The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 9. Bertemu Teman Lama (Xiǎoyù)



Di tengah perjalanan semuanya tertuju pada mereka, semuanya menyimpan tanya dan kekaguman, terjadi ribuan kata dalam perbincangan, hanya sedikit yang terdengar jelas di telinga mereka berdua.


"Wah, pada akhirnya Pasangan menakutkan ini hadir juga."


"Hei, menakutkan bagaimana? Mereka adalah Pasangan serasi, bukankah begitu?"


"Hm ... meskipun tak terlihat menakutkan, banyak yang akan menjaga jarak dari Mereka."


"Aku dengar ... Mereka selalu menjalankan Tugas Besar, itu alasannya mengapa Mereka jarang terlihat."


"Hah, menetralisir Hati Iblis adalah pekerjaan yang sangatlah sulit, Mereka harus mengawasi Dunia Langit, Dunia iblis, dan juga Dunia Manusia, hampir setiap saat melakukan pertarungan sengit dengan siapa saja yang berniat ingin menguasai Ketiga Alam ini dengan cara yang kotor."


"Pantas saja ... Wajah Pria itu terlihat sangat dingin."


"Pria itu adalah Ketua Sekte Iblis, tetapi ... Aku pernah mendengar bahwa ada masalah di dalamnya, entah Dia mengetahuinya atau tidak."


"Pasangannya begitu ceria, terlihat cantik dengan senyuman manisnya, bagaimana bisa di bilang menakutkan?"


"Menakutkan karena ... Racun Abadi yang dia miliki belum bisa dia kontrol sendiri, itu sebabnya ... Pasangannya terus menggenggam tangan Wanita itu, karena hanya Dia yang mampu menetralisir racunnya."


Di sela perbincangan yang mereka berdua dengar, tiba-tiba Táohuā berbisik kepada Liánhuā.


"Hei, senyumlah sedikit, bukankah pendengaranmu sangatlah tajam? Apa Kau mendengar perbincangan tadi? Mereka bilang Kau terlihat begitu dingin, sama persis dengan yang dikatakan Xiǎoyù kau seperti Sebongkah Es."


Liánhuā hanya menatap Táohuā sesaat, tetapi tak melakukan apa yang Táohuā perintahkan.


"Hei, Mereka sudah dekat, wah ... tampan sekali, beruntung sekali Wanita itu, Aku tak bisa membayangkan jika Dia tersenyum, ah ... bisa-bisa Aku tak sadarkan diri."


"Ya, tentu saja tak sadarkan diri, karena Wanita itu akan meracunimu."


"Ah, Kau ini menakutiku saja."


Liánhuā pun mulai membisikan ledekan kepada genggamannya itu.


"Bagaimana menurutmu? Apakah ... Aku harus melakukannya? Tersenyum di hadapan para tamu seperti yang kau inginkan?"


"Itu tidak perlu! Tetaplah seperti Sebongkah Es, itu akan lebih baik," jawab Táohuā kesal.


***


Sejam sebelum ke perjamuan, di tempat Xiǎoyù.


"Kakek apa Kau akan pergi ke Perjamuan Teh itu?" tanya Xiǎoyù memulai percakapan.


"Tentu saja, kenapa? Apa Kau ingin ikut?"


Xiǎoyù menganggukkan kepala sebagai jawaban ya.


"Benarkah itu? Táohuā akan ada disana? Wah ... Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya," kata Xiǎoyù yang dilanjutkan dengan senyuman seolah telah memikirkan apa yang akan mereka lakukan disana.


"Hei, Kau belum membuat janji dengan Kakekmu ini, ayo berjanjilah untuk tidak berbuat ulah," kata kakek memastikan


"Ah, baiklah ... Aku janji tidak akan banyak bertingkah, ayo berangkat!" kata Xiǎoyù yang telah siap untuk pergi.


Xiǎoyù adalah seorang Dewi, memiliki kulit putih seperti Cahaya Bulan, sebagian rambutnya terikat dan di sertai tusuk rambut yang terbuat dari giok berwarna Hijau Muda berbentuk Naga membuatnya terlihat sangat cantik. Xiǎoyù hanyalah Dewi biasa yang belum memiliki gelar, meski begitu banyak rahasia kekuatan yang ada dalam dirinya, tak satupun yang dia ketahui, Dewi yang memiliki paras cantik ini tak pernah mau ikut campur dengan urusan langit, tetapi ada pengecualian setelahnya.


Lain halnya dengan Kakek Guru Putih, parasnya yang jelas seperti kakek ini, terlihat berwibawa juga memiliki watak yang lembut dan penuh welas asih. Rambutnya panjang berwarna putih bercahaya dengan sebagian rambutnya di kuncir membuatnya terlihat sangat rapi. satu hal yang menjadi ciri khasnya yaitu dengan membawa fuchen fu (tongkat sabut bulu) sebagai senjatanya.


Perjamuan Teh Bunga Persik sebenarnya adalah perjamuan yang tidak begitu sakral, tetapi setiap Istana yang ada dilangit jelas akan merayakannya, dimana saat perjamuan itu mereka menanti Mekarnya Bunga Persik, tetapi Bunga Persik yang di maksudkan adalah yang berada di langit, jika meminum sarinya jelas akan sangat berkhasiat terutama untuk spiritual mereka. Mekarnya Bunga Persik harus menunggu musim, perhitungannya jelaslah rumit, harus menunggu sekitar empat tahun hitungan Langit untuk melakukan perjamuan lagi, jika disamakan dengan hitungan Bumi itu akan sangat lama bahkan Manusia yang berumur panjang bisa di lampauinya.


Kembali ke Perjamuan Teh.


Xiǎoyù yang telah tiba bersama Kakek Guru Putih, berjalan sedikit kekanak-kanakan sambil menggandeng tangan Kakeknya, matanya seperti mencari-cari sesuatu, ya ... tentu saja yang di carinya adalah Táohuā, teman yang dia nantikan kehadirannya.


Sama halnya dengan Táohuā, terus saja sibuk mencari temannya, tapi tak butuh waktu lama untuk mereka bisa saling menemukan karena Kakek Guru Putih dan Liánhuā telah saling melihat satu sama lain.


"Hei, di sebelah sana, disana orang yang Kau cari," kata Kakek Guru Putih kepada Xiǎoyù yang masih terus mencari-cari.


"Ah, disana rupanya, Táohuā ... Táohuā ... disini," teriak Xiǎoyù sambil melambaikan tangan dan masih tetap menggandeng Kakek Guru Putih


Kakek Guru Putih hanya bisa tersenyum, saat melihat tingkah Xiǎoyù yang tak memperdulikan siapapun saat sedang melakukan sesuatu.


Táohuā yang tentu saja mendengar suara nyaring jelas tak bernada itu, langsung menoleh kearah Xiǎoyù berada sambil ikut melambaikan tangannya, karena tak sabar ingin bertemu, dia langsung melangkah tanpa sadar tangannya masih terus di genggam Liánhuā, langkahnya terhenti karena Liánhuā tak melepaskan genggamannya.


"Kita sedang berjalan menuju kesana," kata Liánhuā dengan lembut sambil menatap Táohuā seolah mengisyaratkan bahwa dia harus tetap bersamanya agar tidak membahayakan tamu yang hadir.


Táohuā yang mengerti akan hal itu langsung menganggukan kepalanya, tetapi sedikit melangkah dengan cepat agar Liánhuā mengikuti langkahnya.


Liánhuā hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Táohuā yang seolah memiliki banyak ide untuk mencapai apa yang dia inginkan.


Pada akhirnya mereka pun bertemu.


Táohuā langsung membungkukkan badannya untuk menyapa Kakek Guru Putih kemudian beralih kepada Xiǎoyù.


"Xiǎoyù, bagaimana kabarmu?" kata Táohuā memulai percakapan.


"Ah ... Táohuā, jangan terlalu formal, apa kau tidak lihat diriku baik-baik saja?" jawab Xiǎoyù yang sepertinya tahu sifat temannya yang juga sangat centil.


"Hei, Táohuā ayo kita kesana,"sambil menunjuk ke arah meja yang penuh dengan hidangan lezat.


Táohuā pun mengiyakan tetapi tangannya tetap saja di genggam Liánhuā, dirinya masih terlihat panik karena mengingat hal yang buruk akan terjadi setelahnya.


Táohuā pun memasang wajah memelas agar bisa mengijinkannya untuk jalan-jalan bersama Xiǎoyù, berharap Liánhuā dapat mengerti perasaannya.