
Sejak di ketahui penyakit sang putra, Carissa begitu lebih posesif terhadapnya, hal ini tentu membuatnya tak nyaman. Lain hal dengan Yuka yang terlihat seperti biasa saja, seperti orang yang tidak sakit sama sekali.
"Ma, bisakah Mama bersikap seperti biasa saja, Mama semenjak pulang dari rumah sakit jadi luar biasa terhadap Yuka, dan Yuka tidak suka Mama seperti itu, Yuka gak nyaman Ma". oceh Yuka pada Carissa.
"Yuka, sayang maaf kalo Mama jadi seperti ini, Mama hanya tidak ingin kecolongan lagi dengan kondisi kamu". sergah Carissa.
"Ma, Yuka akan tepat waktu minum obatnya dan dengerin apa kata Mama, Yuka mau Mama jangan berlebihan begitu". Balas Yuka.
Carissa menatap anaknya yang duduk berhadapan dengannya. "andai semua ini gak terjadi sama kamu, Mama pasti akan seperti biasanya nak, Mama takut, sangat takut kehilangan kamu, Mama hanya ingin lebih dekat dari biasanya denganmu karena umur kita gak ada yang tau meskipun ada kemungkinan sembuh buatmu, bukan Mama tidak yakin tapi inilah perasaan Mama ini hati Mama yang merasakan ".batin Carissa
"Baiklah sayang, maafkan Mama,apapun untukmu yang penting janji sama Mama jangan lupa". lanjut Carissa.
"Pasti Ma, oh ya Ma, Yuka besok sudah bisa sekolah kan ? bosan sekali jika di rumah terus". tanya Yuka.
"Iya sayang besok kamu sudah masuk kok".
Getaran Handphone membawa langkahnya ke meja tak jauh dari duduknya. Tertera nama Riko di layar tersebut.
"Baik ko, seperti yang aku bilang padamu kemarin". Ia berjalan menjauh dari tempatnya kini. "Ia harus minum obat itu setiap hari ko" Isak Carissa sambil meneteskan air matanya mengingat kondisi Yuka kedepannya.
"Apa hanya dengan minum saja Riss yang di berikan dokter ?". tanya Riko.
"Untuk saat ini hanya itu Ko, selama masa observasi saja setelah itu dokter akan ambil tindakan lanjut, karena memang ciri-ciri yang ditunjukan tidak seperti pada sakit kanker pada umumnya, makannya pingsannya kemarin itulah baru terdeteksi". balas Carissa.
"Are you oke Carissa ?". tanya Riko khawatir dengan dengan Carissa.
"Bohong kalau aku baik-baik saja Ko, tapi aku harus kuat kan demi dia, itu janjiku sejak dia berada dalam perutku, aku gak boleh terlihat sedih kan Ko di depannya, tapi aku selalu saja membiarkan mataku berembun melihatnya meminum obat-obatan itu, aku gak sanggup Ko". ucap Carissa.
"Riss, kamu gak sendiri, ada keluarga kamu, ada aku yang selalu bisa kamu mintai bantuan, kamu gak sendirian Riss". balas Riko menenangkan.
"Tapi nyatanya aku gak setegar itu Ko, Aku bolehkan sesekali bilang seperti ini, kali ini saja Ko, aku merasa gak kuat ngadepin ini Ko". jelas Carissa.
"Boleh kok Riss, silahkan saja tapi ingat ada Yuka di sisimu, baiklah aku tutup dulu, pekan ini aku akan ke sana menemanimu kontrol kondisi Yuka ke rumah sakit ".
"Baik Ko terima kasih, aku tunggu".
Panggilan itu terputus dan ia melihat Yuka berada tepat di belakangnya.
"Sayang, apa kau mendengarnya ?" tanya Carissa panik.
Tak ada jawaban yang keluar dari Yuka selain pelukannya terhadap sang Mama.
Ia bisa merasakan betapa ini terlalu berat untuk Mamanya. Mengingat perjuangan Mamanya membesarkannya seorang diri itu sudah bukti bahwa Mamanya adalah wanita tangguh dan tegar tapi tidak untuk menerima kenyataan saat ini.
Tubuh sang Mama bergetar dalam pelukannya begitu juga Yuka. Mereka sama-sama menangis untuk menumpahkan segalanya. Andai dengan menangis seperti ini beban itu bisa hilang sudah dari kemarin hal itu mereka lakukan bersama.
"Kita bisa lalui ini bersama Ma, Yuka sayang sama Mama, Maaf udah bikin Mama sedih, Yuka janji Yuka sembuh Ma, Maaf kalau selama ini apa yang Yuka rasain gak pernah kasih tau Mama, Yuka gak mau buat Mama sedih, tapi nyatanya malah berkali-kali lipat kesedihan yang Mama rasain, maafin Yuka Ma". ucap Yuka.
"Sudahlah, semua ini bukan salah kamu ini memang terasa sulit untuk kita tapi ini juga satu takdir yang memang harus kita jalani. Sayang kita gak bisa memilih takdir mana yang harus kita jalani semuanya sudah di tetapkan sebelum kita lahir ke dunia". Carissa merenggangkan pelukannya.
"Mama juga mau bilang terimakasih karena kamu sudah kuat, sudah bisa dewasa untuk bersikap, sudah selalu mengerti kondisi Mama sejak dulu". lanjut Carissa lagi.
"Ma, Papa Yuka wajahnya seperti apa Ma ?". Tanya Yuka membuka percakapan.
'kenapa kamu tanyakan ini sayang, Mama sudah tidak ingin membahas apapun'. Batin Carissa.
"Kok tiba-tiba tanyak ini ?". heran Carissa.
"Pengen aja Ma, Mama ada fotonya tidak ?, oiya Ma, Nama Papa Yuka siapa Ma ?" balas Yuka.
"Wajahnya seperti kamu, tampan dan pintar". jawab Carissa sambil mengingat wajah Duta.
"Namanya Ma ?". tanya Yuka memastikan.
"Sayang kali ini jangan bahas apapun dulu ya, nanti ketika keadaan kamu sudah baik-baik saja baru kamu boleh bertanya apapun yang kamu mau". terang Carissa.
"Mungkin nanti aku bisa cari tahu tentang Papa sama Om Reno aja". ujar Yuka dalam hati.
Kedatangan Riko yang sudah di rencanakan membuat Yuka tambah semangat, di tambah lagi dengan Mama yang dilihatnya merasa senang atas kehadiran lelaki itu.
"Om Riko setelah habis dari Rumah Sakit kita jalan-jalan ya Om, Boleh kan Ma ?" pinta Yuka.
"Boleh sayang apapun untukmu". jawab Carissa tersenyum.
Tiba di rumah sakit mereka langsung menuju ruangan dokter. Setelah beberapa kali melewati prosedur pengecekan akhirnya mereka keluar dari tempat yang berbau obat itu dan kembali besok untuk mengambil hasilnya.
"Yuka sama Om Riko jalan duluan ke mobil ya, Mama mau tebus obat kamu dulu ".
"Oke Ma". Jawab sang anak ketika berada dalam gendongan Riko. Manis sekali kedua lelaki itu seperti Ayah dan anak membuat Carissa senang melihatnya.
Selesai menebus obatnya Carissa langsung berjalan menuju parkiran.
"Carissa" panggil seseorang.
Carissa terdiam tanpa menjawab sapaan tersebut. Ia terkejut saat bersitatap dengan orang tersebut.
"Carissa kau kah ini, sungguh aku gak bermimpi kan". Lagi ucap lelaki yang tak lain adalah Duta.
Seolah suaranya habis ia tak mampu untuk mengeluarkan kata-kata. Dunia nyata seakan berhenti untuk mengingatkan Carissa pada masa silam.
Ia lantas pergi meninggalkan Duta yang menunggunya berbicara.
"Carissa tunggu, ku mohon berhenti". pintanya. "Carissa aku ingin berbicara sebentar saja, ada yang ingin aku tanyakan padamu ".
Carissa berhenti tanpa berbalik badan. "Gak perlu ada yang harus di tanyakan, aku permisi dulu". begitu saja ia berlenggang dari tempat itu.
Duta masih berdiri menatap punggung wanita yang dulu pernah mencuri hatinya itu. Ia adalah wanita pertama yang mengisi hatinya, bagaimana bisa ia melupakan itu. Duta gamang antara membiarkannya pergi atau mengejarnya.
Carissa lekas masuk ke dalam mobil. Dan kini mereka meninggalkan parkiran menuju Mall untuk menyenangkan buah hatinya yang terlihat tidak sabar.