
Seminggu berlalu tanpa terasa, dan terasa banget rindunya buat Duta untuk Carissa. Carissa baru saja sampa di meja kerjanya tapi deringan panjang dari Duta sudah menyambut pagi harinya.
Cepat Carissa mengusap layar handphonenya. Tampak wajah Duta yang tampan itu memenuhi layar handphone miliknya. Keduanya kompak tak saling bicara untuk beberapa saat. Hanya memperhatikan satu sama lain, udah kayak berada di belahan dunia lain aja mereka ini ah.
"Kamu sibuk ?". Tanya Duta yang hanya di balas gelengan kepala oleh Carissa.
"Kamu dah sarapan tadi kan sama Yuka ?". Tanyanya lagi dan hanya di jawab dengan anggukan kepala saja.
"Kamu gak rindu aku ?". Lagi dan lagi hanya di jawab dengan gelengan kepala saja oleh Carissa.
"Hemm mahal banget suaranya ya, sama calon suami sendiri aja sok malu gitu". Jelas perubahan Duta yang tampak tak semangat.
Seperti tidak peduli sikap yang Carissa tunjukkan membuat semangat yang tadinya membumbung tinggi kini terjun bebas sampek dasar. Beberapa hari ini Carissa memang bersikap dingin pada Duta, entah apa mau Carissa yang jelas hanya wanita itu yang tahu.
"Makin kesini kayaknya kamu makin kesana, padahal sebelum berangkat kamu juga manis banget sikapnya, aku ada salah ya, bilang dong jangan diemin aku gini, kerjanya gak semangat, mana bentar lagi mau meeting, nanti pas aku meeting telfonnya jangan di matikan". Ucap Duta menginstruksi.
Terdengar suara Dion yang memberi tahu jika semuanya telah menunggunya di ruang meeting. Duta bergegas pergi, tak lupa ia mengatakan pada Carissa untuk tidak mematikan sambungan teleponnya.
Di ruang meeting Duta meletakkan handphonenya di depan layar laptop miliknya. Kan gak lucu kalo Duta memegang handphone ke depan wajahnya kan. Malu dong udah tua kek anak ABG aja.
Sementara Duta meeting Carissa juga sibuk menggerakkan jarinya di keyboard laptop miliknya. Sesekali keduanya sama-sama menatap tapi kayaknya lebih banyakan Duta si ya yang intip-intip.
Carissa menampakkan dirinya setengah badan serta memperlihatkan kertas yang ada di hadapannya. Melihat itu Duta jadi tidak fokus. Entah apa yang mau di lakukan Carissa dengan kertas itu.
Carissa mulai menarik satu kertas yang kosong dan di kertas kedua tertulis tulisan SAYANG. Duta tersenyum senang melihat itu.
Selanjutnya Carissa menarik kertas itu lagi dan terlihat tulisan HAPPY BIRTHDAY SAYANG. Duta membulatkan matanya tak berkedip.
Duhh makin ke sini makin gak fokus ni Duta. Ia melirik orang-orang yang ada di sekitarnya, telinga mendengarkan di sini tapi matanya melihat yang di sana.
Di kertas selanjutnya tertulis AKU BERI KAMU DUA PERMINTAAN. Ahh Carissa ini kek iklan rokok aja yang ada jinnya itu hahaha.
"Ehemm". Duta berdehem menghentikan karyawan yang sedang menjelaskan. "Kita break dulu, nanti kita lanjut selesai makan siang, silahkan kembali ke tempat kerja kalian masing-masing". Ucap Duta seenaknya, padahal masih jam sepuluh rapat di jeda berjam-jam membuat karyawan merasa heran.
Duta langsung menutup laptopnya dan pergi meninggalkan ruang meeting dengan cepat menuju ruangannya.
Carissa masih setia di sana. "Duta Prasetyo happy birthday, semoga makin sayang, makin ganteng dan makin kaya biar aku gak perlu lagi cari kerja sampingan hihihi". Ucap Carissa saat Duta sudah duduk di kursi kerjanya.
"Senyum-senyum kamu tu ya, suka kali buat aku gelisah gini tapi gak papa, gak sabar nagih dua permintaan dari kamu". Sahut Duta.
"Jangan aneh-aneh ya, awas aja kalau aneh-aneh aku tarik lagi nanti". Ucap Carissa.
"Kamu masih inget tanggal lahir aku, aku aja sampai lupa, sayang makasih ya uda buat aku bucin gini, kamu pasti pake dukun kan, kamu pasti jampi-jampi aku kan makannya aku jadi gini ". Ujar Duta melihat Carissa yang menatap tajam ke arahnya.
"Tuh mulut asal aja kalo ngomong, tapi bener juga si, makannya kamu gak bisa move on kan dari aku hihihi". Jawab Carissa.
"Jadi beneran, kamu serius ngedukunin aku biar aku jadi kayak gini sama kamu ?". Sergah Duta cepat.
"Hahaha kamu ini, ya gak mungkin lah aku buat kayak gitu, lagian ya gak ke dukun kamu dari dulu juga bucin tau". Sahut Carissa.
"Rissa aku kangen, aku pulang ya, aku gak tahan jauhan gini". Ucap Duta sambil menopang kepalanya.
"Sabar dong, makannya gercep kerjanya biar cepat pulang ".
Keduanya ngobrol sampai waktu makan siang tiba, mereka sama-sama makan tanpa mematikan sambungan teleponnya.
"Batrei aku lowbat, nanti sambung lagi kalau uda di rumah aja sekalian telfon bareng Yuka, kamu semalam lupa kan, janjinya mau nelfon dia nungguin tau, mau telfn kamu duluan tapi takut ganggu kamu". Jelas Duta.
"Iya, kesian ya anak kita, masih satu suka di tinggal pergi kerja, coba ada adiknya pasti dia gak merasa sendiri, yakann Carissa". Ucap Duta yang Carissa tau kemana arahnya.
"Udah ah nanti makin ngawur ngomongnya, aku tutup dulu baybayy". Sahut Carissa langsung mematikan telfonnya.