
Entah sudah berapa lama waktu tidak mempertemukan dua manusia ini, perasaan yang tak sama membuat keduanya memberi jarak terlebih ungkapan yang tak berakhir manis. Yang dulunya enggan menjauh kini dengan pasrah meninggalkan, yang dulunya bertemu kini dengan terpaksa menghindar.
Saat ini begitulah yang Riko rasakan saat bertemu dengan Carissa. Wanita itu sungguh, entah dengan tega atau memang tak bisa menerima tapi terkesan menolak sampai berakhir rasa itu menghancurkan hatinya sendiri, hati seorang Riko.
Dari rasa sayang sampai berubah menjadi rasa yang entah bagaimana ia menjelaskan apalagi wanita itu kini berada di keluarga yang telah menghancurkan keluarganya. Sulit baginya untuk meluluhkan hati Carissa karena Duta adalah satu-satunya hati yang dari dulu hingga kini menempati hatinya meskipun ia sempat merasakan pedih yang tidak terkira.
Kini Carissa berada di sebuah rumah milik Riko yang ia tempati bersama Mamanya. Sudah hampir dua tahun ini semenjak Mamanya di rawat di rumah sakit Carissa tak pernah sekalipun membesuknya. Bukan tak ingin tapi Riko lah yang melarangnya.
"Tante senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan kamu lagi Carissa, bagaimana keadaan mu dan juga Yuka, anak itu pasti sekarang semakin menggemaskan". Salma berucap ketika memeluk Carissa.
"Rissa juga senang bisa bertemu Tante kembali, maaf ya Tan selama tante sakit Rissa gak jengukin, tapi itu bukan salah Rissa melainkan anak Tante yang melarangnya jadi marahin saja dia hihi". Carissa melirik Riko seraya menyindir ah memang faktanya begitu kok.
Riko hanya terdiam melihat interaksi dua wanita beda generasi itu, inilah yang selama ini ia harapkan Carissa berada di sisinya dan juga ibunya tapi semua itu hanyalah mimpi baginya. Semakin lama rasa suka pada Carissa semakin memudar.
"Rissa, menikahlah segera dengan Riko". celetuk Salma di sela-sela obrolan mereka.
Carissa menganga menatap wajah seorang ibu di depannya, ia bisa merasakan ketulusan dan kehangatan hanya dengan melihat manik matanya. Ia beralih menatap Riko yang kini malah menatap layar ponselnya.
"Tante, maaf Carissa tidak bisa menikah dengan Riko, Riko sudah Rissa anggap sebagai sahabat Rissa, tak ada perasaan lebih padanya". Carissa dengan hati-hati mengatakan itu pada Salma, takut wanita yang baru dinyatakan sembuh itu kembali merasakan drop karena sebuah penolakan.
Di luar dugaan Salma tersenyum ramah mendengar jawaban yang di berikan Carissa padanya. " Tante ngerti perasaan memang tidak bisa di paksakan, itu hak kamu untuk memilihnya, Tante hanya mencoba dan merayu mu barang kali Tante beruntung ". sahut Salma.
Selama ini ia berfikir jika di antara Carissa dan anaknya memiliki hubungan yang lebih tapi dugaannya meleset.
"Siapa lelaki beruntung itu yang telah memenangkan hati mu ?". Salma mengusap pundak Carissa.
Pertemuan itu di akhiri dengan makan malam, Carissa terpaksa makan di rumah Riko karena tidak enak menolak permintaan Salma, selama ia tinggal di kota B Salma lah sosok ibu pengganti baginya. Wanita itu sedikit banyaknya telah banyak membantunya sama seperti yang di lakukan anaknya Riko terhadapnya.
Carissa pamit pulang malam itu juga tapi sayang ke dua ban mobil miliknya kempes dan ia tak memiliki cadangan ban lain.
"Duhh gimana ya ini Tan, Rissa harus segera pulang menjemput Yuka di rumah Bunda, anak itu pasti akan ceramah sepanjang malam bahkan bisa sampai pagi". ucap Carissa merasa khawatir.
"Riko, kamu antar gih Carissa, mobilnya titip di sini aja besok biar Riko bawa ke bengkel". titah Salma.
Mau tidak mau Carissa menerima tawaran itu, ia tidak mungkin menunggu montir datang kan, mau jam berapa ia akan pulang.
Di jalan menuju rumah Bunda, tak ada obrolan seperti halnya dulu mereka bersama, semua terasa asing. Terlebih selama berada di rumah Riko,lelaki itu lebih banyak diamnya, hanya sesekali menjawab jika di singgung.
"Ko henti bentar di minimarket ya, rasanya haus banget". pinta Carissa yang memang merasa haus dari tadi.
" Gak perlu Rissa, aku ada". Jawab Riko lalu tangan kanannya beralih ke belakang duduk Carissa mengambil botol mineral dan menyerahkannya pada Carissa.
Carissa meminumnya hingga setengah dari botol itu.
"Akhirnya sudah mau sampai". batin Carissa, ia menyandarkan kepalanya ke belakang, lama kelamaan ia tak bisa menahan lagi berat matanya, tiba-tiba saja rasa kantuk menyapanya dan akhirnya ia memejamkan matanya.
Melihat Carissa yang tertidur hati Riko begitu menyayangkan sikapnya sendiri. Ia begitu ingin tapi tidak mungkin memaksa. Hatinya terlanjur kecewa harus menerima semua kenyataan yang di harapkan padanya.