkan cookies di sebrang jalan, suamiku bilang dia yang akan kesana membelikan itu untukku dia tidak ingin sesuatu terjadi padaku, aku menunggunya sembari bus kami datang, padahal tinggal beberapa langkah lagi suamiku sampai di hadapanku tapi nasib suamiku sungguh malang ia terlempar jauh di depan mataku. Andai, andai anda ada di posisi saya apa yang anda lakukan ?".
Bram tidak menjawab, membayangkan itu saja sudah ngeri, tak terbayangkan jika Sarah ada di posisi Salma. Bram bersimpuh di hadapan Salma memohon ampun dengan tulus.
"Sampai kapanpun aku tidak rela dan ikhlas, sampai kapan pun aku akan mengingat semuanya". ucap Salma dan pergi meninggalkan Bram yang setia bersimpuh.