
Lala yang terlihat seperti habis mengikuti lari maraton itu, perlahan memperbaiki cara bernapasnya.
“Dao, Aku rasa sainganmu sangat berat, Kau ingat Pria yang bernama Suji? Dia pemenang Lomba Syair edisi sebelumnya.”
“Iya, Aku ingat memang ada apa dengannya?”
“Aku dengar ... Dia mendaftarkan dirinya kembali, Aku juga sempat menanyakan kepada temanku mengapa Dia ikut, tapi katanya ... Suji merasa tertantang dengan aturan lomba yang sekarang, bukankah ... itu terlihat sangat sombong? Ah ... ini benar-benar akan melelahkan.”
“Lantas maksudmu ... Aku tak perlu mengikuti lomba itu? Aku mengenali Suji dengan syair yang memang membuat semuanya merasakan jatuh cinta, tapi Aku rasa ... lomba kali ini tak hanya akan membahas hal itu saja, lagian mengapa Kau yang terlihat begitu cemas? Apa Kau juga ingin mendaftar lomba?”
“Apa? Aku? Hah, yang benar saja, Aku hanya ... ingin mengatakan hal ini agar Kau tak cemas lagi saat akan mendaftar.”
“Lala ... apa Kau sadar cara penyampaianmu tadi tak akan membuatku cemas? Kau bahkan sedang menjatuhkan harga diri temanmu ini, seolah perkataanmu tadi mengharuskan Aku untuk tak mengikuti lomba itu, hah ... untung saja Kau temanku.”
“He ... Aku ... tadi hanya panik, jika Aku yang mengikuti lomba itu dan mengetahui lawanku adalah Suji, Aku akan segera mundur.”
“Lala ... Kau mengulangnya lagi.”
“Benarkah? Ah maafkan Aku, Aku hanya bermaksud menyemangatimu.”
“Tapi caramu salah Lala ... jika Kau melakukannya kepada orang lain, pasti Mereka akan memukulimu, hah ... anak ini membuatku kesal saja.”
“Jadi ... apa yang harus Ku lakukan sekarang?”
“Diam, itu akan membuat semuanya baik.”
“Diam? Ah baiklah ....”
Tian yang sejak tadi hanya diam dan terus mendengar percakapan itu kini mulai angkat bicara.
“Jadi ... apa Kau ... akan tetap mengikuti lomba itu?” dengan nada pelan dan sedikit berhati-hati saat menanyakan hal sensitif itu kepada Dao.
“Ah, Kau sama saja, Kalian benar-benar berjodoh,” Kata Dao menumpahkan kekesalannya.
“Bukan seperti itu maksudku ... Kau seharusnya segera mendaftar, jika Kau bersiap Aku akan mendaftarkannya sekarang.”
“Hei, jangan mendesakku seperti itu, Aku bahkan belum memikirkan syairnya, beri Aku waktu, setidaknya ... menunggu perasaanku membaik.”
Tian dan Lala meresponsnya dengan anggukan, seakan telah memahami perasaan Dao yang begitu rumit saat ini. Waktu jam pelajaran berikutnya berlangsung, Lala kembali ke kelasnya begitu pun dengan Tian yang telah duduk di bangkunya.
Dao tetap tak menikmati pelajaran selanjutnya, semakin kesini cara belajarnya semakin buruk, bahkan tak sering masuk kelas saat perasaannya benar-benar kacau.
Dao hanya tertarik dengan acara dokumenter saat ada di kelasnya, meski tak memiliki alur cerita yang jelas tetapi kadang dia tersenyum melihat tingkah setiap orang di balik jendela kelasnya itu.
“Dao, Kau tidak bisa seperti ini terus, semuanya akan berantakan, kadang sangat optimis untuk ikut lomba, tapi terkadang putus asa, kuliahmu juga berantakan, ayo Dao Kau harus kembali,” ungkapnya dalam hati.
Jam pelajaran telah usai, tapi Dao tak menyadarinya, dia masih terus memandangi suasana luar di balik jendela. Dao kembali melihat hal yang aneh, sosok yang juga ada dalam mimpinya, berdiri tepat di taman kampus dengan menggunakan kemeja hitam, tatapannya kosong sambil menatap langit, Dao terus memperhatikannya berharap sosok itu menoleh kearahnya, harapannya ternyata tak sia-sia, dia menoleh ke arah Dao sambil melemparkan senyuman, dao segera berdiri karena tak percaya dengan apa yang di lihatnya, ia bahkan tak tahu harus melakukan apa sekarang, Tian yang melihat tingkah aneh itu mulai menuju ke arah Dao.
“Ada apa denganmu?” tanya Tian yang juga ikut menatap jendela.
Dao tak lagi memperdulikan Tian yang ada di dekatnya, Ia langsung menarik tas dan bergegas berlari menuju taman kampus tempat di mana sosok itu berada. Lala yang akan menuju ke kelas Dao, tiba-tiba di kagetkan dengan situasi yang terlihat aneh, Lala melihat Dao berlari keluar dengan terburu-buru, tanpa berpikir panjang dia pun berlari mengikutinya.
Dao yang telah tiba di taman, tepat di mana sosok itu berdiri, akan tetapi Dao tak menemukan siapa pun di sana, dia tak melihat lagi sosok pria itu, pria yang terus saja di carinya, pria yang benar-benar di nantikan dalam nyata. Sosok itu adalah Liánhuā pria yang selalu ada dalam pikirannya, Dao bahkan yakin telah melihatnya tadi, dia mulai berkeliling di seluruh area taman, berharap masih bisa menemukannya.
“Mengapa secepat itu Dia menghilang? Aku bahkan sambil berlari saat kesini, seharusnya Pria itu masih belum jauh perginya.”
Dao terus mencari, dia bahkan membalikkan dengan paksa setiap mahasiswa yang memakai kemeja hitam.
“Liánhuā?” sambil terus membalikkan badan mereka kearahnya.
“Maaf, Aku sedang mencari Seseorang,” Dao terus saja melakukannya ke semua pria yang ada di taman.
“Liánhuā ... Liánhuā ....” terus memanggilnya dengan sedikit berteriak.
Dao kembali ke tempat pertama pria itu berdiri.
“Aku melihatnya dengan jelas, Pria itu ada disini, Dia bahkan tersenyum padaku, tapi mengapa ... atau mungkin? Ah tapi Aku melihatnya dengan jelas tadi, Aku yakin ini bukan lamunanku.”
Lala pun telah sampai di taman, dengan wajah kebingungan dia pun bertanya, “Dao, ada apa denganmu? Mengapa ... berlari kesini?”
“Ah, bukan apa-apa, Aku hanya melihat Seseorang dan sepertinya Aku mengenalnya.”
“lalu apa Kau menemukannya?”
Dao menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
“Apa Dia Seorang Wanita? Atau ... Seorang Pria?”
Dao kembali menjawabnya dengan anggukan.
“Dao, apa Kau sesulit itu mengatakannya? Bahkan Aku tak tahu Dia Pria atau Wanita dengan anggukanmu itu.”
“Dia Seorang Pria,” kata Dao sambil terus memandangi sekitarnya, berharap masih bisa menemukannya.
“Ah, jadi selama ini yang membuat perasaanmu begitu kacau, ternyata karena Pria itu? Wah temanku ini sedang jatuh cinta rupanya, apakah ... Dia sangat tampan?” tanya Lala penasaran.
“Dia jauh lebih memesona dibandingkan Idolamu itu,” sambil berlalu pergi meninggalkan Lala.
“Hei, tunggu Aku ....” sambil berlari lagi menghampiri Dao yang terus saja berjalan.
"Apakah ... kita masih akan mencari Pria yang Kau kagumi itu? Apa kau mengetahui Namanya?" tanya Lala lagi.
"Tidak! Kita tak perlu mencarinya, Dia hanya ada dalam lamunan saja, Aku tak pernah mengenalnya."
"Apa? lantas apa maksudnya tadi? Kau bahkan terlihat sibuk mencari Pria itu, dan sekarang malah mengatakan Kau tak mengenalnya, jika ada dalam lamunan, mengapa ... Kau berlari seolah Pria itu benar-benar nyata?"
Dao tak merespons semua pertanyaan Lala, dan hanya diam saja sambil terus berjalan leluar kampus. Dalam perjalanan pulang menaiki bus, Dao kembali memikirkan Liánhuā.
“Sepertinya Aku telah melihatnya beberapa kali secara nyata dan tiba-tiba menghilang tapi di mana ya ...? Astaga! bukankah Dia yang ....”