The Return of Love

The Return of Love
49



Waktu memang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi sebuah mobil masuk ke pelataran rumah milik Alex.


Orang yang berada dalam mobil itu turun dengan cepat seperti tidak punya rasa sabar. Carissa dan Duta turun langsung memasuki rumah Alex.


Duta tidak habis pikir bekas Papa mertuanya sanggup melakukan hal ini padanya. Duta gak ngerti jalan pikiran lelaki tua itu.


Berkali-kali ia menghembuskan nafasnya panjang mencoba untuk tetap tenang agar tidak lepas kendali.


Ya tadi Alex menelfon Duta memberi tahu jika Yuka bersamanya dan segera menjemputnya.


Memang sudah di tunggu kedatangannya, mereka tak susah untuk masuk ke dalam karena para pelayan langsung mengarahkan kemana mereka harus berjalan.


Yuka berlari saat Carissa telah sampai di ruangan itu. Carissa tak mampu menahan dirinya untuk tidak menangis.


"Apa ada yang sakit sayang ?". Carissa memeriksa badannya dengan seksama.


"No Ma, i'm oke". sahut Yuka cepat.


Selagi Yuka bersama Carissa, Duta menatap nyalang pada Alex. "Saya masih menghormati anda sebagai Ayah dari mendiang istri saya, tapi sekarang setelah apa yang anda lakukan sama anak saya rasa hormat saya pun udah gak ada lagi terhadap anda".


"Papa tau apa yang Papa lakukan ini sangat salah bahkan terbilang pecundang melibatkan anak kecil yang tak tau apa-apa harus jadi alat untuk memenuhi apa yang Papa mau". Alex menjeda kalimatnya" Papa hanya ingin kamu tetap setia sama anak Papa cuma itu Duta tidak lebih yang Papa minta, tapi sekarang Papa sadar setelah melihat gelang yang di pakai Yuka itu udah menjelaskan semuanya".


Mata Carissa dan Duta kini menatap benda yang bergantung pada pergelangan tangan anak mereka. Benar Duta juga pernah melihat Mayang memiliki benda itu. Mayang juga sempat memberitahu tentang gelang itu.


"Papa merasa gagal menjadi seorang Ayah, Duta, mungkin benar wanita yang di pilih Mayang adalah wanita yang memang pantas untuk mendampingi mu, Papa tidak berhak untuk terus memintamu setia dengan anak Papa, Papa hanya ingin ingatlah Mayang meskipun kau telah menemukan wanita yang selama ini kau cari". Alex dengan tenang mengatakan semuanya.


Mendengarkan Alex mengatakan itu, hati Duta melunak, tak berapi-api seperti sebelumnya. Wajar jika seorang Ayah mempertahankan hak atas anaknya tapi sayang anak yang di maksud telah pergi meninggalkan dunia yang sebentar ini. Alex hanya mempunyai Mayang dan saat ini hanya tinggal dia seorang menjalani kehidupan ini. Semua pasti terasa hambar.


"Pa".


Carissa mendengar ini langsung menghampiri Alex, ia tau lelaki ini hanya merasa kesepian dan terlalu monoton dalam menjalani hidup. " Om, Om tidak perlu melakukan semua ini, melihat anak saya tidak terluka saja saya sudah memaafkan semuanya. Om tidak perlu memberikan apapun dan saya menolak apa yang Om berikan. Jika Om mau anggaplah saya sebagai anak Om dan Yuka sebagai cucu Om juga untuk mengobati segala luka yang selama ini Om rasa. Bukan hanya Om saya juga merasa kehilangan sosok Mayang begitu juga Duta sebagai suaminya yang pasti kita semua merasa kehilangan ".


"Kau terlalu baik nak terima kasih ".


Duta tak mengatakan apapun, ia cukup mengerti bagaimana perasaan Alex. Ia pun dulu pernah kehilangan Carissa, sampai beberapa tahun akhirnya ia mau menikah dengan wanita pilihan orang tuanya, menjalani bahtera rumah tangga tanpa cinta dan memaksa untuk tetap menerima.


"Carissa mari kita pulang". ajak Duta menggendong Yuka.


"Tapi Om Alex bagaimana Duta ?".


"Biarkan dia sendiri itu yang ia butuhkan saat ini". sahut Duta.


Ketiganya meninggalkan hunian itu. Mereka diam sepanjang jalan.


__________


Di kota B Riko yang sudah memutuskan untuk membawa Mamanya pulang kini telah sudah berada di rumah sakit tempat Mamanya di rawat selama ini.


"Ma, kita pulang ya, Mama kangen rumah kan ?". ucap Riko pada Mamanya.


Salma, Mamanya Riko menatapnya dengan penuh arti " Mama sangat merindukan rumah tapi Mama tidak ingin orang itu ada di rumah kita".


"Ma, siapa irang itu Ma ?".


"Orang yang sudah membuat kamu tidak memiliki Ayah sejak kamu lahir". jawab Salma lurus ke depan.