The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 24. Rutinitas Kehidupan



Dao melihat baju Xunzhao penuh cat tembok, kecelakaan kecil yang mengundang tawa, Dao langsung membantu mengangkat barang-barang yang ada di mobilnya, seperti biasa alat seorang desainer memang cukup banyak.


“Tukang cat itu tidak berhati-hati saat memegang catnya, hah, menyebalkan sekali,” kata Xunzhao dengan kesalnya.


“Menurutku ... itu sebaliknya, pasti Kau yang menabrak Tukang cat saat sedang menelepon Pelangganmu, hah, ini sudah sering terjadi, tetap saja Kau masih menyalahkan yang lainnya, meskipun itu benda mati, sudahlah, ayo masuk! Bersihkan Dirimu.”


***


Dao yang kembali ke kamarnya, seperti biasa berbaring lagi di kasurnya memandangi langit-langit kamar, saat sedang memasuki lamunannya, dia di kejutkan dengan teriakan Xunzhao yang sedang memanggilnya.


“Dao ... kemarilah sebentar.”


“Hah, ya ampun ... anak ini, mengapa memanggilku lagi,” gumamnya dalam hati.


“Ya ... sebentar, Aku segera kesana,” sambil beranjak menuju Ruangan Seni milik Xunzhao.


“Ada apa? Bisakah Kau memanggilku dengan lembut lain waktu?”


“Jika tak seperti itu caranya, Kau akan terjebak dalam Lorong Waktu,” jawab Xunzhao sambil tersenyum.


“Xunzhao, apa Kau juga tahu tentang julukan itu? Hah, Aku rasa ... Kau juga tahu julukan lainnya, sosial media memang mempercepat semuanya, ada apa Kau memanggilku?”


“Aku dapat pesanan Baju Pengantin, tetapi karena buru-buru Aku meninggalkan catatan ukurannya di Butik, karena tubuhnya sama denganmu, maka Aku akan mengukurmu sekarang.”


“Baiklah terserah Kau saja,” Xunzhao mulai mengukur dan Dao hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Xunzhao terhadapnya.


“Selesai!” sambil merapikan alat ukurnya.


“Xunzhao, apa Dia seumur denganku? Wah, Aku penasaran seperti apa cantiknya saat memakai pakaian yang Kau buat, apa Kau telah membuat polanya? Bisakah Aku melihatnya?”


“Sepertinya ... seumur, tentu saja akan sangat cantik, tak perlu melihatnya, percuma Kau tak akan mengerti, Kau bisa melihatnya nanti saat telah selesai, Dia juga mengundang Kita ke Acara Pernikahannya.”


“Benarkah itu? Hah, Aku tidak sabar menantinya, Xunzhao, bisakah ... Kau membuatkan baju juga untukku? Baiklah, terima kasih, wah ... Kau memang yang paling baik.”


“kapan Aku menyetujui perkataanmu? Itu terdengar seperti memaksa, baiklah akan Aku buatkan satu untukmu”


“Xunzhao apa Kau tidak lapar?” tanya Dao sambil memegang perutnya.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, “Sepertinya ada yang datang, coba kau lihat,” Dao pun berjalan menuju pintu, saat di buka ternyata pesanannya telah sampai.


“Dengan Nona Dao? Pesanan Anda dua Paket Ayam?”


“Iya, benar sekali, ini uangnya, terima kasih.”


“Terima kasih kembali Nona Dao, Saya permisi dulu,” Dao hanya menganggukkan kepala, dan langsung menutup pintu.


“Siapa yang datang?” tanya Xunzhao penasaran.


“Bukan siapa-siapa, hanya pengantar makanan.”


“Hah, sudah kuduga, Dao ... bahan di kulkas sangat banyak, tapi Kau hanya memesan makanan, sebaiknya Kau rajinlah sedikit.”


“Aku sudah terlanjur memesannya, makanlah ...”


Xunzhao hanya bisa pasrah dan menikmati makanan yang telah di pesannya.


***


Malam yang begitu dingin, hujan bahkan turun begitu derasnya, Xunzhao dan Dao tidur sekamar, itu hal biasa bagi kedua saudara kembar, mereka tak ingin terpisahkan meski hanya sekedar tidur, dari kecil mereka memang terbiasa tidur bersama, hingga sekarang masih tetap di lakukan, tapi kali ini dengan tempat tidur yang berbeda, mereka tak ingin merahasiakan sesuatu, semuanya mereka bicarakan meski sekecil apapun itu tetap mengungkapkannya, itulah mengapa mereka merasa nyaman-nyaman saja karena tak ada yang di tutupi dari keduanya.


Waktu begitu cepat berputar, terasa baru sebentar saja terlelap dalam buaian, tetapi mentari pagi secepat itu telah menyapa.


Dao menarik selimutnya lagi, berharap masih di beri kesempatan lima menit saja untuk bermalas-malasan, jika terlelap lagi itu akan lebih baik baginya.


“Dao ... bangunlah ...” Xunzhao mengawali paginya dengan teriakan kesal, suara yang terdengar seperti bunyi petasan itu membuat Dao menutupi telinganya dengan bantal, seakan ingin mengabaikannya.


“Dao, sepertinya Aku tidak bisa mengantarmu, Aku harus secepatnya ke Butik, Pelanggan setiaku telah menunggu, hei! Cepatlah bangun, Aku sudah menyiapkan sarapan, belajarlah yang baik saat di kampus, jangan sering ke Lorong Waktu, mampirlah ke Butik jika tidak sibuk, Aku akan pulang malam, banyak yang harus Ku selesaikan, Aku berangkat ...”


Dao yang masih berada di kasur empuknya, hanya bisa melambaikan tangan sambil tetap memejamkan matanya, kemudian melanjutkan tidurnya lagi.


Tak lama berselang, saat baru akan terlelap, tiba-tiba bel rumah berbunyi di sertai teriakan nyaring, seolah tamu yang datang telah paham bahwa dia harus melakukan hal itu, agar penghuni rumah tidak terjebak dalam lorong waktu. Tamu itu adalah Lala, pantas saja dia melakukannya.


“Dao ... buka pintunya, ijin kan Aku masuk,” teriak Lala sambil terus menekan bel rumah.


“Hah, ya ampun ... bisakah tidak membuat keributan, Tamu ini benar-benar tidak sopan! Aiyo ... mengapa tak mengizinkan Aku tidur sebentar saja, ” kata Dao yang masih duduk di kasurnya sambil mengumpulkan tenaga untuk berjalan membuka pintu rumahnya.


“Dao, cepat buka pintunya!”


“Iya, tunggu sebentar, hah, Anak ini tak punya etika sama sekali,” sambil bergegas membuka pintu.


“Ada apa? Mengapa kesini? Masuklah ... sopanlah sedikit, Kau sedang bertamu.”


Lala yang telah terbiasa dengan ucapan tak berperasaan dari temannya itu, hanya menanggapinya dengan senyuman dan langsung mencicipi sarapan yang ada di meja makan.


Rumah Dao yang mini malis, dengan tata ruangan yang apik, membiarkan ruang makan berada di dekat ruang tamu tanpa menyekatnya, sehingga ketika akan memasuki rumah akan terlihat jelas makanan apa yang di hidangkan.


“Hei, itu sarapanku.”


“Aku hanya mencicipinya, lagian ini sangat banyak, tak akan mampu kau habiskan sendiri,” Dao hanya bisa pasrah dengan kelakuan temannya, dan mereka pun sarapan bersama.


Setelah selesai, Dao mulai bersiap untuk ke kampus, sambil menunggu, Lala yang kini telah berada di kamar Dao, mulai mencoba alat rias milik temannya itu.


“Dao, cepatlah sedikit, Kita tak punya banyak waktu, perutku sangat kenyang tak mampu lagi mengejar bus.”


“Diamlah! Aku sedang berusaha lebih cepat.”


“Dao, apa Aku sudah terlihat cantik? Hah, Tian pasti akan tergoda dengan kecantikanku.”


Lala bukan satu-satunya gadis yang mengagumi Ketua Tingkat di kelas Dao, jadi itu hal biasa bagi Dao ketika melihat tingkah centil temannya itu.


“Ayo berangkat!” sambil menarik Dao keluar kamar.


Mereka pun mulai menanti datangnya bus di halte tak jauh dari rumah Dao.


“Dao, apa Kau akan mengikuti Lomba Sastra itu?”


“Entahlah Aku belum memikirkannya, pikiranku masih kacau saat ini, lagi pula batas pendaftarannya sampai bulan depan.”


Di sela pembicaraan, Dao terkejut dengan apa yang di lihatnya.


“Astaga! Apa yang baru saja Ku lihat tadi, wah, sulit di percaya, apa Aku sedang bermimpi?”