
Sebelumnya ...
Telah memasuki Istana Kerajaan, Pangeran Utara bernama Khagan Běiduān bersama Seorang Pengawalnya. Langkahnya yang tegap, berlenggang bebas memasuki Ruang Pertemuan yang di antar oleh beberapa Prajurit penjaga Istana, dimana semua Anggota Kerajaan telah menantinya di sana, hanya saja Ketiga Pangeran Kerajaan tak hadir saat menyambut kedatangan Pangeran Utara.
Pangeran Utara menyapa Kaisar dengan ucapan khasnya, "Salam, Yang Mulia. Saya Běiduān, Pangeran dari Kerajaan Utara."
"Terima Kasih telah bersedia datang di Kerajaan ini. Bagaimana perjalanannya, apakah menyenangkan?" dengan senyum bahagia memperlihatkan kesan baik kepada Pangeran Utara.
"Perjalanannya sangat menyenangkan Yang Mulia, bahkan dari memasuki perbatasan hingga sampai ke Istana Kami sangat merasa nyaman," jawab Běiduān sedikit memuji.
"Baiklah, terima kasih atas pujian Anda, Pangeran Běiduān, semoga Kau selalu nyaman berada di Kerajaan Kami. Untuk selebihnya, Kau bisa bergabung bersama Pangeran Jīnlóng dan juga yang lainnya. Mereka berada dalam bagian kemiliteran, tentu saja sama dengan keahlian Pangeran Běiduān, yang sangat ahli dalam bidang itu. Aku mempersilahkan jika ingin melihat-lihat suasana Kerajaan Kami. Dan Kau Pangeran Jīnlóng, temani Pangeran Utara ini kemanapun Ia akan berkunjung."
"Terima kasih Yang Mulia," sembari membungkuk.
Pangeran Jīnlóng menghampiri Běiduān dan mempersilahkannya untuk berjalan lebih dulu, "Maaf telah merepotkanmu Pangeran Jīnlóng," sambil memberi hormat terlebih dahulu. Dan Pangeran Keempat itu pun membalasnya,"Jangan sungkan, Kau adalah bagian dari kemiliteran jadi sudah tentu harus Aku yang menemani kegiatanmu selama disini," kembali Ia mempersilahkan Pangeran utara itu melangkah lebih dulu, dan tanpa sungkan lagi Ia mengikuti arahan dari Pangeran Jīnlóng.
Di sisi lainnya, Pangeran Kàn Yún yang terus memandang sinis pada Pangeran Keempat, bahkan tak ada ucapan terima kasih dari Seorang Kaisar untuk dirinya, yang telah berjuang begitu keras untuk melakukan Misi Kerajaan. Semakin nampak kekesalan di wajahnya, tak lama Ia membungkuk di hadapan Kaisar dan berkata, "Maaf Yang Mulia, Pangeran Kàn Yún undur diri," berharap pujian dan ingatan bagus dari Kaisar.
"Baiklah, silahkan Pangeran Kàn Yún," jawab Kaisar tanpa ucapan lain lagi, meski Ia membungkuk agak lama tetapi sia-sia. Ia pun berbalik dengan kemarahan yang tertahan hingga wajahnya memerah terbakar api amarah.
***
Yi Lan masih menatap aneh Pria yang berdiri di samping Kakak Keempatnya, " Aneh sekali Pria ini, penampilannya terlihat berbeda. Sebenarnya ... dari mana Dia berasal," gumamnya dalam hati sambil terus memperhatikan Pemuda itu dari ujung kaki hingga kepalanya.
"Yi Lan?" tegur Pangeran Jīnlóng.
"Ah, maaf Kakak, hanya saja ... Dia terlihat aneh," kembali Ia mendekat dan berbisik kepada Kakak Keempatnya, "Kakak, apa Kau yakin Dia Orang baik? Aku lebih memilih Pengawal Huáng Lín bersamamu di bandingkan ...." tak sempat Ia melanjutkan, Pangeran Keempat langsung memotong pembicaraannya.
"Yi Lan, ini adalah Pangeran Běiduān dari Kerajaan Utara. Dan Pangeran Běiduān, ini adalah Adik paling bungsu Kami, Putri Yi Lan."
Mereka berdua saling membungkuk memberi hormat, kembali Pangeran Jīnlóng berkata kepada Adiknya, "Sudah jelas sekarang Anak manis? Ayo Kita masuk, Kau jangan terlalu lama duduk di luar."
Yi Lan hanya menganggukan kepala dan mengikuti Kakak Keempatnya masuk. Terjadi perbincangan yang tidak terlalu serius di dalamnya, hanya perkenalan dan tak membahas masalah militer sama sekali, itu karena baru hari kedua bagi Pangeran Utara berada di luar Kerajaannya. Pandangan Pangeran Utara itu sesekali terfokus pada sosok Yi Lan yang tak memperdulikan kehadirannya, sehingga membuat rasa penasaran semakin bermain di hati dan pikiran Pangeran Utara itu.
Yi Lan jelas bukanlah Seorang Putri yang dengan mudah mempercayai Seseorang apalagi terbilang baru di lihatnya, ajaran keras dan perhatian penuh dari Keempat Kakaknya di anggap telah lebih dari cukup, sehingga tak memperdulikan lagi yang lainnya. Ia memilih duduk di sudut ruangan dekat jendela yang terbuka lebar sambil sibuk memperbaiki rajutan yang rusak karena ulah Kakak Ketiganya, tetapi pendengarannya terus terpasang menyimak setiap pembicaraan, seperti itulah cara Ia mempelajari sifat seseorang dan situasi yang akan terjadi selanjutnya. Kelebihannya itu sering kali tak di sadari oleh Kakaknya, dan akan menyadarinya jika semua telah selesai.
***
Hari Keempat dari Pangeran Utara ada di wilayah Kerajaan Keempat Pangeran itu. Mereka telah mengatur jadwal untuk berkunjung ke Paviliun tempat Kakak Pertama, karena hanya Pangeran Pertama-lah yang belum Ia temui. Mereka pergi bersama, tentunya bersama Putri yang memiliki jiwa pendekar, Yi Lan. Mengunjungi Kakak Pertama adalah hal yang paling Ia senangi, karena pusat perdagangan dekat Paviliun Pangeran Pertama sangat ramai dan tentu saja barangnya sangat bagus, Permen yang Ia gemari sejak kecil tak pernah berubah rasanya hingga sekarang. Sesampainya di Paviliun hanya berkenalan sesaat bersama Pangeran dingin yang tak banyak bicara dan langsung menuju kepusat perdagangan untuk makan bersama menyambut tamu baru di wilayah Kerajaan Mereka.
"Dimana Yi Lan?" Tanya Pangeran Ketiga yang juga baru disadari oleh Ketiga Kakaknya. Mereka mulai menengok kesana-kemari, dan hanya Pangeran Kedua-lah yang mampu menemukannya, Ia sangat hafal gerak Yi Lan meski dari kejauhan.
"Dia belum terlalu jauh," kata Pangeran Li De Lòng sambil menunjuk tempat Yi Lan berdiri.
Masih terus terjadi perbincangan ringan, akan tetapi Pangeran Lóng Huǒ lebih memilih melihat pernak-pernik untuk di berikan kepada Yi Lan, menebus kesalahannya saat itu. Masih sibuk memilih dan akhirnya pilihannya jatuh pada gelang lonceng kecil yang bunyinya terdengar berbeda dari biasa lonceng pada umumnya. Ia sesekali membunyikannya dan berlari menuju Yi Lan untuk memberikan hadiah itu kepadanya.
"Yi Lan, apa yang sedang Kau cari? Kesini duduklah sebentar," sambil menarik Yi Lan dan memaksanya duduk di bangku seorang pedagang yang di pinjam oleh Kakak Ketiganya.
"Ada apa Kakak? Kau aneh sekali," degan tatapan bingung ke arah Kakak Ketiganya.
Pangeran Lóng Huǒ tak menjawab pertanyaan Yi Lan, Ia langsung memasang gelang lonceng itu di salah satu tangan dan kaki Yi Lan, kemudian Ia membunyikannya dan mulai berkata, "Ini hadiah dariku, Kau harus tetap memakainya dan jangan melepasnya sama sekali. Jika Kau tersesat ini akan mempermudah Keempat Kakakmu untuk menemukanmu, apa Kau mengerti Pendekar?" kata Pangeran Ketiga sambil mengacak pelan rambut Yi Lan.
"Terima kasih Kakak, Aku menyukainya. Tapi ... apakah ini benar-benar darimu?
"Tentu saja, Aku baru saja membelinya. Ah, Anak ini masih saja meragukanku."
"Itu karena Kakak terus saja mengambil kesempatan dari pemberian Kakak Pertama kepadaku."
"He ... itu hanya kebetulan saja." kembali Ia memegang tangan Yi Lan dan mengajaknya melihat barang dagangan lainnya. Sambil terus bercanda hingga tawa lebar, tak menghiraukan lagi setiap mata memandang ke arah mereka.
Berada sedikit jauh dari Ketiga Kakaknya dan juga Pangeran Utara, Yi Lan kembali meminta sesuatu kepada Pangeran Lóng Huǒ, "Kakak, bisakah Kau mengajariku berkuda? Aku ingin sekali berjalan bersama tanpa harus merepotkan kalian membawa kereta yang lambat itu. Menyebalkan sekali jika harus duduk sendiri didalam sana, dan tak bisa menyimak apa yang kalian bicarakan. Satu hal lagi, Aku adalah Seorang Pendekar sudah tentu harus tahu berkuda, akan memalukan jika Aku tak bisa," sambil memasang wajah memelas kepada Kakak Ketiganya.
"Astaga, wajah itu sangat sesuai dengan alasan yang sengaja di buat panjang oleh Pendekar ini. Baiklah ... apa boleh buat, Aku tak bisa menghindar lagi dengan pandangan seperti itu ke arahku. Tapi ... apakah Kakak Kedua akan mengijinkannya? Aku rasa Kau harus meminta izin kepadanya lebih dulu."
"Ah Kakak, itu akan sulit dan sudah jelas tak akan diizinkan. Bagaimana jika ...."
Tak sempat melanjutkan perkataannya karena Pangeran Kedua memotong Pembicaraan Mereka, "Yi Lan, Lóng Huǒ, Kita akan makan di kedai itu."
"Baik Kakak," jawaban serentak dari Keduanya.
Pangeran Lóng Huǒ kembali berbisik kepada Yi Lan, "Bagaimana jika ... Kita makan dulu," sambil menarik tangan Yi lan menuju Kedai yang di tunjuk Kakak Keduanya tadi.
"Ah, Kakak bukan itu kelanjutannya. Kau menyebalkan sekali, sulit sekali rasanya untuk akur terlalu lama denganmu," jawab Yi Lan kesal sambil dengan pasrah membiarkan tangannya di tarik oleh Kakak Ketiganya.
"Jangan mudah Kesal, Kita bisa bicarakannya nanti."
"Terserah Kau saja Kakak," jawab Yi Lan yang juga merasa lapar ketika telah berada di dalam Kedai makanan.