
“Lalu bagaimana denganmu? Bukan, maksudku...Siapa Namamu?” Tanya Xiǎo Húlí
“Aku Yín Gōng, panggil Aku Yín Gōng, oh ya ... sudah mau gelap, apa Kau mau tinggal disini? Jika tidak ikutlah bersamaku.”
“Benarkah itu? Aku bisa ikut bersamamu? Ah ... baiklah terima kasih”
Sepanjang perjalanan menikmati pemandangan, menaiki kuda bersama dengan begitu santai, seakan tak ingin melewatkan momen kebersamaan.
Setiap musim melaluinya bersama, hingga lupa untuk kembali. Hidup penuh kejutan, tak ada yang bisa menerka masalah apa yang akan terjadi setelahnya.
Yín Gōng dan Xiǎo Húlí memilih untuk tinggal bersama di rumah yang amat sederhana yang berada tak jauh dari tepi sungai. Mereka pun mulai mengikat janji layaknya Sepasang Kekasih.
Setiap menjalani tugas, Yín Gōng selalu meninggalkan Xiǎo Húlí, dan terus mengingatkan Xiǎo Húlí agar tak pergi ke mana pun sampai dia kembali, meski ceroboh Xiǎo Húlí adalah gadis yang selalu menepati janjinya, dia akan selalu menanti Yín Gōng meski melewati setiap musim dengan kesendirian, dia selalu yakin Yín Gōng akan kembali untuknya.
Yín Gōng sebenarnya Pria yang baik, hanya saja kesalahpahaman dan kehilangan yang membuat dirinya murka.
Yín Gōng merupakan pengawal setia dari kKetua Sekte Tulang Putih yang tidak lain adalah Liánhuā, jadi bisa di bayangkan seberapa sibuk dirinya, Sampai suatu saat terjadi masalah di dalamnya.
Pagi itu entah mengapa perasaan Yín Gōng tak tenang, hatinya dalam keraguan saat akan meninggalkan Xiǎo Húlí, kali ini dia selalu mengingatkan Xiǎo Húlí untuk tetap selalu berada dirumah.
“Xiǎo Húlí, kumohon untuk tetap mengingat perkataanku, jangan pernah pergi kemana pun, tetaplah berada di rumah, Aku akan segera menemuimu,” kata Yín Gōng dengan perasaan penuh kekhawatiran .
“Yín Gōng, Aku bahkan tak bisa menghitung lagi, entah berapa kali Kau mengingatkan hal itu kepadaku, ada apa dengan dirimu kali ini? Sepertinya ... Kau terlihat gelisah, tenanglah Kau tak perlu mengkhawatirkanku, ini bukan yang pertama kali bahkan semuanya baik-baik saja sampai Kau kembali.”
Yín Gōng yang sedang berdiri tepat di depan Xiǎo Húlí, terus saja menatapnya seakan tak ingin melangkahkan kaki untuk pergi, dia mulai memeluk Xiǎo Húlí, hal yang selalu dilakukannya sebelum pergi, tetapi kali ini begitu lama dan benar-benar erat seolah ingin menghilangkan kegelisahannya saat ini.
“Yín Gōng, jangan seperti ini, Aku tak bisa bernapas,” kata Xiǎo Húlí seakan memecah keheningan, dia sadar dengan kegelisahan pasangannya. Yín Gōng pun segera melepas pelukannya.
“Yín Gōng, Kau tak perlu gelisah, meskipun membutuhkan waktu lama untuk menantimu, itu tak masalah bagiku, dan Aku akan selalu mengingat pesanmu, pergilah selesaikan tugasmu lalu kembali menemuiku.”
Yín Gōng hanya bisa menganggukkan kepala, dia tak tau harus mengatakan apa, Yín Gōng pun mulai mengecup kening Xiǎo Húlí dan pergi meninggalkannya, semakin jauh dia melangkah kegelisahan semakin membebani pikirannya, tetapi hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi setelahnya, bahkan dia tak mengerti dengan kegelisahan yang dia rasakan.
Keesokan harinya, Iblis Hóng Wūyā dan beberapa Pasukannya telah berada di depan Rumah Yín Gōng dan Xiǎo Húlí, Xiǎo Húlí terlihat bingung saat itu, dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
“Siapa kalian! Ada perlu apa datang kesini!”
Xiǎo Húlí mulai mempersiapkan dirinya, berjaga-jaga jika nanti akan terjadi perlawanan.
Hóng Wūyā tertawa terbahak-bahak dan terlihat begitu mengerikan.
Terjadilah pertempuran hebat, saat itu Xiǎo Húlí yang hanya sendiri harus melawan Sepuluh Pasukan yang telah ahli dalam beladiri, meskipun begitu Dia mampu melawannya, akan tetapi tidak pada Hóng Wūyā, dia benar-benar lawan yang tangguh, tentu saja itu karena dia selalu mencuri kekuatan Para Dewa untuk diserapnya tak terkecuali Xiǎo Húlí.
Tapi itu bukan alasan yang utama, dia sebenarnya menginginkan Yín Gōng untuk menjadi sekutunya, alasan yang jelas terencana, bahkan Xiǎo Húlí tak di izinkan untuk mengetahuinya.
Hóng Wūyā mulai menyerap kekuatan yang di miliki Xiǎo Húlí, gadis itu berteriak kesakitan seakan tubuhnya seperti tersayat dan pada akhirnya dia terkulai lemas tak berdaya.
Pasukan Sekte Bayangan mulai mengangkatnya dan membawa pergi sesuai perintah, Xiǎo Húlí kemudian di tempatkan dalam ruangan bawah tanah yang jelas seperti penjara.
Hóng Wūyā yang masih berada di rumah Yín Gōng kini memulai rencananya, dia membakar rumah itu dan meletakkan tanda pengenal palsu dari Ketua Sekte Tulang Putih, seakan ingin membuat kesalahpahaman kepada keduanya.
Beberapa hari berselang Yín Gōng pun kembali, seakan tak sabar ingin menemui Xiǎo Húlí kekasih yang membuatnya gelisah sepanjang hari. Tetapi sesampainya di sana, dia hanya terdiam menatap rumahnya yang telah menyatu dengan tanah.
Perasaannya kini mulai tak terarah, dia segera mendekati rumahnya, memastikan Xiǎo Húlí apakah masih ada di sana, tetapi yang dia temukan hanyalah tanda pengenal, tanpa berpikir untuk memeriksanya lebih teliti dia pun langsung menuduh bahwa Ketua Sekte Tulang Putih yang melakukannya.
“Xiǎo Húlí ... Xiǎo Húlí ... Xiǎo Húlí ...” teriak Yín Gōng sambil terus mencari kesana kemari, berharap masih bisa menemukan Xiǎo Húlí hingga sampai pada titik keputusasaannya, dia pun hanya bisa terduduk lesu seolah kakinya tak bisa lagi melangkah, Yín Gōng yang terlihat begitu marah kini mulai berteriak sangat kencang seakan melampiaskan perasaannya yang benar-benar kacau.
Suasana menjadi hening, tangisan yang sedari awal telah tak terbendung kini mulai di hapusnya, seluruh pemikirannya di penuhi kebencian yang teramat sangat, Yín Gōng mulai mengumpulkan tenaganya untuk menemui Liánhuā, Ketua Sekte Tulang Putih yang sudah dianggapnya seperti Sahabat.
Tak lama berselang, dia pun mulai menuju Markas Sekte Tulang Putih, dari kejauhan dia mulai memanggil nama Liánhuā dengan suara yang lantang terdengar seperti penuh kemarahan.
Yín Gōng kini telah berada di ruangan, tetapi Liánhuā tak berada disana, dia membuang tanda pengenal Liánhuā yang terbuat dari giok itu hingga pecah, seakan melampiaskan kekesalannya, semua pasukan yang berada di dalamnya kini mulai mencoba melawan Yín Gōng karena telah membuat keonaran di dalamnya, tetapi tetap saja Yín Gōng mampu melawannya. Setelah puas dengan pelampiasannya dia pun meninggalkan Markas Sekte Tulang Putih, sambil meninggalkan pesan bahwa dirinya bukan lagi Anggota Sekte Tulang Putih.
Sepanjang perjalanan Yín Gōng mulai memikirkan cara untuk membalas dendam kepada Ketua Sekte tak terkecuali seluruh yang ada di dalamnya. Hingga pada akhirnya dia pun memilih untuk bergabung dengan Sekte Bayangan.
Jelas rencana yang matang bagi Iblis Hóng Wūyā, senyumannya merekah saat tahu Yín Gōng kini akan memasuki Markas Sekte Bayangan.
Saat akan memasuki ruangan, Pasukan Hóng wūyā mulai menghadangnya, jelas itu hal yang akan terjadi karena mereka tau Yín Gōng adalah Anggota dari Sekte Tulang Putih, sehingga mereka tetap waspada.
Yín Gōng pun tak melakukan perlawanan, dia seolah yakin bahwa Iblis Hóng Wūyā akan mengizinkannya masuk. Benar juga dugaannya, tiba-tiba terdengar suara bergema memenuhi seluruh ruangan.
“Biarkan Dia masuk,” kata Hóng Wūyā dari dalam ruangan utama.
Para pasukannya pun mulai membiarkan Yín Gōng masuk menuju ruangan utama milik Sekte Bayangan. Hóng Wūyā kini mulai bermain dalam alur rencananya, dia pun berpura-pura ingin tahu maksud dan tujuannya datang ke Markas Sekte Bayangan.
Tetapi tiba-tiba Yín Gōng mulai merasa aneh saat berada di dalam Markas Sekte Bayangan.