The Return of Love

The Return of Love
58



Seminggu setelah hari itu akhirnya Duta akan pergi ke kota K untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di sana.


"Yuka, besok pagi setelah nganter kamu sekolah Daddy akan langsung berangkat ke Bandara ya". ujar Duta di tengah malam malam.


"Yes Dad, Don't forget souvenirs for Yuka, Dad hihi". sahut Yuka.


"Tentu sayang, kamu baik-baik di rumah sama Mama, jangan sampai rindu Daddy, berat nanti kamu gak sanggup biar Daddy aja ya". ucap Duta melirik ke arah Carissa.


Mendengar dan melihat lirikan Duta tak membuat Carissa salah tingkah, malah di balas dengan tatapan tajam setajam silet hahaha.


Carissa mengistirahatkan badannya yang lelah, ia memiringkan tubuhnya membelakangi pintu kamarnya di mana saat itu Duta masuk ke dalam.


Mendengar derit pintu yang terbuka membuat Carissa memejamkan matanya. Duta naik ke atas ranjang di sisi Carissa yang kosong. Duta menatap langit-langit kamar itu, menerawang jauh sampai matanya lelah.


Ia pun melingkarkan tangannya di pinggang Carissa. Ia menghidu aroma rambut Carissa yang wangi persis tak berubah aromanya. Ia mengusekkan kepalanya ke leher Carissa yang merasa geli.


"Hemm kamu belum tidur ". ucap Duta merapatkan pelu*kannya.


"Hemm". sahut Carissa


"Riss, makasih untuk semuanya".


"Aku gak melakukan apapun, gak usah berterima kasih". jawabnya


"Enggak, aku memang harus berterima kasih sama kamu untuk apapun itu entah itu sekarang ataupun nanti". sahut Duta.


"Oke sama-sama". Balas Carissa.


"Rissa". ucap Duta lirih.


"Hemm".


"Kamu gak ada yang mau di omongin sama aku ?". ujar Duta sedikit kesal dengan respon Carissa yang terkesan cuek.


"Gak ada". jawab Carissa cepat.


Duta merenggangkan pelu*kannya, Carissa langsung membalikkan badannya mem*eluk Duta. Ia benamkan wajahnya di dada bidang milik Duta. Tak mengatakan apapun, Carissa hanya memejamkan matanya. Sungguh kesal bukan main malam ini Duta di cuekin Duta. Apa coba maksudnya, cuek tapi maunya deket-deket begini.


"Apa kamu mau nyetok pelu*k aku biar gak rindu si tinggal ?". lirih Duta.


"Gak usah kepedean". Carissa melepaskan dirinya lalu keluar kamar tanpa mengatakan apapun.


"Benar-benar ya perempuan sulit sekali di mengerti". umpat Duta.


Lama Carissa tak kunjung kembali membuat Duta menyelami mimpinya sendiri. Carissa masuk saat Duta benar-benar sudah terlelap. Ia duduk di samping Duta dan menggoyangkan lengan Duta agar laki-laki itu membuka matanya.


Duta tersenyum senang melihat ini, ia sendiri bahkan lupa jika ini adalah hari kelahirannya. Carissa mendaratkan kecu*pan di pipi kanan Duta membuatnya melebarkan senyumnya.


"Tiup dulu, jangan lupa doa". ucap Carissa.


"Terima kasih sayang".


Carissa memotong cake itu dan menyuapkan ke Duta. Duta juga melaksanakan hal yang sama.


Carissa meletakkan cake itu di atas nakas lalu meraih kotak dari dalam laci dan memberikan itu pada Duta. Ia membukanya dan matanya menghangat melihat benda yang sama persis seperti miliknya yang tidak pernah ia buang dan Carissa juga sama sepertinya menjaga benda itu sampai detik itu juga.


"Kamu masih menyimpannya ?" tanya Duta dan di angguki Carissa dengan senyuman.


"Aku selalu menyimpannya dengan baik, entah kalau kamu". ucap Carissa mengambil cincin iti dan menyematkannya di jarinya sendiri.


"Apa ini bukti kalau kamu benar-benar kembali padaku ?". tanya Duta memastikan tanpa Yuka yang menjadi alasannya.


"Iya aku menerima mu kembali karena hatiku sudah terpaut dengan kamu, jangan pergi lagi dari sisiku, aku benci melihat diriku sendiri yang patah hati setelah kau pergi waktu itu". jawab Carissa lirih menahan isaknya mengingat waktu dimana ia mengejar Duta yang akan pergi kuliah ke LN.


Duta mengeluarkan sesuatu yang dari atas bajunya, nampak kalung yang ia pakai terjuntai dengan cincin yang tergantung di sana. Mata Carissa berkaca-kaca ternyata Duta selalu membawanya kemana pun. Duta melepaskan cincin itu dari kalungnya dan menyematkannya di jemarinya.


Carissa masuk ke dalam pelu*kannya.


"Kok nangis si harusnya seneng dong". tanya Duta.


"Aku kira kamu melupakan cincin itu, aku kira kamu membuangnya, aku kira kisah kita berhenti saat itu, aku kira...


"ssstt jangan di ingat-ingat lagi ya, aku gak mau kamu mengingat itu lagi aku selalu menyalahkan diriku kalau kamu seperti ini".


Duta membingkai wajah Carissa dengan kedua tangannya, lucu melihat Carissa yang menangis tapi memaksa tersenyum dengan rambut yang berantakan menutupi wajahnya yang manis. Ia membenarkan rambut yang menghalangi penglihatannya. Ia mengikis jarak dan mengec*up bibir Carissa yang ranum. Mereka berdua menikmati cecapan itu dengan penuh tuntutan.


"Carissa". lirih Duta dengan tatapan matanya yang sayu. Napas mereka terengah-engah lalu keduanya tersenyum.


"Esok aku akan pergi gak tau berapa hari, apa kau tega tak memberikanku bekal untuk ku di sana agar tak merindukanmu ?". ucap Duta.


"Perasaan tadi ada yang bilang sanggup nanggung rindu yang berat itu". sindir Carissa.


"Itukan kalau di depan Yuka, di depan kamu aku mana bisa, ini aja aku pengen makan kamu". sahut Duta.


Carissa mendongakkan kepalanya ke atas membuat Duta menatapnya. " Makanlah jika itu akan membuat mu lekas pulang ke rumah ini". ujar Carissa.


Mendapat lampu hijau tak mungkin di sia-siakan begitu saja.


Malam itu menjadi malam termanis bagi keduanya setelah beberapa tahun lalu, penyatuan yang membuat keduanya lupa sampai menjelang pagi baru mereka akhiri.