
Sepanjang malam itu Carissa cuma bisa meneteskan air mata, tak kuasa menahan diri untuk tegar. Semalam saja ia tanpa Yuka bagai seminggu tak melihatnya. Malam ini begitu berat bagi semuanya tapi tidak dengan Pak tua yang membawa Yuka pergi, dialah Alex, Papa mendiang Mayang.
Alex memang merencanakan semua ini sudah tentu agar Duta memutuskan hubungannya dengan Carissa.
Ia merasa kembalinya wanita itu di kehidupan Duta membuat ia lekas melupakan bahkan menginginkan Carissa untuk selalu ada di hidupnya. Ia hanya ingin Duta tak menggantikan posisi anaknya di hati Duta, ia mau Duta sama halnya seperti dirinya yang tetap setia di tinggal lebih dulu oleh orang terkasih.
"Kakek kenapa Yuka ada di sini ? Yuka mau sama Mama kek ". ujar Yuka
"Adanya kamu dan Mama mu itu buat Duta meluapkan anakku, dengan mudah dia menggantikan anakku dengan wanita seperti Mama mu itu".
"Saya tidak terima dengan keputusan Duta, dia harus setia dengan anak saya Mayang, anak semata wayang ku yang uda pergi lebih dulu mendahului aku".
Alex mengungkapkan isi hatinya dengan air mata yang menggenang.
"Tante Mayang itu anak kakek ?" tanya Yuka spontan, ia teringat teman Mamanya yang dulu pernah beberapa kali bertemu.
"Kau mengenalnya ?"
Yuka menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Waktu itu Yuka ketemu sama Tante Mayang di cafe Mama, kita cerita-cerita terus Yuka di kasih ini sama Tante ". Tunjuk yuka, mengangkat tangannya yang terikat ke udara nampak benda bertengger di pergelangan tangannya.
Waktu itu ketika Yuka pergi ke rooptop cafe Mamanya saat itulah Mayang yang memang ingin me time sebelum ia benar-benar tidak bisa me time di dunia ia memutuskan menikmati hari-harinya itu, ia membawa beberapa barang yang mempunyai kenangan yang tak akan mungkin lagi ia kenang saat waktunya tiba. Selain membawa album masa kecilnya, ia juga membawa benda paling berharga pemberian orang tuanya, gelang yang ia harap-harap akan di berikan pada anaknya kelak tapi hayalan hanya tinggal hayalan. Ia kenang di tempat itu sampai akhirnya Yuka datang menarik perhatiannya.
Alex ingat betul itu adalah hadiah pertama yang di terima Mayang. Dulu kehidupan mereka tidaklah stabil, pekerjaan sebagai karyawan biasa tak cukup memberikan hadiah layak buat anaknya, tapi nasib beruntung berpihak kepada mereka. Saat Alex bertemu dengan Bram saat itulah ekonomi mereka mulai naik.
Jadi bisa di bilang pernikahan yang terjadi pada Duta dan Mayang itu juga atas dasar rasa terima kasih Alex pada Bram. Tapi lama kelamaan rasa terima kasihnya itu berubah menjadi ambisi untuk menjadikan Mayang satu-satunya menantu di keluarga Bram Prasetyo.
Kepergian Mayang menampar dirinya yang belum menerima kenyataan bahwa selain istrinya yang pergi lebih dulu anaknya juga ikut meninggalkannya.
Bram mengikis jarak melihat lebih dekat dan menyentuh gelang itu. Air matanya tumpah begitu saja.
"Kapan dia memberikan ini padamu ?". tanya Alex terus memandangi nanar gelang itu.
"Waktu di cafe Mama kek, Tante Mayang bilang ini gelang kesayangannya sampai kapanpun, gelang ini mau di berikan anaknya tapi katanya itu gak bisa terjadi makannya Tante May maksa supaya Yuka nerima ini, katanya nanti Yuka juga bisa jadi kesayangan Tante May".
Alex menata Yuka lekat-lekat, bayangan Mayang melintas di kepalanya. Seperti bisikan Alex harus menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Tidak seharusnya dia berbuat sejauh ini. Tak ada gunanya, May dan Mamanya akan sedih melihat sikap Alex seperti ini.
"Gak seharusnya aku jadiin anak ini sebagai alat, maafin Papa May Papa memang egois harus meminta Duta melakukan apa yang Papa lakukan juga". Lirih Alex.
Alex sendiri yang membuka ikatan di tangan dan juga kaki Yuka. Ia menyadari kesalahan terbesarnya. Ia lupa jika Yuka adalah darah daging Duta dan Carissa tak lain cucu seorang Bram Prasetyo, orang yang sudah membantunya memberi modal untuk membuka usahanya sendiri sampai maju seperti sekarang.
Alex men deal kontak di handphonenya, menyuruh seseorang untuk datang ke rumahnya.