
Atensinya mendengarkan cerita Salma tentang kejadian berpuluh tahun lalu membuat dadanya sesak. Tak pernah ada di benaknya seorang Bram Prasetyo sanggup melakukan hal itu pada keluarganya terdahulu. Tak menyangka nyawa Ayahnya melayang akibat perbuatan Bram. Ia menyadari ternyata selama ini ia bekerja di perusahaan milik seorang pembunuh.
Salma kembali terguncang saat Bram datang ke kota B kala itu. Ia yang sedang berada di pinggir jalan menunggu taksi tak sengaja melihat Bram yang turun dari mobilnya masuk ke dalam sebuah hotel yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat itu.
Kejadian yang merenggut nyawa sang suami kembali terngiang-ngiang memenuhi kepalanya.
Saat itu Salma dan suaminya tengah berada di pinggir jalan menunggu angkutan umum untuk segera kembali pulang ke rumahnya. Saat itu Salma dan suaminya baru saja memeriksakan kondisi kehamilannya di salah satu rumah sakit. Kandungannya waktu itu menginjak bulan ke empat. Ketika menunggu Bus datang Salma melihat penjual cookies di sebrang jalan dan ia mengatakan hal itu pada sang suami.
Melihat keinginan sang istri yang sedang mengidam itu, tak tega rasanya jika menolak untuk membelikannya.
Salma hanya menunggu di tempatnya semula sementara sang suami sudah kembali menyebrang jalan. Di sana Salma begitu antusias menanti sang suami yang beberapa langkah lagi sampai di hadapannya membawa cookies keinginan anak dalam kandungannya.
Untung tak dapat di raih nasib buruk kini menimpa mereka. Di depan matanya sang suami terpental jauh akibat di tabrak oleh mobil yang di kendarai Bram saat itu. Cookies yang di bawanya berhamburan di jalanan.
Tubuh sang suami terlempar beberapa meter dan bersimbah darah. Salma menjerit histeris memantik perhatian orang di sekitar.
Ia memandangi sang suami tak percaya, baru beberapa menit yang lalu ia melihat senyum bahagia sang suami tapi di depannya kini senyum itu luntur tergantikan tangisan sakit.
Orang-orang yang berada di situ langsung membawa tubuh suaminya kembali ke rumah sakit tempatnya memeriksakan kehamilannya. Di sisi lain Bram yang berada di balik kemudi terlihat panik dan terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Kaca mobilnya di ketuk dengan keras berkali-kali dari luar memintanya keluar untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah ia lakukan. Saat itu orang-orang menariknya tepat pintu mobil itu terbuka. Ia pasrah di bawa ke rumah sakit oleh mereka menghadap Salma dan suaminya.
Di rumah sakit, Salma dengan cemas menunggu dokter memeriksa suaminya. Suara ramai menginterupsi ruang tunggu IGD rumah sakit. Bram masih beruntung tidak mendapat hadiah bogeman dari orang-orang yang membawanya.
Melihat itu Salma memandang Bram dengan marah dan sakit hati atas perbuatannya entah di sengaja atau tidak yang jelas nyawa sang suami sedang di pertaruhkan di dalam.
"Bawa aja buk bawa, orang kayak gini pantesnya memang di sana ". sahut yang lain.
Bram memandang Salma dengan wajah mengibah. Bram tak tahu harus melakukan apa terhadap wanita yang ada di depannya saat itu. Wanita itu terlihat mengelus perutnya yang terlihat membuncit. Menyadari itu Bram mengerti jika wanita itu tengah mengandung.
"Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya tapi tolong jangan bawa saya ke kantor polisi, dan lagi apapun yang terjadi kedepannya saya akan bertanggung jawab atas anak yang anda kandung". Jelas Bram.
Salma tengah berfikir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ia berharap Tuhan mengabulkan doanya. Ia hanya ingin suaminya selamat. Salma melihatnya dengan iba dan tak tega.
"Baiklah asalkan anda menepati ucapan anda". Salma yang memang tak tega lantas memilih untuk membiarkannya lepas dari orang-orang tersebut. Mereka semua membubarkan diri mendengar keputusan Salma menyisakan Salma dan Bram di tempat itu.
Decitan pintu mengalihkan pandangan mereka. Dokter keluar dengan raut wajah tampak mengisyaratkan sesuatu.
Salma berdiri menghampiri Dokter tersebut. "Bagaimana suami saya Dok ? dia baik-baik aja kan Dok ?".
Dokter terlihat menimang kembali ucapannya. Melihat kondisi Salma yang mengandung ia masih memilih kalimat yang pas agar Salma bisa menerima apa yang terjadi.
Dokter menghirup udara dalam-dalam dengan berat ia pun mengatakannya. "Saya minta maaf bu, suami anda tidak bisa kami selamatkan, kami sudah semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain".
Hati Salma bagai tertikam belatih sampai dasar. Ia begitu terpukul dengan berita ini. Air matanya tumpah mengingat kondisinya kini.
Sementara Bram yang saat itu tengah duduk mendengarkan pun berdiri saat Dokter memberi tahukan keadaan suami Salma.
Bram tidak menyangka ia telah membuat seorang istri kehilangan suami dan membuat calon anak lahir tanpa sosok Ayah.