The Return of Love

The Return of Love
62



Readers pernah merasakan mati rasa ? Enggak pernah ? Iss mana keren, kayak author la pernah hihihi. Pernah mengalami begitu banyak kesakitan sampek rasanya tu hambar kek gak pake garam ama gula macem nyayur aja ah, pernah merasa kesakitan sampai sembuh sendiri tanpa di obati, pernah sangat kecewa sampai sembuh sendiri tanpa harus di semangati, pernah merasa hancur sampai sembuh sendiri tanpa ada yang merangkul untuk menenangkan, pernah jatuh sampai ke dasar sampai sembuh sendiri tanpa harus berpegangan dengan apapun untuk bangkit lagi. Bagaimanapun lukanya pasti akan tetap sembuh tapi tidak dengan traumanya. Ini sih cerita author bukan Carissa ya. Wkwk


Beberapa hari Duta menghabiskan waktu di kantor untuk segera menyelesaikan tugas dan masalah-masalah yang ada, satu persatu semua teratasi oleh Duta. Ia merelakan waktu istirahatnya untuk kejar target agar segera kembali pulang ke Kota A. Seperti malam ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Duta dan Dion masih betah berada di kantor untuk mengurai pekerjaan mereka.


Tok tok.


Dion mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Duta. "Maaf Pak Duta menganggu". Ucap Dion saat berada di depan meja Duta.


"Biasa aja manggilnya, berdua jugaan". Sahut Duta. "Ada apa ?".


"Gini, gue kan mau nikah dua Minggu lagi, jadi kerjaan untuk dua minggu ke depan uda gue kerjain ya, semua uda gue letak sini, gue kirim juga kok ke email lo jadi jangan rusuhin gue ataupun cari-cari gue selama gue nikah". Jelas Dion seraya meletakkan map file di atas meja Duta.


Duta jadi teringat ucapan Carissa waktu itu kalau tunangan Dion juga berada di kota ini. Dia diam sejenak lalu menatap Dion tajam. "Cuti maksudnya ? ".


"Yaelah Duta cuti aku pun tetap loe rusuhin kan, sama aja sebenarnya tapi ya gitulah pokoknya lo jangan ganggu gue selama gue mau nikah titik". Jawab Dion.


"Iya, jangan kelamaan juga, emm lo mau apa sebagai kado dari gue Di ?". Tanya Duta.


"Wah kesempatan si ini kayaknya haha tiket honey moon ke Milan, calon gue pen kesana terus hotel juga sekalian ya " Jawab Dion asal tapi memang bener kalau calonnya emang ingin mengunjungi Milan sebagai tujuan mereka honey moon kali aja beneran di kasih.


"Jauh banget lu mau buat anak aja, di sini juga bisa kali". Sergah Duta cepat.


"Iya deh serah lu aja nanti gue kasih, keluar lu ah ganggu gue aja". Ucap Duta.


Duta sejenak berfikir ada bebernya juga apa kata Dion tadi, di ingat-ingat saat dulu masih pacaran mereka tak pernah jalan-jalan ke tempat yang Carissa suka, bahkan sampai merenggut segel kegadisan Carissa saja mereka lakukan di tempat yang ahh gitu lah sampai lupa nama tempatnya. Dan saat sekarang mereka kembali bersama dan bahkan sudah memiliki Yuka mereka juga tidak pernah pergi ke mana pun walaupun hanya sekedar untuk merekatkan diri dari rutinitas mereka sehari-hari yang bekerja pergi pagi pulang pagi ehh kek lagu aja wkwk.


"Baiklah setelah ini akan aku wujudkan apa yang jadi impian kamu dulu Carissa, untuk apa segalanya ada bagiku tapi kamu tak menghabiskan apa yang ada padaku". Ucap Duta sembari tersenyum.


Di kota A.


Bram beserta Sarah baru sampai di depan butik tempat di mana Carissa fitting baju pengantin. Bram turun memutari mobil tapi dengan cepat sebuah mobil menabraknya. Tubuhnya menghantam mobil miliknya, kepalanya terbentur sangat kuat seketika badannya terhuyung ke jalan dan tanpa di duga sebuah mobil yang sedang melaju juga menabrak Bram, beruntung mobil itu seketika mengerem tepat di samping Bram yang sudah terkulai bersimbah darah.


Sarah menjerit histeris melihat tabrakan itu. Ia dengan cepat menghampiri Bram yang di rasa masih bernafas namun matanya terpejam. Seketika tempat itu menjadi tontonan orang yang berjalan kaki, diantara mereka ada yang sebagian hanya jadi penonton, ada yang mengambil foto maupun vidio miris sekali zaman saat ini bukannya di bantu atau menelfon ambulans malah mencari kesempatan untuk dokumentasi pribadi.


"Tolong panggilkan ambulan, tolong ". Teriak Sarah menangis meminta tolong.


Pegawai butik yang melihat kejadian itu langsung keluar dan segera menelfon ambulan.


Tak butuh waktu lama ambulan pun datang dan dengan cepat Bram di angkat dan di masukan ke dalam mobil tersebut di temani dengan Sarah yang merasa putus asa.