
Tidak semudah itu memahami diri sendiri apalagi bernegosiasi dengan hati dan akal pikiran yang tidak pernah sejalan. Bram sudah cukup lama berperang dengan diri sendiri sampai ia uring-uringan. Seperti detektif ia selalu menyempatkan diri untuk melihat Yuka di sekolah seperti penguntit bahkan waktu terakhir Carissa dan Yuka yang menghabiskan waktu bersama di apartemen milik anaknya itu dan bukan ia tak tau jika istrinya juga turut berada di sana.
Ada perasaan iri saat istrinya bisa berada di tengah-tengah mereka sedangkan dia yang berat gengsi untuk mengakui jika ia juga ingin bersama mereka hanya bisa diam merutuki dirinya yang kalah dengan gengsi.
Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini Bram sudah memakirkan mobilnya di tepi jalan depan sekolah Yuka. Ia sudah bertekad akan menemui Yuka di sekolahnya hal ini lantaran ia terlalu menampakkan wajah di depan Carissa.
"Kenapa belum sampai, bukannya jam segini dia sudah sampai ?". lirih Bram yang masih bisa di dengar oleh sang sopir.
"Mungkin terkena macet Tuan". sahut sang sopir.
Sebuah taksi berhenti di depan gerbang sekolah, Carissa turun menggandeng tangan Yuka sampai masuk ke dalam sekolah lalu ia pun kembali memasuki taksinya.
Bram berfikir kenapa hari ini Carissa naik taksi tak seperti biasanya. Lamat-lamat ia melihat kepergian Carissa. Cukup lama ia berfikir akhirnya mobilnya masuk ke dalam pekarangan sekolah Yuka.
Bram turun lalu menuju ruang kepala sekolah.
Ngomong-ngomong ini adalah sekolah baru Yuka, sudah sepekan ia di sini. Semu ini di lakukan Carissa agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
setelah menunggu beberapa saat Yuka akhirnya datang ke ruangan kepala sekolah. Ia di hantarkan oleh wali kelasnya langsung untuk bertemu dengan Bram.
Kini di ruangan itu hanya ada Yuka dan juga Bram. Yuka sesekali menatap Bram lalu menundukkan kepalanya ke bawah, beda dengan Bram yang terus menatapnya.
"Apa benar nama mu Yuka ?". tanya bram akhirnya.
Yuka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Yuka sendiri bingung baru seminggu berada di sini ada orang yang mencarinya dan dia sendiri tak mengenalnya.
"Kemarilah". titah Bram.
Melihat Yuka yang diam saja tanpa bereaksi apapun Bram jadi gemas sendiri. " jangan takut, kamu anaknya Duta dan Carissa kan ? saya Papanya Duta". jelas Bram yang sukses membuat Yuka mengangkat kepalanya.
Pelan-pelan ia menuju Bram, duduk bersebelahan dengan Bram.
"Tidak, malah Yuka senang akhirnya bisa bertemu dengan Papanya Daddy ".
" Oh astaga apakah itu panggilan Daddy Duta yang memintanya ?".
" Tidak, Yuka sendiri yang ingin memanggilnya Daddy ".
Pertemuan yang sebentar itu membuat Yuka lega, karena itu artinya Bram sudah menerima atau bisa jadi merestui kedua orang tuanya.
_________
Sepanjang malam itu Bram melengkungkan sudut bibirnya. Tentu ini sesuatu yang aneh bahkan terkesan langkah baginya di sepanjang hidup bersama.
Tidak mungkin kan Bram menikah lagi di belakangnya dengan wanita yang lebih muda ?
"Pa, Mama perhatikan dari sepulang kantor tadi kok Papa kelihatan senyum terus, memangnya ada apa Pa ? Papa lagi menang tender atau apa ?". Tanya Sarah penasaran.
" Ini lebih dari sekedar menang tender Ma, nilainya tak terkira dan sesuatu yang baru Papa rasain selama hidup Papa". terang Bram ke Sarah yang terlihat masih menerka-nerka.
"Apa si Pa, beneran Mama gak ngerti maksud Papa". sahut Sarah.
"Tadi Papa abis ketemu sama cucu kita Ma, anaknya Duta". jawab Bram dengan bangganya.
Sarah yang mikir salah mendengar masih belum menunjukkan reaksi apapun.
"Apa Pa ?".
"Papa ketemu Yuka Ma anaknya Duta, cucu Papa". ulang Bram.
Sarah hanya diam mendengarkannya, matanya berkaca-kaca bahkan hampir jatuh air matanya.