
Dalam Kerajaan, Seorang Kaisar memiliki Selir adalah hal yang paling umum terjadi, anak dari seorang selir pun akan di gelar kan sederajat.
Pangeran Li Kàn Yún merupakan anak dari seorang Selir, Ia yang memilih tidak aktif dalam bagian kemiliteran dan akan fokus mempelajari seluruh politik, mencoba mengambil hati Sang Kaisar dalam setiap strategi perluasan wilayah, baginya masuk dalam kemiliteran hanya akan membuang tenaganya.
Menikmati perjudian adalah caranya untuk memperdalam strategi kelicikan, soal kekuatan dan bela diri sudah tentu juga Ia miliki. Pengawal yang banyak bahkan sering berganti, acap kali mati di tangannya. Kekuasaan seorang Pangeran hanya akan membuat takut setiap pelayan kerajaan, menurutnya itu sudahlah aturan.
Pangeran Li Kàn Yún lahir lebih dulu sebelum Pangeran Li Jīnlóng, tetapi persaudaraan mungkin hanya akan terlihat ketika di hadapan Kaisar saja, selebihnya tegur sapa hanya akan menjadi tekanan mental. Setiap saat penuh kebencian, kembali ke Paviliun Kerajaan melampiaskan kemurkaan.
**
Lahirnya seorang Putri dalam Istana, membuat pemanis dalam suatu Kerajaan. Li Yōuměi Putri yang baru berusia balita ini merupakan anak dari seorang Selir.
Di masa usianya, Putri Yōuměi telah terbiasa dengan kehidupan glamor dalam istana, tak heran jika Ia akan merasa nyaman ketika terus berada di Istana.
**
Semua perubahan dalam kehidupan pasti selalu ada, demikian halnya dengan sikap setiap makhluk. Mencari kebenaran dalam setiap kesalahan, tak ada bedanya dengan kalimat sebaliknya.
Awal Musim Dingin, meskipun begitu perayaan untuk Pangeran Li De Lóng tetap saja meriah, semua Anggota Kerajaan hadir dalam istana untuk memberikan ucapan panjang Umur, termasuk Keempat Pangeran.
Pada kenyataannya Pangeran Li De Lóng sebenarnya tak menyukai perayaan hari lahirnya, akan tetapi semua adalah keinginan dari Permaisuri yang sedang mewujudkan keinginan sang jabang bayi, bahkan seluruh Anggota Istana di perintahkan permaisuri untuk merahasiakannya kepada Pangeran Kedua.
Acara yang berlangsung sangat ramai, seakan membuat malu Pangeran Li De Lóng yang kini telah beranjak remaja. Saat semua acara telah selesai, Pangeran Li De Lóng berjalan menuju ruangan Permaisuri.
Tibanya Ia di depan pintu kamar Permaisuri, “Ibu, Aku Pangeran Li De Lóng, bisakah ... Aku masuk?”
“Silahkan,” pelayan istana membuka pintunya.
Ia pun langsung memberi hormat kepada Sang Permaisuri.
“Ada apa? Apa perayaannya telah selesai?”
“Hampir selesai, semuanya mabuk! Entahlah Ibu, Mereka benar-benar mabuk. Seharusnya Ibu tak perlu merayakannya, lagi pula ... Aku tak meminta hal itu.”
“Kalau begitu ... apa yang Kau inginkan sekarang? Ayo katakanlah, sepertinya ... Pangeran tampan ini terlihat menginginkan hal yang lainnya,” kembali Permaisuri itu tersenyum.
Dengan sedikit tersipu malu, Pangeran Li De Lóng memberanikan dirinya untuk mengajukan permintaan.
“Ibu, bisakah ... Aku meminta seorang Adik perempuan darimu?”
“Mengapa meminta hal itu? Bukankah ... Kau juga memiliki seorang Adik perempuan dari Ibu Selir?”
“Iya Ibu, Aku tahu soal itu, hanya saja ... Li Yōuměi tak menyukai luar Istana, jadi agak sulit mengajaknya jalan-jalan, lagi pula ... Ibu Selir pasti tidak akan mengizinkannya.”
“Baiklah kalau begitu, jika Adik Perempuan itu lahir, Kaulah yang harus bertanggung jawab untuk menjaganya, bagaimana? Apa Kau setuju?”
“Iya, Ibu baik-baik saja, hanya butuh istirahat saja.”
“Baiklah, kalau begitu Aku permisi sekarang, Ibu istirahatlah,” kembali Ia membungkuk dan meninggalkan ruangan.
Kembali berjalan melewati koridor istana, tak sengaja Ia mendengar percakapan dari pelayan istana yang menceritakan soal kehamilan Permaisuri, dengan rasa penasaran Pangeran Li De Lóng kembali menemui Permaisuri, saat berada di depan pintu para pelayan Istana melarangnya untuk masuk.
“Maafkan Kami Pangeran, Permaisuri sedang beristirahat, Beliau memberi pesan agar tak ada lagi yang di ijin kan masuk saat sedang beristirahat, Kami hanya menjalankan tugas, mohon maafkan Kami.”
Pangeran Li De Lóng tak lagi merespons perkataan pelayan itu dan kembali lagi menuju Paviliun miliknya.
“Aneh sekali, apa ... hanya Aku saja yang tidak mengetahui hal ini? Jika itu benar, berarti ... semuanya sengaja menyembunyikannya. Baiklah, mungkin ini sudah jadi keinginan Ibu,” gumamnya dalam hati.
Kesibukan membuat Pangeran Li De Lóng menjadi sulit untuk berkunjung ke Istana, hingga akhir musim dingin Ia masih saja di sibukkan dengan urusan kerajaan.
**
Musim pun tak terasa telah berganti, Permaisuri yang usia kandungannya kini telah mencapai enam bulan mulai merasa kesakitan, dengan segera Tabib Istana kini terlihat sibuk menangani Permaisuri, karena masa kandungannya yang terbilang belum mencukupi waktu kelahiran membuat Kaisar sangat khawatir, karena akan mengancam kehidupan seorang Ibu dan Juga anak yang di kandungnya, tetapi berkat Para Tabib yang Profesional semua proses yang penuh ketegangan itu berhasil dilalui.
Pangeran Kedua yang juga mendapat informasi dari pengawalnya itu, segera bergegas menuju istana, saat tiba di istana, kegelisahan terlihat jelas di wajahnya, menanti proses kelahiran sang adik dan akhirnya hal yang di nantikan tiba. Sang Permaisuri telah melahirkan Seorang Putri dengan selamat, semua yang menantikan kembali lega.
Permaisuri yang juga telah bersama Kaisar kini mengizinkan Pangeran Li De Lóng masuk, dengan rasa bahagia yang tak terhingga Ia segera menggendong Adik perempuannya itu.
“Berikan Ia nama, Pangeran Li De Lóng,” kata Permaisuri di sertai anggukan Kaisar yang menyetujui permintaan istrinya.
“Baiklah, Aku akan memberinya nama Yi Lan, karena Ia adalah sebuah hadiah yang sangat cantik seperti bunga,” semua pun menyetujuinya.
Awal Musim Semi, kelahiran Putri Yi Lan seiring dengan mekarnya Bunga Persik, seolah memberi kesan baik untuk kehidupannya.
Setiap Anggota Keluarga Istana yang lahir sudah tentu tak lepas dari ramalan yang juga merupakan bagian dari kerajaan.
Putri Yi Lan di ramalkan akan berumur pendek, dan akan sakit-sakitan jika Ia berada bersama Permaisuri, Putri Yi Lan hanya akan baik keadaannya jika selalu bersama Pangeran Li De Lóng, untuk itu akan lebih baik jika Sang Permaisuri tak selalu berada di sisinya.
Hal yang paling mengesankan adalah Putri Yi Lan akan membuat Kerajaan terus berjaya selama masa kehidupannya, menjaga kehidupannya akan sama dengan mempertahankan Kerajaan itu sendiri.
Ramalan yang membuat kesedihan tersendiri oleh Permaisuri, akan tetapi sedikit lega karena yang mampu menjaga Putrinya tak lain adalah anaknya sendiri.
Rutinitas Pangeran Kedua pun bertambah, untung saja Pengawalnya mengambil alih sebagian tugas, terus bersama Permaisuri bahkan harus memilih tinggal di Istana sementara waktu, menunggu Putri Yi Lan sampai kuat untuk berjalan.
Seiring berjalannya waktu, dengan penuh kesabaran dan kasih sayang merawat Sang Putri, tak terasa kini telah berlari sambil tertawa ceria, di temani kakak kedua yang selalu ada di dekatnya, menemaninya bermain hingga tertidur lelap dalam pelukannya.
Semua keceriaan yang begitu membuat aura kedamaian di dalam istana, hanya bisa berharap Putri Yi Lan akan baik-baik saja, selanjutnya tak akan pernah tahu meski hanya sekedar menebaknya.