
Ketika pintu lift hendak menutup kembali terlihat Carissa berada di depan lift yang ingin masuk juga namun di urungkan dan ia lantas langsung berbalik badan.
Dengan cepat Duta menarik lengan Carissa agar masuk ke dalam lift. Hal ini di lakukan agar wanita genit yang menjadi client nya itu berhenti untuk tidak menggodanya lagi.
Melihat perlakuan Duta yang demikian, kesal kini yang di rasakan wanita itu.
Carissa yang merasa tidak enak pun hanya diam saja saat pundaknya di rangkul oleh Duta. Ia menyadari ketidaknyamanan yang di rasakan lelaki itu.
"Silahkan". ucap Carissa pada rekan Duta agar terlebih dahulu keluar.
Wanita itu menghentakkan kakinya dan melirik sinis kearahnya. Mendapat tatapan seperti itu membuatnya juga merasa kesal.
"Lepas, gak mesti di rangkul juga kan". sungut Carissa menyadari tangan Duta yang hinggap di pundaknya tak kunjung di lepaskan padahal wanita itu sudah keluar.
Duta hanya diam saja saat Carissa mengatakan hal itu, sejujurnya Duta pun gak nyangka bisa refleks melakukannya.
Kini ketiga orang itu masuk ke dalam ruang rapat untuk melanjutkan meeting nya.
Meeting itu tidak membuahkan hasil apapun. Kerja sama yang seharusnya terjadi batal karena Duta tidak ingin berurusan dengan Mona client yang di anggapnya genit ah lebih tepatnya mirip seperti wanita penggoda bukan pengusaha.
Duta paham betul dengan siapa ia menjalin kerjasama. Apalagi dengan sikap yang jelas-jelas di tunjukkan wanita itu padanya membuat ia membatalkan kontrak kerja samanya.
"Pak Duta yakin dengan keputusan anda ?" ucap Carissa saat setelah wanita itu keluar.
"Aku tidak ingin punya client yang seperti itu, track record nya di dunia bisnis sudah ku dengar jadi tidak masalah jika harus membatalkannya ". ungkap Duta.
"Baiklah saya keluar dulu, permisi ". ujar Carissa melenggang pergi dari tempat itu.
"Sampai kapan kamu bersikap seperti ini terus Carissa aku tidak bisa, aku mulai merindukan anak kita, aku bahkan merindukan mu". ucap Duta miris pada dirinya sendiri.
Bayang-bayang Yuka berkeliaran memenuhi kepala Duta. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi matanya tidak mau terpejam.
Berkali-kali ia melihat foto ia bersama Yuka saat Yuka sakit. Ia memutuskan pergi ke ruang kerjanya sampai matanya berat dan tertidur di sana.
Pagi itu sebelum masuk ke dalam ruangannya ia menghampiri Carissa di meja kerjanya yang berada di depan ruangannya.
"Carissa aku ingin bicara tapi di ruanganku". titah Duta.
"Baiklah, Carissa aku ingin bertemu dengan Yuka sekali saja, kumohon izinkan aku menemuinya walau sebentar". melasnya dengan lemah.
Carissa diam saja mendengarnya, berfikir jawaban apa yang akan ia berikan pada Duta.
"Carissa aku harap kamu tidak egois, aku mengakui kesalahan ku dan keluarga ku sama kamu, aku tidak mengapa kamu tidak akan memaafkan aku, tapi tolong pikirkan Yuka, apa kamu mau tidak ingat bagaimana dia sakit waktu itu ?". Setelah mengatakan itu Duta masuk ke dalam ruangannya.
Carissa teringat saat Yuka sakit anak itu mengigau namanya terus. Sampai jam pulang kantor ia belum juga memberi jawaban pada Duta.
Malam itu Yuka masuk ke dalam kamar Mamanya.
Yuka berjalan mendekati Mamanya untuk meminjam ponselnya. Tak berapa lama ia pun kembali ke kamarnya. Ia merebahkan badannya dengan malas.
Ia benar-benar ingin bertemu dengan Duta. Ia berpikir lama lalu memutuskan sesuatu. Ia mengetik pesan lalu mengirimnya ke seseorang.
" I miss you here, really miss, do you to, Daddy?".
Benar, Yuka mengirim pesan itu pada Duta. Ia berbohong pada Mamanya saat meminta hospot karena kehabisan paket data, nyatanya ia mencari nomor sang Papa.
Pesan itu telah terkirim namun belum terbaca. Perasaan Yuka gelisah, ia takut sang Mama akan marah karena sudah menghubungi Duta tanpa seizinnya.
satu menit
satu jam
Akhirnya pesan itu terbaca oleh Duta.
Di sebrang sana Duta mengerutkan keningnya mendapati pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.
Duta membacanya dengan seksama sampai pada kalimat Daddy ia menyadari jika itu pesan dari Yuka putranya.
Ia segera mengetik balasan pada Yuka. " Daddy juga merindukan kamu sayang, Daddy akan minta izin Mama kamu supaya kita bisa ketemu".
Yuka membaca balasan dari Duta di pagi hari dengan senyum sumringah, ia tau Mamanya belum bisa menerima lelaki itu seperti halnya dia tapi Yuka yakin suatu saat Mamanya akan menerima seperti halnya dia.