
Bugh.
Seketika Riko terhuyung ke lantai, tubuhnya jatuh seketika saat seseorang memberinya tinju tanpa aba-aba terlebih dahulu. Lagi dan lagi Riko di hujani tinju yang tak henti-hentinya dari seseorang.
Darah segar keluar dari sudut bibir Riko, pipinya penuh dengan lebam merah akibat tinju yang dia terima. Ia memegangi rahangnya menahan sakit.
Melihat adanya kesempatan Carissa cepat-cepat pergi menjauh dari tempat itu, ia bisa melihat kemarahan dari sorot mata lelaki itu.
Duta, iya Duta saat itu memang akan kembali ke kota A karena masalah yang ada di kota K telah selesai, awalnya ia berniat ingin memberi kejutan kepada Carissa dan juga Yuka jika ia akan pulang lebih awal, tapi malah Duta sendiri yang merasa terkejut dengan berita yang ia terima dari orang suruhannya.
Dengan segera Duta memilih penerbangan malam itu juga. Ia mencoba untuk mengontrol emosi yang saat itu tengah menguasainya. Dion yang mengerti bagaimana Duta dengan segera memerintahkan orang-orangnya untuk bergerak cepat serta memastikan Carissa baik-baik saja.
Emosi Duta semakin membuncah saat mengetahui Carissa di bawa ke apartemen milik Riko, dalang di balik semuanya termasuk aksinya dalam mencelakai Bram.
"Beraninya kau ?" umpat Riko menatap nyalang ke Duta sesekali meringis menahan perih pada lukanya.
"Caramu begitu kotor Bung". Sahut Duta mengepalkan tangannya menatap dengan tatapan devil.
"Bangsat kau, dasar anak pembunuh, Harusnya dari dulu aku menghabisi lelaki tua itu, dan kau lelaki tak tau diri yang harusnya akulah yang bersama dengan Carissa".
"Aku bukan anak pembunuh kau tutup mulutmu itu, dan Carissa punya hak untuk memilih dengan siapa ia akan menghabiskan sisa perjalanan hidupnya".
Riko mengucapkan dengan penuh emosi, dadanya kembang kempis, Carissa sendiri masih syok dengan kejadian yang baru ia terima tapi ini, apa ? berita tentang masa lalu Bram yang menghabisi nyawa seseorang.
Duta maju memberi tinjuan bertubi-tubi pada Riko merasa tak terima dengan tuduhannya terhadap lelaki yang selama ini ia hormati dan menjadi panutan.
Kedua lelaki itu membuat gaduh, Dion yang melihat itu langsung saja mencoba merelai keduanya. Dua lawan satu loh ya siapa coba yang menang ? etsss sabarr dulu.
Akkhhh
Jeritan itu seolah menghentikan pertikaian di antara mereka. Duta ambruk tepat di hadapan Carissa yang saat itu juga merasa kaget dan menjerit histeris.
"Dutaaa....
Carissa refleks menghambur ke tubuh Duta yang tergeletak. Ia membalikkan badan Duta mendapati darah yang keluar dari perutnya. Duta tertusuk oleh sajam milik Riko yang ia sembunyikan di saku celananya.
Dion segera melumpuhkan Riko dengan bantuan bawahannya yang baru saja tiba. Riko tertawa dengan kerasnya merasa begitu puas dengan apa yang sudah ia lakukan pada Duta.
Tekadnya sudah bulat jika ia tidak bisa memiliki Carissa maka Duta juga tidak boleh memilikinya, awalnya memang ia berniat ingin mencelakai Carissa, karena merasakan sakit hati akibat cinta yang selalu tertolak tapi keadaan malah punya cerita sendiri.