
Malam kedua berada di apartemen Duta.
Duta keluar dari kamar Yuka menghampiri Carissa yang sedang menonton film.
"Apa dia sudah tidur ?". tanya Carissa.
"Sudah". jawabnya singkat dan duduk di sampingnya. "Aku senang melihat mu bersama Mama hari ini, aku harap Papa juga sama seperti Mama ". ujar Duta menatap Carissa yang fokus menonton.
"Carissa, bisakah kali ini kau jujur padaku ?".
"Tentang ?". sahut Carissa yang masih fokus menonton.
"Perasaan mu". Jawab Duta.
Carissa melirik Duta dan kembali fokus ke depan. " Kau tau dulu aku bertanya-tanya kalau sang pencipta mengambilmu dariku aku manut saja, tapi kenapa tidak sepaket dengan perasaannya yang di titipkan padaku ? aku juga berfikir bagaimana caranya melupakan mu sedangkan kau tak bisa ku hapus dari masa laluku, Kau tau sering kali aku menangisi diriku sendiri yang gak tau gimana, aku tertatih membawa tanya yang tak ku tau jawabannya. Aku memikul sakit yang aku gak tau apa penawarnya". ungkap Carissa.
Carissa terdiam beberapa saat. " aku gak tau apa melupakan mu benar-benar bisa sementara jawaban atas tanyaku yang ini adalah bertemu lagi denganmu, yang pasti setelah ini yang pantas adalah menerimanya dulu, menjalaninya dulu mengikuti prosesnya tanpa protes. Satu yang aku yakini saat bertemu lagi denganmu, semesta tak ingin aku binasa karena perasaan ini". sambung Carissa.
Keduanya kembali diam.
"Carissa itulah takdir yang di tetapkan, akupun sempat kecewa dengan kepergian kamu, tapi aku lebih kecewa lagi dengan harapanku sendiri. Untuk waktu yang tidak bisa aku tebus aku juga tersiksa sendiri apalagi setelah aku tau kamu pergi membawa anak kita tanpa siapapun yang nemenin kamu". sahut Duta.
Carissa menatap Duta, terlihat wajah serius pada Duta membuat Carissa menganggukkan kepalanya. Sungguh ini di luar kuasanya. Carissa begitu cepat melupakan rasa sakit di hatinya. Yang ia rasakan saat ini adalah kesungguhan yang di tunjukan Duta dan juga dukungan dari Mama Sarah. Mama sarah benar, semuanya harus di selesaikan dengan kepala dingin tanpa emosi. Sesuatu yang dipikul bersama akan terasa ringan di bawa.
Duta mendekat memeluk Carissa, begitu juga Carissa yang membalas pelukan Duta. Keduanya terlalu nyaman pada posisi ini sampai lupa malam sudah sangat larut.
" Rissa sebaiknya kita tidur di kamar, aku gak mau badanku pegal-pegal kalau harus tidur di sini". ucap Duta yang di iyakan Carissa.
"Kau tau aku terkejut waktu di meja makan ada Posh pie kesukaanku, aku pikir kamu lupa ternyata enggak". ucap Duta saat berjalan menuju kamarnya bersama Carissa.
"Oh ya, apa banyak lelaki yang mendekati mu saat kau berada di sana tanpa ku ?". tanyanya lagi.
"Entah aku tak pernah memperhatikan, aku hanya fokus pada Yuka dan pekerjaan ku di sana". jawab Carissa.
"Aku tidak yakin kau jujur Rissa, kau seperti gadis-gadis pada umumnya pasti banyak yang suka padamu ".
"Kau mau aku bersikap seperti kemarin-kemarin padamu ? atau kau sudah merasa menang karena hari ini ? baiklah akan ku tarik ucapan ku yang tadi". sahut Carissa.
"ahh aku hanya bercanda Carissa aku bisa gila jika harus kembali menghadapi sikap cuek mu itu aku gak sanggup, baiklah sekarang kita tidur aku tak ingin besok kita terlambat bangun, Yuka akan menceramahi mu seperti tadi pagi". jawab Duta.
Pasangan itu tidur dengan nyenyak. menyelami mimpi yang akan mereka rajut kembali. Mimpi yang sempat tertunda bahkan mungkin terkubur.