
Siang itu Duta dan juga Dion langsung bertolak ke Kota A saat setelah kabar musibah yang menimpah Bram mereka terima. Segala pekerjaan mereka tinggalkan dan tunda untuk menemui Papanya.
Menjelang sore Duta sampai di kota A dan langsung menuju Rumah Sakit dimana Bram di rawat.
Bram berjalan cepat menuju ruang operasi, ya saat ini Bram tengah melakukan operasi di bagian kepalanya akibat benturan yang hebat itu. Tindakan itu harus cepat di lakukan karena sangat beresiko jika menunggu kedatangan Duta.
Mata Duta tertuju pada sang Mama yang tengah menunggu di kursi tunggu di depan ruang operasi.
"Mama". Ucap Duta langsung memeluk Mamanya.
"Papa Duta, Papa". Sahut Sarah lemah.
"Mama duduk dulu". Duta memberikan minum pada Mamanya dan Sarah meneguknya , "Kenapa bisa terjadi Ma bagaimana bisa ?". Tanya Duta pelan-pelan mengingat kondisi Mamanya yang tampak masih syok.
"Kejadiannya terjadi begitu cepat Duta, Kami baru sampai di butik Papa kluar dari mobil dan saat itu tiba-tiba saja sebuah mobil menabrak Papa dengan cepat, Mama panik gak bisa lihat mobil itu". Jelas Sarah tersedu.
"Mama tenang sekarang kita doakan semoga Papa baik-baik saja di sana, urusan itu biar pihak kepolisian saja yang mencari tau, orang-orang kita juga langsung turun Ma".ucap Duta.
Duta menunggu dengan cemas begitu juga dengan Sarah.
Duta mengambil ponselnya lalu menekan kontak Carissa dan menelfonnya.
"Rissa aku di Rumah sakit". Ucap Duta pertama kali saat panggilan itu terjawab.
"Di rumah sakit ? Kamu sakit ? Rumah sakit mana ? Kamu sakit apa ?". Tanya Carissa beruntun.
"Aku baik-baik saja, Papa yang sakit, tadi siang Papa tertabrak Mobil, saat ini aku sudah di kota A menunggu operasi selesai, kalau kamu senggang kemarilah temani Mama". Jelas Duta.
"Baiklah aku akan segera pulang aku jemput Yuka dulu baru ke sana karena Ayah dan Bunda sedang pergi, Reno tidak bisa menjaganya sampai malam". Jawab Carissa sedikit panik.
"Kamu hati-hati ya, kalau sudah sampai telfon aku". Sahut Duta.
Lampu sudah berganti pertanda operasi telah usai. Keluar seorang Dokter dari ruangan itu. Sarah dan Duta langsung berdiri menghampirinya.
"Bagaimana Dok keadaan suami saya ?". Tanya Sarah.
"Nyonya yang tenang, operasi telah berhasil, hanya saja kondisi pasien sangat lemah untuk itu kita harus sabar, kami masih mengobservasi pasca operasi, mudah mudahan semuanya baik-baik saja kita doakan". Ucap Dokter.
"Apa kami bisa melihatnya Dok ?" Tanyaku pada Dokter tersebut.
"Untuk saat ini karena kondisi pasien sangat lemah dan akan di pindahkan sementara ke ruang ICU sebaiknya tunggu sampai ada kemajuan nanti suster akan memberi tahu jika sudah bisa di lihat". Jelas dokter member tahu.
Kini Duta dan Mamanya menunggu di depan ruang ICU. Dering ponsel di saku celana Duta, nama Carissa terlihat di sana ia langsung mengangkatnya.
"..."
Tak lama Carissa sampai bersama dengan Yuka. Carissa tersenyum dan memeluk calon Mama mertuanya itu dengan hangat di ikuti dengan Yuka.
Yuka duduk bersama Sarah, sementara Carissa masih berdiri bersama Duta.
"Kenapa bisa terjadi ? ". Tanya Carissa ingin tahu, kepo loh dia ini masak seorang Bram yang selalu di jaga bisa kena musibah gini. Yaelah namanya musibah gak kenal siapapun dan pandang bulu Rissa.
Duta menceritakan apa yang tadi ia dengar dari Mamanya.
Carissa manggut-manggut mendengarkan cerita Duta, untung gak tidur tu Carissa wkwk.
"Penabraknya uda ketemu ?".
"Polisi masih menyelidiki, tapi orangku lagi mastiin bener apa tidak dugaanku". Sahut Duta.
Hebat lo orang-orang Duta, geraknya lebih cepat ketimbang Pak Pol eehh.
"Jadi maksud kamu, kamu uda tau siaoa pelakunya ?".
"Hemm, tapi aku takut berprasangka, karena ini juga menyangkut kamu ". Jawab Duta.
"Aku ?" Carissa menunjuk dirinya sendiri.
"Sudahlah nanti ketika semuanya sudah pasti kamu akan tau sendiri tanpa harus aku beritahu". Sahut Duta.
Tak berselang lama kondisi Bram sudah membaik, untuk itu ia sudah bisa di pindahkan di ruang inap.
Bram masih belum siuman, tapi ke tiga orang yang tengah menunggunya dengan sabar.
"Ma, Mama pulang saja biar Duta yang nunggu Papa di sini, Mama pasti capek". Ucap Duta pada Sarah tak tega melihatnya.
"Enggak, Mama tetap mau di sini nunggu Papa, nanti kalau Papa sadar Mama gak ada di sampingnya pasti dia akan kecarian Mama". Jawab Sarah.
Duta akhirnya pasrah pada kemauan Mamanya itu.
"Carissa, kamu pulang saja kasian Yuka pasti dia capek". Ucap Sarah dan melihat Yuka yang kini sudah tertidur di sofa di ruangan itu.
"Iya Tan, Tante yang kuat ya, Om pasti akan sadar sebentar lagi".
"Duta, Kamu antar mereka pulang gih sekalian kamu pulang juga istirahat besok pagi baru ke sini". Ujar Sarah.
Dengan berat hati Duta meninggalkan Mamanya malam ini dan esok ia akan datang kembali tak lupa ia menyuruh beberapa orang untuk berjaga-jaga di depan ruangan Bram selama ia pergi.
Malam ini Duta bermalam di rumah Carissa, setelah makan dan membersihkan diri Yuka tidur juga di kamarnya, begitu juga dengan Carissa dan Duta yang saat ini tengah tertidur bersama menyelami mimpi.