
Sore ini sepulang dari kantor dan menjemput Yuka di Carissa bersama Rahma dan juga Yuka pergi ke butik untuk fitting baju pernikahannya. Tanpa Duta tentunya karena pemilik toko sudah mengerti dengan detail ukuran pakaian yang biasa di pesannya di butik ini karena toko ini merupakan langganannya. Carissa mencoba beberapa baju pilihan terbaik yang di rekomendasikan pemiliknya.
"Wah amazing Ma beautiful more". ucap Yuka takjub melihat pesona sang Mama.
"Bener kata kamu sayang, Mama cantik sekali ". puji sang Bunda.
"Baiklah nanti aku akan tanyakan Duta lagi untuk finalnya gimana". sahut Duta.
Carissa mengirim foto dirinya pada duta memakai dua gaun dengan warna dan model yang berbeda, satu berwarna silver dan satu lagi berwarna maroon.
Malam hari setelah membersihkan badannya Carissa naik ke atas ranjangnya, melihat-lihat foto dirinya mengenakan gaun pengantinnya. Lama ia memandangi layar itu sampai panggilan video dari Duta menyadarkannya.
Cepat ia merapikan wajahnya mengatur ekspresi yang akan ia tunjukan pada Duta.
"Emm rindunya". ucap Duta pertama kali saat melihat wajah polos Carissa yang tetap cantik.
"Baru juga empat hari, gimana kalau empat tahun ". sahut Carissa.
"Ya gak selama itu juga dong, bisa mati nahan rindu aku sama kamu". jawab Duta. "Kasih dulu mood booster aku biar gak makin rindu ".
Carissa membuang wajahnya ke samping menahan senyumnya ia juga merasakan hal yang sama tapi sikapnya tak seperti Duta.
"Gimana menurut kamu, bagus yang mana bajunya ?". tanya Carissa.
"Keduanya bagus, apa pun yang ka.u pakai selalu pas dan cantik, aku suka". jawab Duta
"Pilih dong sayang".
Duta tersenyum lebar dan ia memajukan bibirnya seolah ingin minta di cium, Carissa sendiri terkekeh melihat tingkah Ayah satu anak ini.
"Duta ihh pilih dong kok malah kayak gitu".
"Silver, aku suka kamu memakai itu, walaupun agak terbuka tapi aku suka baju itu melekat di badan kamu". jawab Duta.
"Baiklah".
"Udah mau tidur ?". tanya duta di ujung sana.
"Masih mau, kenapa ?,masih kangen aku ?". sahutku yang membuatnya tersenyum menampakkan giginya yang rata.
"Ge er banget si, enggak, aku kangen aja sama Yuka, tapi kayaknya dia uda tidur ". ucap Duta berkelit.
"Ih bawa-bawa Yuka segala, kalo memang kangen dia tau dia uda tidur juga di telfon gak papa juga, dia juga ngerti kali Daddy nya kangen". jawabku.
"kamu dah mandi ?". tanya Duta
"Udah".
"Udah makan ?"
"Udah".
"Iyy....
"Iya kan maksudnya? udah deh ngaku aja". ledeknya membuatku malu.
"apaan si gak lucu Duta ".
Diam beberapa saat sampai tak sadar mataku sudah tak tahan lagi membuatku memejamkan mata tapi dengan kesadaran yang masih ku punya aku masih bisa mendengar apa yang Duta ucapkan.
"Apa kamu ngantuk Carissa ?".
"Enggak. Kalau mataku udah pejam begini tandanya aku mau makan Duta gak mau tidur". jawab ku menyahut kesal.
Ku dengar ia tertawa cekikikan mendengar jawaban ku. Aku yakin pasti saat ini dia memperhatikan ku yang terpejam ini.
"Kau selalu terlihat cantik dari dulu meskipun sedang tertidur". Lirihnya pelan yang masih bisa ku dengar. "Bersabarlah sebentar lagi aku pulang kita akan hidup bersama seperti impian kita".
"Aku selalu menantikan itu". Jawabku spontan. Ahh kenapa mulutku ini gak bisa diem aja si kalau begini kan dia bisa besar kepala. Ku tarik selimut sampai menutupi sebagian wajahku, menutupi pipiku yang memerah seperti kepiting rebus.
"Ah ternyata yang diam-diam itu lebih bersemangat rupanya, atau aku pulang saja malam ini juga ? ".
"Jangan ". Jawabku lepas sambil membuka mata.
"Makin cantik kalau ngantuk terus panik gitu". ucap Duta.
__________
Di tempat lain seseorang sedang menerima informasi keseharian Bram beberapa hari ini. Info terupdate terus saja ia terima dari orang suruhannya termasuk pernikahan anaknya Duta bersama Carissa. Amarah sudah menguasai dirinya, ia sudah kepalang sakit hati dan ingin membalaskan sakit hatinya.
"Nak, berhentilah seperti ini, biarkan semesta yang bekerja nak, kita cukup tau bagaimana nanti yang terjadi dengannya, jangan pernah mengotori tanganmu sendiri dengan perbuatan yang seperti itu". ucap Salma pada Riko.
Ya Riko sudah mengatakan jika saatnya nanti dia akan membalas apa yang sudah di lakukan Bram pada Mamanya meskipun dia adalah bos di tempatnya bekerja ia tak peduli.
"Enggak Ma, ini sudah cukup lama dia tidak menerima ganjaran apapun dari perbuatannya dia harus menerimanya cepat atau lambat ". tukas Riko.
"Apa kau juga akan memisahkan istri dan anaknya dari ayahnya juga ? Ko jangan lakukan hal sama seperti itu, tidak ada bedanya kamu dengan dia Ko".
"Enggak Ma, anaknya tidak yatim seperti Riko ". sahutnya tak mau kalah, ia terlalu ambisi.
"Lalu apa kau tega melihat Carissa sedih jika itu kamu lakukan itu pada Ayah mertuanya ?". ucap Salma mencoba menyadarkan. Salma sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.
"Enggak Ma, ada Riko yang selalu ada buat dia". jawab Riko ragu-ragu.
" Sudahlah Ko, kamu gak perlu melakukan ini nak, Mama mohon, Mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa ". Salma tak henti membujuknya semenjak anaknya itu mengatakan akan memberi balasan pada Bram.