
Gelak tawa terdengar pecah dari kamar Carissa, ia menggeliat membuka matanya perlahan. Ia keluar dari kamarnya mencari sumber tawa yang mengusik tidurnya.
"Astaga uda jam sebelas siang, kenapa tidak ada yang membangunkan aku". lirih Carissa melihat jam yang berada di atas nakasnya.
Dari pintu kamarnya ia bisa melihat Duta dan juga Yuka berada di meja makan. Ia mengelus perutnya yang terasa lapar.
" Mama kenapa berdiri di situ aja, sini Mankita makan siang bareng, Daddy uda pesan makanan". ujar Yuka yang melihat Carissa hanya berdiri saja di depan pintu kamarnya.
Ia lantas menghampiri keduanya " Mama belum lapar sayang, kamu makanlah dulu". sahut Carissa. Jujur aja dia sudah lapar karena pagi tadi saat di apartemen Duta ia hanya minum teh dan sepotong roti saja.
"Sayang, udah makan aja jangan nunggu laper, ini uda jam makan siang lo". bujuk Duta.
Carissa mendadak bengong, apa tadi sayang ?? Pipinya yang seketika merah mendengar panggilan itu, apalagi di depan anaknya yang belum terbiasa.
krruk kruuk Bunyi perut Carissa yang menandakan ia demo minta di beri makanan.
"hemm, katanya belum laper, sini buka mulutnya ". titah Duta terkekeh sambil menyuapkan makanan ke mulut Carissa.
Sedikit malu-malu karena ini hal yang tabu baginya tapi ia tetap membuka mulutnya menerima suapan dari Duta.
Carissa mengunyah dengan pelan bahkan sedikit malu.
"Daddy kok suapin Mama ? kan Mama bisa makan sendiri". ujar Yuka melihat interaksi keduanya.
"Gak papa sesekali Mama harus kita manjain sayang jangan Mama aja yang manjain kita". sahut Duta menatap Carissa dan menyuapkan makanan lagi.
"Ma, Daddy Yuka uda selesai, Yuka naik ke atas dulu ya Yuka mau tidur siang".
"Iya sayang". jawab Carissa
Duta menyuapi Carissa lagi dan lagi. "Apa sebegitu laparnya ya sampek jatah makan siang aku habis sama kamu ". celetuk Duta saat mengambil nasi dan ayam.
"sedikit, gak terlalu kok". ucap Carissa malu.
"Iya deh yang sedikit tapi nambah terus dan gak nolak di suapin terus".
Carissa membereskan meja makan sedangkan Duta hanya melihatnya yang mondar-mandir.
" Makasih ya". ucap Duta tersenyum.
"Untuk semuanya, untuk kamu yang nerima aku".
"Aku gak bilang aku nerima kamu". jawab Carissa.
"Maksudnya kamu belum bisa maafin aku Rissa ".
"Kamu memang pernah pergi tapi bagiku kamu gak kemana-mana kamu tetap tinggal di sini". ungkap Carissa menunjuk dirinya.
"Apa yang membuatmu bertahan sejauh ini Rissa ?".
" Karena aku percaya bahwa ada sesuatu yang menanti ku setelah sekian banyak kesabaran yang aku jalani selama ini yang akan membuatku terpana dan bahkan melupakan betapa pedihnya rasa sakit yang aku terima". jawab Carissa santai menatap manik mata Duta yang juga menatapnya.
"Meskipun belum sepenuhnya tapi aku bersyukur setidaknya Bunda dan Tante Sarah sudah bisa menerima kita, tinggal bagaimana Ayah dan juga Pak Bram, aku harus lebih kuat dan memperluas rasa sabarku lagi ". ucap Carissa lagi.
" Memang kalo soal perempuan hampir semuanya dia luar nalar ya jadi gak heran seorang Carissa bisa tangguh seperti ini". puji Duta.
" Apa ? di luar nalar ? maksudnya gimana ?".
"emm tidak-tidak jangan di pikirkan, intinya kamu selalu hebat di mataku selalu mengagumkan untukku ". sergah Duta cepat tak sanggup menjelaskan di luar nalar itu gimana.
" Aku tidak semengagumkan dan sehebat yang kamu pikirkan, aku tidak sekuat itu Duta, hanya saja tetap tenang dalam keadaaan apapun itu yang aku lakukan selama ini".
"Baiklah, Riss aku harus pulang besok kita ketemu di kantor atau kamu mau aku jemput ?". tawar Duta.
"Enggak perlu, oh ya aku tidak mau ya kita terlalu dekat di kantor, aku tidak ingin mereka tau tentang kita, bersikaplah biasa".
"Kenapa ? aku malah ingin mereka tau tentang kita biar gak ada yang berani macem-macem sama kamu apalagi laki-laki yang menatap mu dengan tatapan memuja, aku tidak suka ya kalau wanitaku di tatap seperti itu". Duta menjelaskan isi hatinya, iya selama ia satu kantor dengan Carissa sering sekali ia melihat mata karyawan yang curi-curi pandang ke Carissa.
"Hemm setidknya tunggu setahun ini itupun kalau uda dapet restu, aku ingin resign aja, aku ingin kembali fokus pada Yuka dan juga cafe". sahut Carissa. Setelah di pikir-pikir pekerjaannya sebagai sekretaris di kantor cukup menyita waktunya ia kewalahan membagi waktu antara Yuka kantor dan juga cafe. Benar kata Yuka waktu itu, ahh Carissa memang begitu, memang benar di luar nalar semuanya mau dilakukannya.
"Hanya Yuka dan juga cafe yang di perhatikan ? aku tidak ?". ucap Duta bersungut-sungut.
"Hemm nanti kalo uda pasti".
Duta berjalan mendekati Carissa duduk di sebelahnya menggenggam tangannya. " Rissa sudikah kamu menjadi milikku seutuhnya menjadi wanitaku satu-satunya lebih dari itu maukah kamu menerima ku sebagai suamimu ?" ungkap Duta dengan tulus.