The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 11. Racun atau Penawarnya



Kehidupan memang tak bisa ditebak, akan menjadi salah ketika harus menentangnya, saat suatu masalah perlahan mulai mendekat anggaplah hanya sebuah mimpi, itu satu-satunya cara yang tepat untuk lari dari masalah, menganggapnya tak ada meski sedang melewatinya.


Di tengah perjalanan masih terasa aura kegelisahan, meskipun genggaman masih berada di dekatnya, melihat tingkahnya yang polos seolah mengiris hati, ingin menentang langit dengan segala yang terlihat, mengapa harus dia, ungkapan yang terus saja terulang.


Táohuā, saat di perjalanan untuk kembali, dia menaiki benteng penghalang tangga, melangkahnya perlahan tanpa kenal takut karena dia tahu Liánhuā akan terus menjaganya. Bukan hanya sekali dia melakukannya, bahkan saat menjalankan tugas dia meminta berjalan di tepi jurang yang terjal, Liánhuā terus mengikuti maunya dan terus menjaganya dalam genggaman.


Hal yang terbiasa dia lakukan dan meyakini kehidupannya di tangan orang lain yang membuat Liánhuā semakin ragu untuk melepasnya meski hanya sesaat.


“Táohuā, bisakah Kau berjanji padaku untuk satu hal?” tanya Liánhuā memulai perbincangan.


“Katakanlah,” jawab Táohuā sambil terus berjalan melewati benteng.


“Berjanjilah jangan melakukan hal bodoh seperti ini saat tidak bersamaku,” kata Liánhuā berharap janjinya akan terus di ingat meski suatu saat ingatannya akan hilang saat menjalankan tugas.


“Liánhuā, di mana pun Aku berada bukankah akan selalu bersamamu? Mengapa harus membuat janji yang aneh seperti ini?” Táohuā kini mulai bingung dengan tingkah pasangannya.


“Kumohon berjanjilah saja, mengapa susah sekali hanya untuk berjanji.”


Taohua mulai turun dari benteng tepian tangga dengan di bantu Liánhuā, seakan konsentrasinya terganggu dengan janji aneh yang dibuat Liánhuā.


“Baiklah, Aku berjanji, apa Kau merasa senang sekarang? Aku akan melanggarnya kalau saja melihatmu sengaja membuat alasan ini untuk bersama Wanita lain, apa kau mengerti?”


“Apa Aku pernah memiliki kasus denganmu untuk hal seperti ini? Tidak pernah bukan?”


“Bukan tidak pernah, tapi ... belum pernah, sudahlah ini akan jadi perdebatan yang aneh, Kau juga sangat aneh akhir-akhir ini bahkan memaksaku untuk berjanji tentang hal yang sepele, hentikan semuanya Aku merasa tidak nyaman dengan keanehanmu saat ini,” kata taohu yang mulai lelah dengan jutaan rahasia yang tidak bisa dia ketahui.


“Táohuā, bisakah Kita pergi ke Taman Bunga Persik sebentar saja? bukankah ... Kau bilang Kita akan ke sana setelah dari perjamuan?”


“Baiklah, tapi bisakah Kau tak terlihat cemas kali ini?”


Liánhuā menganggukkan kepala untuk menyetujui perkataan Táohuā.


Setibanya di sana mereka pun duduk di atas batu tepat di bawah Pohon Bunga Persik, seperti terlihat nyaman karena tak hanya sekali mereka datangi tempat tak berpenghuni ini, satu-satunya tanaman yang tumbuh hanyalah Bunga Persik.


Táohuā mulai menyandarkan kepalanya ke bahu Liánhuā, seakan ingin melepas pikiran yang melelahkan baginya, karena penuh dengan pertanyaan yang tak akan ada yang mampu menjawabnya.


“Liánhuā, akankah Kita terus bersama?” Tanya Táohuā yang tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya.


“Mengapa Kau menanyakan hal itu kepadaku? bagiku apa yang Kau inginkan Aku pun menginginkannya, jika suatu saat tak bersama, Aku akan melakukan hal apapun untuk bisa bersama, meski pun itu harus melanggar Peraturan Langit” kata Liánhuā yang kini mengingat rencana baru yang begitu menguras perasaannya.


Mereka pun mulai berdiri dan berjalan sambil melihat-lihat Bunga Persik, masih tetap dalam perbincangan.


“Táohuā, ini akan menjadi keputusan akhir, semuanya tergantung padamu, Kau sudah tahu bukan? Apa yang Kau inginkan Aku akan menginginkannya juga, tapi ini jelas bukanlah permainan, Kau harus memikirkannya baik-baik, Aku tak bisa menjelaskan semuanya kepadamu karena ini jelas rahasia yang sungguh membebaniku, pilihlah dengan tepat agar Aku bisa mengambil keputusan, apapun yang terjadi Kita akan melewatinya bersama,” kata Liánhuā yang kini mulai tak bisa menahan perasaannya.


“Apa maksudmu? Aku jelas tak mengerti, jangan membuat kesalahan karena hanya ingin melindungiku, apa ini yang menjadi masalahnya? benarkah begitu?” Táohuā semakin terlihat kesal seolah semua penuh rahasia.


Liánhuā hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Táohuā, dia malah mengarahkan genggamannya itu ke Pohon Bunga Persik.


“Ini adalah Bunga Persik Abadi, sekali memetik Kau hanya bisa memilih Racun atau Penawarnya, pikirkanlah sebelum mengambil keputusan, ini adalah tugas selanjutnya apapun yang menjadi keinginanmu, Aku akan menurutinya, seperti yang Aku jelaskan tadi meskipun Aku harus menentang Langit untuk keputusan yang Kau ambil, Aku hanya ingin bersamamu, jadi kumohon pikirkanlah dengan baik,” kata Liánhuā yang mulai tak terarah dengan keputusan rencana awal.


Táohuā mulai menatap Bunga Persik itu, marah, benci, sedih, kacau semua perasaan itu berkecamuk dalam dirinya, dia seolah dilema dengan pilihan yang harus di ambilnya.


Táohuā kini mulai memandangi Liánhuā dengan penuh kemarahan, tetapi jelas dalam hatinya tak ingin menyalahkan pasangannya itu.


Tak terasa air mata mulai menetes di pipinya seakan menjelaskan perasaannya saat ini, dia pun mulai berkata.


“Liánhuā, dengarkan dengan jelas perkataanku, jika hanya karena keputusan ini menjadikan dirimu buruk, Aku tak akan mengambilnya, dan jika Kau memaksa, Aku tetap akan melakukannya, Aku Genggamanmu itu adalah Takdir, meskipun tak bersama tetap akan meyakini dirimu sebagai Takdir.”


Táohuā mulai memetik Bunga Persik, masih dengan tangisan dia memandangi Bunga Persik yang sekarang berada di tangannya dan mengingat perkataan Liánhuā Racun atau Penawarnya, dia kembali memandangi pasangannya itu dengan tangisan seolah tak percaya akan melakukannya, Liánhuā hanya bisa diam menunggu keputusan genggamannya.


Tiba-tiba hal yang tak terduga terjadi Táohuā tak memilih keduanya melainkan membuang bunga itu. Dia perlahan mundur menjauhi Liánhuā dan berkata dengan sangat lantang.


“Aku Táohuā, bersedia menerima Tugas Langit apapun keputusannya.”


Liánhuā yang mendengarnya tak bisa berbuat apapun, air mata yang sejak tadi di tahannya kini jelas tak terbendung lagi, dia hanya bisa menatap Táohuā dari kejauhan karena tak bisa lagi mendekatinya, semua karena keputusan yang di ambil Táohuā membuatnya tak bisa melangkah kearahnya.


“Liánhuā, Aku akan mengingat janji itu, jangan menghawatirkanku Kau hanya perlu menungguku, Aku tetaplah Genggamanmu jangan lupakan itu,” kata terakhir Táohuā sambil tersenyum sebelum berbalik arah meninggalkannya.


Táohuā perlahan menghilang di tengah kabut yang tak jelas dari mana asalnya, semua jelas terencana.


“Táohuā ...” teriak Liánhuā yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Baiklah, Aku menerima keputusanmu, Aku akan menunggu, selama apapun itu tetap akan menunggumu.”


Liánhuā mulai berbalik arah untuk kembali, dia mulai mencoba menenangkan hatinya dan melupakan keegoisan yang dia perbuat tadi.


Menentang langit itu bukanlah cara yang benar, Táohuā jelas telah menyelamatkannya dari jiwa sesat yang sempat terlintas dalam pikirannya.