The Return of Love

The Return of Love
Memutuskan untuk menerima



"tolong bilang sama Yuka Riss kayaknya aku gak bisa ke sana, minggu ini aku harus ke luar kota, bujukin dia biar gak ngambek sama aku". balasan pesan singkat Carissa dari Riko.


"Aku usahain tapi kamu tau sendiri gimana dia kan, ku harap kamu baik-baik aja kalau ke sini ketemu sama dia hahaha ". canda Carissa saat membalas pesan singkat itu.


Ya sudah pasti saat Riko tak menepati janjinya sama Yuka saat ketemu dia sudah pasrah jika harus menerima pukulan yang di berikan Yuka belum lagi jika di cuekin bahkan bisa sampai gak mau ngomong.


"Gak papa deh kalau anaknya, asal Mamanya jangan gitu aku gak sanggup ". balas Riko telak yang berhasil buat Carissa bungkam.


Membaca itu ia enggan untuk membalasnya lagi.


"Apa aku harus menerimanya ? Yuka butuh seseorang selain aku, apa Riko orang yang tepat ? " gumamnya lirih.


Bertahun-tahun lelaki itu setia menemaninya, bukan tidak ada yang mendekati lelaki itu, banyak, hanya saja selalu di abaikan.


Carissa memang sudah memiliki anak, tapi ia belum merasakan bagaimana rasanya menikah, bagaimana rasanya memakai pakaian pengantin, bagaimana rasanya punya mertua, bagaimana rasanya di manjakan oleh laki-laki yang di sebut suami.


Impian bagi perempuan menikah sekali seumur hidup sudah pasti. Mengingat itu miris sekali hidup bagi seorang Carissa.


Kehadiran Carissa sudah di tunggu-tunggu oleh putranya, ia tak sabar menanti sampai-sampai ia harus bolak balik melihat gerbang sekolahnya.


Sebuah mobil masuk ke halaman sekolah itu, mobil yang pasti Yuka kenali, ia senyum sumringah. Ketika orang yang berada di dalam mobil itu keluar iya terkejut sampai ia harus membulatkan mulutnya tak percaya.


Ia berlari sambil berteriak menyebutkan nama seseorang. "Om Rikoooooo".


Kehebohan yang di buat Yuka sendiri menarik perhatian orang tak jauh dari mereka.


" Om bohong katanya Om gak bisa datang ?" tanya Yuka heboh.


"Iya tapi Om berubah pikiran, kedatangan Om ke sini sedikit berbeda, Om harap kamu belajar untuk satu hal lagi ". ujar Riko.


"Belajar apa Om ". ucap Yuka bingung.


"Belajar panggil Om dengan sebutan Papa". jawab Riko enteng.


"Kok jadi Papa, kan biasanya Om Riko". protesnya.


"Itu kan biasanya, sekarang berbeda dong, kan Om akan jadi,,,, belum siap Riko berucap Carissa sudah memotong ucapannya. " jadi sekarang mari kita masuk apa kalian masih betah di sini, kalau iya Mama duluan". ucapnya sambil berlalu.


Keputusan menerima Riko baru ia ambil malam tadi yang akhirnya membuat lelaki itu pindah haluan untuk tidak pergi ke luar kota.


Ia begitu senang saat Carissa menelponnya dan memutuskan untuk menerimanya. Malam itu juga ia berangkat ke kota A untuk menemui Carissa dan juga keluarganya.


Sepulang dari sekolahnya Yuka mereka langsung menuju rumah kedua orang tua Carissa.


"Ma kenapa tiba-tiba Om Riko jadi Papa Yuka. ?" celetuk bocah yang duduk di kursi belakang .


Riko dan Carissa sama-sama menoleh. "Sayang kamu pernah bilang kan kalau kamu mau Om Riko tinggal bareng sama kita nah untuk itu sebelum tinggal bareng Om dan Mama akan menikah terlebih dahulu, kalau Mama sudah menikah sama Om Riko itu artinya Om Riko jadi Papanya Yuka dan boleh tinggal bareng sama kita". jelas Carissa


"Terus kalau sudah menikah apa Om Riko akan tetap sayang sama Yuka ?". tanya Yuka.


"Pasti Om akan lebih sayang sama kamu, kamu dan Mama kamu adalah penyemangat Om setelah Maminya Om Riko". jawab Riko.


"Jadi gimana sayang, kamu izinin atau tidak kalau Mama sama Om Riko menikah ?". lanjut Riko pada Yuka.


"Iya Ma Yuka izinin tapi kalau sudah menikah apa Mama masih mau tetap bekerja ?". cecar Yuka lagi.


Carissa kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan random anaknya itu. Ia hampir melupakan rencananya untuk kembali bekerja yang sudah pasti hal ini akan ia bicarakan lagi pada Riko karena ia adalah calon suaminya.


Yuka membuka pintu dan langsung berlari menuju ke dalam rumah sedangkan Carissa betah di dalam mobil ahh lebih ke gugup si kayaknya karena kedatangannya kali ini untuk memperkenalkan Riko sebagai calon suaminya.


"Kamu gak mau turun ?" tanya Riko.


"Ya mau, cuma aku sedikit gugup Ko, aku malu juga". balas Carissa dengan tarikan nafas panjang.


Mendengar itu Riko tersenyum melihatnya ternyata bukan dia saja yang merasakan tapi Carissa juga merasakan hal yang sama. "Sudah kan ada aku, kita hadapi sama-sama".


Keduanya kini duduk bersama orang tua Carissa menjelaskan maksud keduanya.


"Kamu yakin nak sudah siap menikah ?" pertanyaan Ayah seolah menulikan telinganya.


Rahma yang berada di samping anaknya itu mengusap jemari tangannya seolah tahu apa yang di rasakan anaknya kini.


"Rissa Ayah menunggu jawaban kamu ". ucap Rahma.


"ahh iya Yah" jawab Carissa.


"Kamu sudah yakin dan siap menikah dengan nak Riko ?" tanya Ayah memastikan lagi.


"Su,, sudah Yah". jawabnya gagap.


Hari itu terasa lebih cepat bagi Carissa, tak yakin secepat ini ia memutuskan untuk menikah walaupun hatinya belum benar-benar siap.


Semua yang di lakukan semata-mata hanya untuk buah hatinya.


"Anak Bunda belum tidur ?" Rahma melihat anaknya duduk di kursi depan kaca riasnya.


"Belum ngantuk Bun". jawabnya singkat tanpa menoleh.


"Belum ngantuk apa lagi memikirkan sesuatu ?" tuduh Rahma.


Carissa diam tak menjawab. Pandangannya beralih pada wajah Yuka yang terlelap.


"Aku gak nyangka pada akhirnya akan menikah, semoga Yuka bahagia ya Bun, nanti dia akan punya keluarga yang utuh seperti teman-temannya". jawab Carissa menerawang.


"Rissa apa hanya Yuka saja yang bahagia ? kamu tidak bahagia ?" tanya Rahma.


"Bahagia ku ada padanya Bun". jawabnya lagi.


"Entah kenapa Bunda merasa kamu gak bahagia atas pernikahan mu nanti". ucap Rahma memandang lurus ke depan.


"Kok bunda ngomong gitu". ujar Carissa merasa aneh.


"ini perasaan Bunda, Bunda tau kamu, Nak, Yuka akan marah jika kamu melakukan ini hanya untuk dia tapi kamu sendiri abai sama perasaanmu". ungkap Rahma.


"Bun, aku sudah tidak peduli bagaimana perasaan ku, yang terpenting Yuka Bun". jujur Carissa.


"Lalu bagaimana dengan perasaan Riko ? kamu gak boleh begitu nak, demi egomu kamu ngorbanin perasaannya, walaupun dia bilang menerima kekurangan mu tapi tidak ada jaminan untuknya bisa terus-terusan menunggu kan meskipun kalian telah menikah, jangan mainkan pernikahan nak". ucap Rahma memperingati.


"Bun,,,


"Kamu pikirkan matang-matang ucapan Bunda, kamu bicara lagi dari hati ke hati dengan nak Riko, Bunda gak mau kamu menyakiti perasaan orang yang benar-benar tulus sayang sama kamu dan Yuka, kalau kamu bisa jamin perasaan mu untuk nak Riko barulah, silahkan kalian menikah, Bunda dan Ayah restui kalian tapi jika tidak jangan coba-coba untuk melanjutkannya". timpal Rahma lagi.


Riko yang tak sengaja mendengar obrolan Ibu dan anaknya itu langsung pergi saat Rahmah keluar dari kamar anaknya itu .