
Perbincangan di Kedai makan, semuanya membahas strategi militer kecuali Yi Lan yang hanya asyik menikmati buah anggur. Bosan, kata yang bisa di tebak dari wajah Yi Lan saat ini, semua karena pembicaraan yang selalu menggunakan kata perang, "Basa-basi konyol! Bahkan Mereka tak berani mengumbar strateginya secara utuh. Pangeran Utara ini contohnya, Ia bahkan terlalu teliti dalam menggunakan kalimatnya. Kakak Pertama, Kedua, dan Keempat sibuk menyimak, tapi Kakak Ketiga ku sibuk menjebak setiap kalimat yang Pangeran Utara itu ucapkan. Hah, Kakak ketiga ini bahkan di kedai makan saja Dia melakukan peperangan. Lantas Aku harus menanti kapan selesainya perbincangan yang membosankan ini, apa tak ada satupun yang menyadari, bahwa ada anak gadis di antara Mereka? Ah,membuatku kesal saja," Ucapnya dalam hati sambil terus memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya. Pangeran Li De Lóng yang kini menyadari bahwa Yi Lan hanya terus memakan buah anggur tanpa menghiraukan makanan lain di hadapannya, dengan segera menjauhkan piring buah angur dan meletakkan makanan lainnya di hadapan Yi Lan. Wajah yang tadi terlihat bosan sekarang bertambah kesal, Yi Lan terpaksa memakan makanan lainnya, sambil terus melirik buah anggur yang ada di hadapan Kakak Kedua, Ke Lima Pria itu masih serius dalam perbincangan sambil menikmati hidangan.
Tiba waktunya kembali, Pangeran Jīnlóng dan juga Pangeran Utara berpisah dengan lainnya untuk kembali ke Istana, sementara Ketiga Pangeran dan juga Yi Lan, kembali ke Paviliun milik Pangeran Shuǐlóng. Saling membungkuk dan kembali, awal ketegangan tak lama menghampiri.
***
Saat sampai di Paviliun Pangeran Shuǐlóng, Mereka kembali mendapat kabar dari Istana, dimana akan ada Perjamuan untuk merayakan hari lahir Ibu Permaisuri.
"Hah, mengapa tak mengatakan sejak kemarin? Aku bahkan tak mengetahui hari lahir Ibuku. Buruk sekali," kata Yi Lan yang bingung harus menghadiahkan apa kepada ibunya.
"Maaf Putri, rencana ini sangat mendadak karena Nyonya Selir yang mengusulkan kepada Kaisar sekaligus menyambut Pangeran Utara," kata Kasim Istana.
"Baiklah, sampaikan Kami akan datang," sambung Pangeran Li De Lóng.
Kasim pun segera membungkuk dan berbalik untuk kembali ke Istana.
"Ibu Selir yang merencanakannya? Sepertinya Dia senang melakukan permainan baru, baiklah Kita lihat apa yang sebenarnya Dia inginkan dalam perjamuan itu," kata Pangeran Lóng Huǒ yang mulai menaruh curiga.
"Ini bukan tanpa alasan, Ibu Selir sengaja mengambil kesempatan, Aku bahkan tak mengetahui maksud perayaan ini. Sudah jelas Kaisar tahu bahwa Ibu tak menyukai Perayaan, mengapa dengan mudahnya Kaisar menyetujui tanpa meminta izin Ibu terlebih dahulu?" sambung Pangeran Li De Lòng.
"Ah ... Kau juga kan tahu Kakak, Ular Betina itu sangat pandai mengambil hati Kaisar. Tapi apapun itu, jika Ia sampai melukai Adik Perempuanku, Aku akan membunuhnya di hadapan Kaisar," jawab Pangeran Lóng Huǒ menegaskan.
"Kita lihat keadaan besok seperti apa, hanya menebak saja tak akan menghasilkan jawaban. Apapun yang Ibu Selir lakukan Kita tetap harus masuk dalam permainannya," kata Pangeran Shuǐlóng.
"Mengapa Kalian semua sibuk dengan siasat Ibu Selir? Apa Kakak sudah memikirkan hadiah apa untuk Ibu? Ayolah ... mari memikirkan hadiahnya lebih dulu."
"Yi Lan, berikan hadiah ini untuk Ibu, Kakak membelinya saat jalan-jalan tadi. Hanya gelang giok tapi sepertinya sangat cocok untuk Ibu," sambil memberikan bingkisan kepada Yi Lan.
Kembali Pangeran Li De Lóng melanjutkan perkataannya, "Sebenarnya Ibu tak begitu menginginkan hadiah, jika semua Anaknya hadir itu akan jadi hadiah berharga baginya."
"Baiklah hari akan gelap ada baiknya Kita segera kembali. Kakak, Aku pergi dulu. Sampai bertemu besok," kata Pangeran Lóng Huǒ sambil membungkuk untuk berpamitan.
Begitupun dengan Pangeran Li De Lóng dan Yi Lan yang juga ikut berpamitan.
***
Tiba di Paviliun Pangetan Kedua, telah menunggu di depannya, Pengawal Huáng Lín sambil membawa sebuah kotak.
"Huáng Lín, mengapa kesini? Apa Pangeran Jīnlóng menitipkan pesan?" tanya Pangeran Li De Lòng
"Huáng Lín undur diri," lanjutnya sambil membungkuk.
"Baiklah, jaga dirimu."
Yi Lan segera menarik Kakak Keduanya untuk masuk ke dalam rumah, Ia begitu penasaran dengan bingkisan yang di berikan oleh Kakak Keempatnya.
"Ayo Kakak cepat masuk, Aku ingin segera melihatnya."
"Baiklah, jangan seperti itu, perbaiki langkahmu."
Yi Lan segera membuka kotak itu, dari wajahnya terlihat Ia begitu menyukai bingkisan yang di berikan oleh Kakak Keempatnya.
"Wah ... Aku pikir, Aku akan menggunakan baju lama, ternyata Kakak Keempat sudah menyiapkan juga untukku," sambil terus memeluk baju hanfu khas Istana dengan balutan sutra merah muda yang lembut, warna yang paling Ia sukai.
"Yi Lan, ayo cepat tidur. Kita akan berangkat pagi, jika Kau sampai terlambat bangun, Kakak akan meninggalkanmu sendiri di Paviliun."
"Baiklah Kakak, Kau tak perlu mengancamku, itu tidak akan berhasil. Aku bahkan tahu seberapa besar kasih sayang kalian kepadaku. Hah ... Aku benar-benar Seorang Putri sekarang," sambil membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata, berharap mimpi indah menemani dalam setiap tidurnya.
Pangeran Li De Lòng hanya tersenyum mendengar perkataan Yi Lan yang penuh dengan keyakinan itu.
Malam yang indah, tak terhitung seberapa banyak bintang menghiasi langit saat itu. Ingatan dalam nyata tak pernah pudar, mimpi yang datang tak pernah terlupakan. Kehangatan dekapan seperti selimut hati, menjaganya agar tetap terlelap, hingga mentari menyambut kembali.
"Kakak ...." teriakan khasnya menyambut pagi.
"Bangunlah, Kita akan terlambat jika Kau terus saja menikmati kasurmu. Bukankah Kau tak sabar mencoba baju yang di berikan Kakak Keempat?"
Yi Lan segera beranjak dari tempat tidurnya, mempersiapkan dirinya agar terlihat rapi, kali ini Ia meminta Kakak Keduanya untuk merapikan rambutnya.
"Kakak, bisakah Kau merapikan rambutku? Aku harus terlihat sangat rapi, jika dandananku seperti Pendekar bukankah ... akan membuat Ibu malu?"
"Baiklah, Duduklah yang manis."
Setelah selesai bersiap, mereka pun berangkat menaiki kereta bersama Pengawal Dìbàng yang juga telah siap untuk mengemudi Kereta.
Perjalanan yang cukup menyita waktu, sesekali mengubah posisi duduk, Yi Lan hanya bisa membayangkan akan segera sampai jika Ia sudah bisa berkuda, jadi tak perlu membuat perjalanan yang lama seperti saat ini. Yi Lan menyibukkan dirinya dengan melanjutkan rajutan yang sering di buatnya.
Tak terasa mereka telah memasuki pintu gerbang Istana. Yi Lan menghentikan rajutannya, dan segera bersiap untuk turun. Terlihat Pangeran Jīnlóng yang telah menanti kedatangan Adiknya, berdiri bersama Pangeran Utara yang juga ikut menanti Ketiga Pangeran yang akan hadir dalam perayaan di Istana.