
Deburan ombak yang menghantam tak berlaku bagi karang yang tetap kokoh tanpa goyah. Airnya yang asin tak mungkin akan berubah meski di tumpahan berjuta-juta kilo gula.
Setelah beberapa bulan berlalu mencoba menerima Riko sebagai suami masa depannya nanti, tak mengubah perasaan apapun pada dirinya, tetap sama seperti dulu sampai sekarang. Masih rasa teman baik bak saudara sendiri.
Carissa sudah berusaha sekuat kemampuannya tapi ia tak mau membohongi dirinya lagi.
Waktu itu, sepulang dari rumah orang tuanya, Riko sendiri yang menanyakan keputusan untuk menikah itu dan wanita itu memintanya waktu untuk mengenalinya lebih jauh lagi.
Riko harus menerima patah hati yang ke sekian kalinya saat Carissa tidak memiliki perasaan lebih padanya. Kali ini Riko benar-benar sudah berhenti berharap, ia tak mau kecewa lebih dalam lagi. Bagaimana tidak, setelah Carissa mengajaknya untuk menikah ia kira wanita itu sudah benar-benar menerima perasaannya tapi ia kembali menerima penolakan.
Tak mengapa baginya, meskipun kecewa ia tetap mencoba untuk menerima semua ini.
Tidak semua harus di paksakan dan di terima. Keinginan ini hanya di inginkan olehnya saja. Ia memutuskan untuk menutup hatinya sampai ia benar-benar menemukan pengganti Carissa di hatinya. Marah itulah yang saat ini ia rasakan pada wanita itu. Untuk itu ia memutuskan sesaat hubungannya dengan Carissa.
Bagaimana dengan Yuka ? Entahlah, biar itu menjadi urusan Carissa. Ia teramat sayang pada anak itu tapi ya sudahlah....
Carissa menerima dengan hati yang lapang jika Riko kecewa padanya, ia sudah memberi harapan padanya tapi ia tarik kembali, sudah pasti kecewa dan marah berhak di jatuhkan padanya. Ia juga sadar sikap Riko yang tidak ingin di ganggu terlebih dahulu. Sekarang tinggal bagaimana dia harus menjelaskannya pada putranya.
___________
Kabar meninggalnya Mayang membuat Carissa memejamkan matanya. Saat ini ia berada di kantor tempat kerjanya yang baru. Ia menghentikan pekerjaannya, ia mengingat kembali terakhir ia bertemu wanita itu di rumah sakit dan permintaan untuk menjadi madunya.
Hatinya sedikit terhenyak saat permintaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Kembali ia menuntaskan pekerjaannya karena ia akan pergi melayat ke kediamannya untuk terakhir kalinya.
Bukan apa-apa, ini sebagai tanda jika mereka pernah berteman baik.
Ia mengirimkan pesan pada adiknya untuk menjemput putranya di sekolah dan kembali menjemput saat sore hari.
Saat ia dan Tere memasuki rumah itu, ia kembali teringat saat pertama kali ia datang ke sini kala menjadi kekasih Duta. Ia memejamkan matanya mencoba menghilangkan bayangan itu dari kepalanya.
Kedatangannya membuat pandangan sinis Bram terhadapnya, kentara sekali wajah tak suka akan kehadirannya.
Ia menarik diri dari keramaian itu. Sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu ia melihat Duta yang berada di sisi istrinya itu. Duta dengan wajah sedih yang tercetak jelas pun membuat hatinya ikut merasakan kehilangan.
"Sa, lo kok diem aja si gak kayak biasanya ? lo kenapa ?" tanya Tere heran melihat perubahannya.
"Hemm, aku gak bisa bayangin gimana hancurnya Duta Re, pasti berat karena di tinggal istrinya". ungkap Carissa sedih mengingat ekspresi Duta tadi.
"Udah takdir Sa, siapa juga yang mau ya kan, lagian ya namanya laki-laki kalau di tinggal istrinya lebih dulu dan nangis sesenggukan kayak dia tadi katanya si cepet datang lagi jodohnya". ucap Tere akan fakta atau mitos yang pernah di dengarnya.
"Huss kamu ini masih basah juga tuh tanah kuburan istrinya kok yo tega ngomong gitu sama temen sendiri". ledek Carissa.
"Kan katanya lo Sa, aku kan cuma ngasitau aja, aku jadi kek ngerasa apa ya di bilang, emm ahh entahlah kek seneng kek sedih gitu liatnya". ungkap Tere merasa aneh dengan perasaannya sendiri.
"apa si Re gak jelas banget deh, dah liat depan aja ntar nabrak lagi". "ehh betewe lo uda berapa bulan si ini ?". elusnya pada perut sahabatnya yang terlihat sedikit buncit .
"empat bulan Sa, kenapa, jangan bilang kalo lo pengen lagi ?" ejek Tere.
"iss ngawur aja".
"Makannya cepet dong kasih Papa buat Yuka biar ni anak gue ada temennya ntar".
"makin ngawur lo Re".
Yuka yang dulunya kerab bertanya kenapa Riko jarang menelponnya pun sudah terbiasa, pelan-pelan Carissa memberi tahu kondisinya yang tak seperti dulu.
Semenjak ia bekerja kembali ia selalu menitipkan anaknya di rumah orang tuanya lebih tepatnya mungkin Yuka yang ingin tinggal bersama mereka sedangkan ia masih enggan untuk kembali ke rumah itu.
Seperti wanita yang tak memiliki anak kini jika melihat penampilan Carissa. Penampilannya bermetamorfosa menjelma gadis tujuh belas tahun.
Anak dan Ibu itu kini berada di rumah sakit untuk kontrol kondisi Yuka. Seperti doa sang Bunda, keajaiban kini ada pada anak itu. Kondisi Yuka yang membaik serta sel-sel kanker yang perlahan mulai mengecil bahkan hampir tidak ada membuatnya tak henti-hentinya mengucap syukur.
Walaupun begitu ia tetap tidak boleh meremehkannya. Ia akan terus memantaunya sampai benar-benar fix sembuh kata dokter.